
Brayan berusaha menggapai sesuatu di belakang kerah jaketnya dengan sebelah tangan. Pemuda itu merasakan sesuatu seperti tangan yang mencengkram. Brayan menoleh ke belakang.
Tatapan David yang tajam membuat pemuda itu salah tingkah. "M a m p u s. Aromanya murka." Brayan hanya berani berkata dalam hati. Pemuda itu hanya bisa tersenyum kikuk pada David.
Di sisi lain portal. Brigita dan Bree bingung kenapa tidak ada seorang pun yang keluar dari portal. Dua bersaudara itu saling pandang. Ingin masuk ke portal, mereka khawatir ada sesuatu di sana yang bisa membahayakan di sisi mereka.
Berdiam diri saja dan hanya menunggu juga bukan jawaban. Karena tidak ada seorang pun yang beranjak menuju portal, akhirnya seseorang masuk ke dalam portal tanpa beban.
Bricia baru saja sadar dari keterkejutannya saat melihat David sudah bisa naik ke atas dengan kekuatannya sendiri. Sepertinya pria itu sudah menguasai bakat yang dimilikinya.
Gadis itu keluar dari persembunyiannya berniat untuk melepaskan cengkraman David. Dia hampir meraih tangan David untuk melepaskan Brayan, wajahnya kembali terkejut saat melihat seorang wanita memasuki portal.
Tidak hanya itu yang membuat Bricia terkejut. Wanita itu menutup portal dengan sekali jentik. Bricia semakin terperangah melihatnya. "Bagaimana mungkin kau bisa melakukannya?" Kalimat pertanyaan terlontar begitu saja dari mulut Bricia.
Lain halnya dengan David. Pria itu langsung melepaskan Brayan dan membuat pemuda itu tersungkur untuk yang kedua kalinya.
"Sayang, kau datang." David dengan senang hati menyambut kedatangan istri tercintanya. Dia memeluk erat tubuh Elaina.
Elaina membalas pelukan David dan segera melepasnya. Pandangannya kini beralih pada pemuda yang terduduk di atas permukaan tanah.
__ADS_1
Brayan hanya bisa tersenyum kikuk melihat tatapan Elaina. Sudah pasti adik sepupunya itu akan melampiaskan kemarahannya.
Cukup lama Elaina menatap tajam Brayan. Akhirnya, dia hanya bisa menghela napas. Dia hanya bisa melakukan itu. Elaina tidak ingin melampiaskan amarahnya secara berlebihan. Lagipula mereka adalah keluarga. Sudah pasti harus saling menjaga satu sama lain. Yang dilakukan four B pasti ada alasannya.
"Kau tidak jadi marah, sis?"
Mendengar pertanyaan yang menurut Elaina bodoh atau polos membuat wanita itu yang tadinya tidak ingin marah justru ingin mengomeli kakak sepupunya. Untung saja Bricia sudah bertindak lebih dulu memberi Brayan pelajaran.
"Ish, kau itu." Bricia berkata sambil menyentil kening Brayan yang berhasil membuat pemuda itu mengadu kesakitan.
"Aw, Brixie. Kau apakan keningku? Rasanya ada yang retak." Brayan merengek sambil memijat keningnya.
"Tentu saja, aku menyentil mu dengan biji lada."
"Agar kau diam. Cepat kembali ke rumah dan ganti celana mu yang bau pesing itu!" ketus Bricia.
Brayan tak ingin berdebat lagi dengan ketiga keluarganya, kecuali David dan Elaina. Karena mengoceh dari tadi hanya Bricia. Tapi, tatapan tajam pasangan suami istri itu tak kalah menakutkan. Pemuda itu segera berdiri dan melirik ke sana kemari.
"Apa yang terjadi pada Brayan?" tanya Elaina bingung mendengar perintah Bricia pada Brayan.
__ADS_1
David berjalan ke arah Elaina dan memeluk Elaina dari belakang saat melihat dua bersaudara B sedang beradu mulut. Dia senang Elaina berada di sisinya saat ini.
"Apa kau melihat celana Brayan bagian depan?"
Elaina mengangguk. Bagian depan celana Brayan tampak basah. Dia pikir mungkin terkena air.
"Brayan!" teriak Bricia. "Apa lagi yang kau tunggu?"
Teriakan Bricia membuat David dan Elaina tersentak.
"Mana portalnya?" pertanyaan Brayan kali ini membuat mereka terdiam.
Bersambung
* * *
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh. Ceritanya seru banget loh. Yukss mampir!
Judul: Apa Salahku Ibu?
__ADS_1
Penulis: Dhevy