
"Brayan!" David berteriak ke arah angin yang berhenti hingga menampilkan sosok Brayan yang tersenyum nakal. "Apa yang kau lakukan di sini?" David kesal dengan tingkah Brayan yang masuk secara tiba-tiba ke kamarnya.
"Hehehe." Pemuda itu justru tertawa sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Kau mau menjelaskan atau mau aku lempar keluar!" David mulai geram pada pemuda itu. Dia menutup tubuh Elaina agar pemuda itu tidak melihat sedikit pun tubuh Elaina meski hanya bagian pundak.
"Wuih, sabar bro! Kedatanganku kemari karena ada sesuatu yang penting. Jika tidak untuk apa aku kemari dan melihat tontonan yang seharusnya tidak aku tonton. Aku ini kan masih suci," jelas Brayan sambil tertawa.
"Satu." David memberi aba-aba pada Brayan agar segera berbicara.
"Eh, kenapa kau berhitung?" Brayan bertanya dengan polos.
"Dua." Sambung David.
Brayan menatap David menanti apa yang akan dilakukan oleh pria itu padanya.
"Ti-"
"Ok, ok." Brayan mengangkat kedua tangannya ke depan da da dengan telapak tangan diarahkan pada David. Memberi kode pada pria itu agar bersabar sedikit.
"Bintang, Audrey, dan Moonela. Brigita mendapat penglihatan jika Black Meadow mengincar mereka." Brayan berkata dengan lancar.
__ADS_1
Elaina yang mendengar nama adik-adiknya disebut langsung terkejut. Dia langsung terduduk hingga membuat selimut yang menutupi tubuhnya merosot ke bawah. Untung saja, David sigap. Dia menaikkan selimut dan memeluk erat Elaina dari belakang agar tubuhnya tidak terekspos.
"Bagaimana mungkin?" Eliana melontarkan pertanyaan pada Brayan.
"Ya, Black Meadow ternyata lebih cekatan dari yang kita bayangkan. Untung saja Brigita sempat memberi mereka mantra pelindung sebelum mereka ke Eropa," jelas Brayan.
"Dave!" Elaina langsung menatap sendu suaminya. "Aku khawatir pada mereka."
"Tenanglah! Mereka akan baik-baik saja." David berusaha menenangkan istrinya sambil mengusap punggungnya lembut.
"Brayan!" panggil David. "Bisa kau pergi ke ruang kerja!"
"Siap bos." Brayan langsung melengos setelah mengangkat sebelah tangan ke depan kening sebagai tanda hormat. Akan tetapi, dia tidak menggunakan kekuatan supernya. Hal itu membuat David kesal bukan main.
Elaina segera bergegas turun dari ranjang. Begitu pula dengan David. Rasa lapar yang menyerangnya tadi langsung menghilang. Dia juga sempat berkhayal untuk berendam meski hanya sebentar. Namun, semua itu tidak dihiraukan lagi oleh Elaina. Keselamatan adik-adiknya sangat penting.
David dan Elaina langsung menggunakan kamar mandi bersama. Mereka membersihkan diri tanpa bersuara. Keduanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
David selesai lebih dulu. Dia segera keluar dari kamar mandi setelah mengeringkan tubuhnya. Selang sepuluh menit, Elaina menyusul. Wanita itu langsung menuju walk in closet. Meraih kaos lengan pendek dan celana jeans navy. Untuk sentuhan terakhir, dia mengenakan jaket dari bahan kulit. Dia mengunci jaket hingga ke menutupi lehernya.
Dia tidak tahu mereka akan menyelesaikan masalah kali ini hingga berapa lama. Setidaknya jika sampai dini hari seperti kemarin, dia sudah bersiap dengan pakaian lengkap. Siapa tahu mereka nanti akan bertemu dengan klan Balck Meadow.
__ADS_1
David masuk ke dalam kamar tepat saat Elaina mengenakan sepatu kets. Meski mereka sedang kalut, David tidak ingin Elaina kehabisan tenaga, begitu pula dengan dirinya.
"Dave aku ti--" ucapan Elaina terpotong.
"Sst!" David memberi arah pada Elaina agar tidak bersuara. "Sayang, kau dan aku harus mengisi perut terlebih dulu jika ingin bertarung." David menimpali ucapannya.
"Memangnya kita benaran akan bertarung?" Pertanyaan polos meluncur begitu saja dari mulut Elaina.
"Tidak sayang. Itu hanya kiasan saja." David tersenyum. Dalam hati dia tertawa karena kepolosan istri tercintanya telah kembali.
"Ta--"
Lagi-lagi ucapan Elaina terpotong karena David langsung menyuapi Elaina dengan sesendok sup ayam. "Sst, saat bicara tidak boleh makan."
Elaina segera menelan makanannya. Dia hampir saja tersedak karena ulah David.
* * *
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Yukss mampir.
Judul: Wanita Bahu Laweyan
__ADS_1
Penulis: Haryani