
David berusaha meraih tubuh Elaina agar masuk ke dalam pelukannya. Namun, Elaina segera menepis tangan David. Dia merasa sangat marah atas ucapan David. Ucapan yang saja dikatakannya bukanlah sebuah lelucon.
"Dengar dulu, please!" David memohon pada Elaina.
Elaina mengepal erat kedua tangan di samping tubuhnya. Dia mengatur napas untuk menahan emosi yang hampir meledak. Elaina tidak memberi respon apa pun. David segera melanjutkan ceritanya saat melihat Elaina seperti itu.
"Apa kau ingin mendengarkan ceritaku yang cukup panjang?" tanya David.
Elaina masih setia dengan posisi diamnya. Emosinya sudah ingin meledak. Akan tetapi, rasa penasaran sangat mendominasi dirinya. Elaina mengangguk menandakan bahwa dia ingin mendengar cerita sebenarnya. David segera duduk. Kali ini ceritanya sangat sensitif.
"Jangan dipotong, ok!" perintah David pada Elaina.
Elaina hanya mengangguk.
"Mendiang ibumu adalah adik dari ayahnya Four B," jelas David membuat seal cerita.
"Brigita, Bree, Bricia, dan Brayan. Singkatnya, Pernikahan antara mendiang ibu dan ayahmu tidak disetujui oleh pihak keluarga Cruise. Saat ibumu mengandung di usia kandungan tujuh bulan, dia melahirkan mu. Ayah dan ibumu sempat bertemu. Kau tahu sayang! Ayahmu bersusah payah menerobos seluruh pengawal di mansionnya saat mendengar ibumu akan melahirkan. Dia sempat memberimu nama. Ya, Elaina adalah nama pemberian dari ayahmu," jelas David sambil melihat raut wajah Elaina yang tampak berubah sedikit lembut.
Tak lama setelah itu, mereka dipisahkan kembali. Baru beberapa saat kepergian ayahmu. Klan Black Meadow menyerang kediaman Winter. Keluarga Winter mengalami banyak kekalahan. Akan tetapi, mereka tetap berjuang. Ibumu kehabisan nyawa saat melindungi tubuh mungilmu di dalam pelukannya," jelas David.
David terkejut saat melihat raut wajah Elaina yang sedih. Ada kelegaan saat David melihat raut wajah istrinya.
"Brayan masih berumur lima tahun. Dia tidak tega melihat korban yang berjatuhan. Pemuda itu kemudian meminta ayah, ibu, dan ketiga saudaranya agar tidak menghalanginya melakukan teleportasi. Cukup sulit mencari tempat yang sangat aman. Akhirnya mereka hidup berpindah tempat bahkan harus hidup terpisah karena klan Black Meadow selalu memburu mereka," jelas David.
"Pada usiamu yang kedua, mereka memutuskan memberikanmu kepada sepasang suami istri di pulau Borneo. Mereka tidak memiliki pilihan lain. Sebelum meninggalkanmu pada mereka, ayah Brayan mengajari mereka sebuah mantra untuk menyamarkan mu. Kemudian setelah kau dewasa, mantra itu diajarkan padamu. Setiap bulan tanggal lima belas kau akan selalu membaca mantra untuk menyamarkan diri," jelas David.
__ADS_1
Penjelasan David membuat Elaina semakin terkejut. Dia heran bagaimana David tahu jika dia selalu membaca mantra. Elaina tidak pernah bertanya pada mendiang ibunya tentang mantra yang selalu diucapkannya. Dia tidak pernah sekalipun terlewat mengucapkan mantra setiap bulan karena sudah menjadi kebiasaannya.
"Reinkarnasi yang aku alami secara tidak langsung berkat dari Brayan. Saat itu dia sedang menguji bakat lari cepat. Kilatan yang mengenaliku dari pemuda itu. Waktu terulang kembali. Menurut Brayan, semua sejarah tetap. Hanya aku yang berbeda. Pada saat itu, secara kebetulan hanya kami bertiga yang mengalami kematian," ucap David.
"Apa kau sudah lama mengenal Brayan?" tanya Elaina.
"Tidak. Aku baru saja mengenal mereka. Di hari pertama aku terbangun. Brigita datang menemui ku di taman. Aku tahu. Awalnya sangat tidak masuk akal. Akan tetapi, aku yang telah menjalaninya. Akhirnya, aku percaya hal aneh ini."
"Apa hubungannya denganku?" tanya Elaina.
David bersusah payah menelan air liur. Ini adalah bagian tersulit. Dia harus pandai merangkai kata agar Elaina tidak salah paham.
"Kau tahu. Awalnya aku tidak mengenalmu sama sekali hingga insiden hari itu. Dalam satu hari aku banyak mengalami hal yang cukup aneh. Selain itu, kita juga sudah banyak berinteraksi."
"Langsung saja poinnya! Jangan berbelit-belit seperti ini! Dari tadi kau bicara terlalu panjang. Seperti bukan kau saja," oceh Elaina.
"Menjagaku!" seru Elaina.
Dia terdiam saat mengulang kata menjaga. Pikiran Elaina mulai berkecamuk. Terbesit di kepalanya bagaimana sikap David langsung berubah saat kedua kalinya mereka bertemu.
"Sayang, aku tulus menyayangi dan mencintaimu," ucap David sambil memegang tangan Elaina.
"Jangan sentuh aku!" seru Elaina sambil melepaskan tangan.
Elaina menarik kesimpulan sendiri jika David sengaja mendekatinya pasti karena sesuatu.
__ADS_1
"Apa alasanmu menikahi ku hanya agar nyawamu tetap terjaga?" tanya Elaina.
"Tidak, sayang! Aku tulus mencintaimu," ucap David.
Elaina menatap nanar David. Pria itu masih bisa mengatakan tentang sayang dan cinta padanya. Air matanya tumpah. Hati David terenyuh saat melihat air mata Elaina yang tumpah tiada henti. David memajukan tubuhnya untuk memeluk Elaina. Dengan gerakan cepat Elaina menghindar dari pelukan David.
"Sayang, please ..." ucapan David terhenti saat tangan kanan Elaina memberi kode padanya untuk berhenti berbicara.
"Stop! Aku tidak ingin mendengar lebih banyak lagi darimu!" perintah Elaina.
Hal yang ditakutkan David terjadi. Elaina pasti akan salah paham. Dia juga tidak bisa menyalahkan Elaina bersikap begitu. Keadaan dan waktu yang tidak tepat membuat semua semakin sulit.
Elaina berdiri di antara balkon dan kamar. Dia menatap langit malam yang kini tanpa bintang-bintang. Lenyapnya mereka seolah-olah tahu akan suasana hati Elaina saat ini. Gelap dan sunyi.
Sedangkan David menjatuhkan tubuhnya di samping tempat tidur. Dia hanya bisa menatap tubuh Elaina tanpa bisa meraihnya ke dalam pelukan. Air mata David tumpah saat merasakan sakit yang luar biasa di hatinya.
"Aku butuh waktu," ucap Elaina yang akhirnya memecah keheningan di antara mereka.
David tergelak saat Elaina berkata. Ucapan Elaina berati dia dan istrinya akan berpisah dalam waktu yang tidak tentu. Dia berniat untuk protes. Namun, melihat kondisi Elaina saat ini, lebih baik mereka memiliki waktu masing-masing.
Saat membalikkan tubuhnya, Elaina tidak menyangka akan melihat pemandangan yang membuat hatinya sakit. Wajah David basah dengan air mata. Mata pria itu merah. Meskipun begitu, dia tetap harus konsisten dengan keputusan dan ucapannya. Perpisahan sementara lebih baik untuk dia dan David.
Elaina ingin memastikan perasaan mereka. Apakah murni cinta atau hanya demi keuntungan semata?
David berdiri perlahan dari lantai. Sebelah tangannya di pinggang dan tangannya yang bebas mengusap wajahnya. Dia menghela napas kasar. Perlahan dia berjalan menuju ke arah Elaina.
__ADS_1
Dia tidak berani melangkah lebih dekat saat melihat wajah Elaina yang sarat akan kekecewaan dan kesedihan di sana. David menyisakan jarak sekitar sergah meter. Dia langsung menjatuhkan kedua lututnya ke lantai. Bersimpuh di hadapan Elaina.
"Maaf kan aku, sayang! Seharusnya aku katakan dari awal," ucap David sambil mengangkat kepala menghadap Elaina.