
David menghela napas panjang. Dia memeluk erat tubuh Elaina seolah takut terlepas. David takut kehilangan Elaina. Dia berusaha menepis kemungkinan terburuk dari pengakuannya. Elaina masih menunggu David untuk bersuara.
"Apa kau percaya reinkarnasi?" tanya David.
"Aku bingung," jawab Elaina singkat.
"Bingung?" tanya David. Sebuah jawaban diluar prediksinya.
"Ya, aku bingung. Mau percaya tapi apa mungkin itu ada. Tidak percaya, tapi aku sendiri melakukan hal-hal aneh," jawab Elaina sambil menatap langit malam.
"Ok. Bagaimana jika kita mengambil kalimat pertama dulu. Kemungkinan reinkarnasi itu ada. Bukan mungkin. Akan tetapi, benar-benar ada," ucap David pelan.
"Maksudmu?" tanya Elaina sambil menoleh ke samping menatap David.
"Aku bereinkarnasi," jawab David.
Elaina terdiam. Dia menatap dalam kedua mata David. Dia berharap menemukan ketidakseriusan di sana. Namun, nihil. David serius dengan ucapannya.
"Kau bereinkarnasi?" hanya pertanyaan itu yang terlontar dari mulut Elaina.
"Ya," jawab David singkat.
David sengaja tidak menjelaskan pada Elaina lebih jauh lagi. Dia ingin memberi Elaina waktu agar dapat mencerna semua ucapannya.
"Apa kau dulunya seorang kakek tua?" tanya Elaina.
Pertanyaan Elaina berhasil membuat tawa David pecah.
"Tidak sayang," jawab David setelah puas tertawa.
"Jadi kau anak kecil?" tanya Elaina polos.
"Bukan. Berhentilah memikirkan kemungkinan yang lainnya! Aku akan menjelaskan padamu. Ayo kita masuk ke dalam! Angin malam mulai kencang," ucap David.
Elaina dengan patuh menuruti David. Mereka berjalan beriringan memasuki kamar. David memilih kasur sebagai tempat pengungkapan kejujurannya. Pikirannya singkat. Jika Elaina berniat kabur, dia bisa menguncinya dengan cara lain.
"Ini benaran bicara kan?" tanya Elaina ragu saat melihat David menepuk kasur di sampingnya agar Elaina merebahkan diri tepat di sampingnya.
"Benaran sayang," jawab David.
__ADS_1
"Tidak ada yang lain kan!" Elaina berusaha meyakinkan diri
"Tidak ada. Ini murni hanya pembicaraan dari hati ke hati saja," balas David sambil tersenyum.
Dia tahu apa yang ada di dalam pikiran istrinya. Meskipun dia masih geram dengan tubuh sang istri, namun David cukup tahu diri. Elaina merebahkan tubuhnya di samping David.
Sebelah tangan David menopang kepala. Tangan lainnya yang bebas memegang tangan Elaina. Kemudian menautkan tangan mereka.
"Kurang lebih satu bulan yang lalu, aku tewas," David baru saja mulai bercerita.
"Hah! Jadi kau hantu?" tanya Elaina terkejut.
Gadis itu hampir terduduk. Namun, tangan David dengan mencegahnya dengan segera. Tubuh Elaina kembali terbaring.
"Bukan sayang. Dengarkan dulu, please!" pinta David.
Elaina hanya mengangguk pelan.
"Ada konspirasi di dalam keluarga besar dari pihak ibuku. Paman dan putera lelakinya bersekongkol untuk menghabisi ku karena ingin menguasai harta kekayaan keluarga Benjamins. Mereka tidak terima mengapa harus aku yang harus memimpin keluarga Benjamins bukan sepupuku. Padahal dia adalah keturunan langsung dari paman," David tak ingin mengukur waktu. Dia segera menceritakan awal mula dia bereinkarnasi.
"Aku terlalu percaya pada mereka waktu itu. Bahkan tidak pernah menganggap paman Jeff dan Theo sebagai sekutu. Aku pikir selama ini, paman Jeff-lah penjahatnya. Hingga suatu malam aku mendapat panggilan telpon dari perusahaan. Penelpon itu adalah Theo. Dia sudah mengumpulkan banyak bukti sebelum menghubungiku," ucap David.
"Aku melihat rekaman cctv dan beberapa file yang berisi kecurangan yang mereka lakukan. Lebih parahnya lagi perusahaan Benjamins sudah beralih ke tangan mereka. Paman Arnold mengepung aku dan Theo. Selain kami, mereka juga telah menghabisi paman Jeff lebih dulu. Sedangkan aku dan Theo dihabisi di tepi danau Ray Hubbard, Dallas," ucapan David terhenti saat mengingat betapa sakitnya saat kehilangan nyawa.
"Cukup lama aku tewas. Aku bisa melihat tubuhku yang tergeletak tak bernyawa hingga sebuah kilat menghantam tubuhku. Setelah itu, kau tahu di mana aku berada," ucap David sambil melirik Elaina.
Elaina tampak berpikir keras. Dia berusaha untuk mencerna ucapan David dan mengingat kejadian yang David maksud. Cukup lama Elaina terdiam berpikir hingga akhirnya dia berteriak sendiri.
"Ah, insiden handuk itu!" seru Elaina.
"Tepat," jawab David singkat.
"Jadi saat itu kau terlahir kembali?" tanya Elaina takjub.
"Aku rasa tidak begitu juga. Lebih tepatnya, aku mengulang kembali kehidupanku sekitar tiga ratus tiga puluh enam jam sebelumnya. Tepatnya lagi, dua Minggu sebelumnya," jelas David.
Elaina menatap sendu wajah suaminya. Dia memegang wajah David dengan sebelah tangan. Mengusap pelan wajah prianya. Hati Elaina sakit saat teringat akan ucapan David yang mengatakan dia telah tewas. Tak bisa dia bayangkan bagaimana sakitnya. Air mata tumpah melalui sudut matanya.
"Mengapa kau menangis?" tanya David sambil mengelap air mata yang jatuh di wajah Elaina.
__ADS_1
"Tentu saja aku sedih. Dasar pria bodoh!" seru David.
"Jangan bersedih! Ceritaku belum usai. Bisa jadi kau akan membenciku saat mendengar cerita selanjutnya," jelas David.
Elaina menatap David bingung.
"Cerita selanjutnya berhubungan denganmu dan bakat-bakat yang kau miliki," ucap David dengan suara parau.
"Apa maksudmu, Dave?" tanya Elaina terkejut.
"Sayang, aku tahu kau memiliki bakat atau yang kau sebut dengan kelakuan aneh yang sangat luar biasa," ucap David.
"Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau memiliki kekuatan supernatural setelah reinkarnasi?" tanya Elaina.
"Tidak. Indra pendengaran ku lebih tajam dari biasanya saja. Aku rasa itu termasuk kelebihan setelah kematian," ucap David.
"Dari mana kau bisa tahu aku memiliki banyak bakat?" tanya Elaina.
David mengatakan kata bakat tidak hanya satu kali. Dia mengatakan bakat-bakat, artinya David mengetahui semua bakatnya. Elaina bingung dari mana David bisa tahu tentang semua bakatnya.
"Ingat saat pernikahan kita!" seru David.
Elaina langsung mengangguk pelan. Namun, gadis itu masih bingung. Apalagi sekarang ucapan David langsung beralih ke acara pernikahan.
"Apa kau ingat dengan tiga saudara perempuan dengan satu orang saudara laki-laki mereka yang aku perkenalkan padamu sebagai kolega?" tanya David.
"Tentu saja. Wajah mereka sangat mudah untuk diingat. Ada apa dengan mereka?" tanya Elaina.
"Mereka adalah sepupu dekatmu!" ucap David pelan namun tegas.
Elaina terdiam mendengar ucapan David. Dia merasa ucapan David hanya candaan saja. Mana mungkin dia memiliki sepupu. Sangat jelas sekali baik ayah maupun ibunya tidak memiliki saudara. Jadi, bagaimana mungkin Elaina memiliki saudara sepupu.
Dia berkali-kali menampik ucapan David yang menurutnya konyol. David tahu jika Elaina tidak mempercayainya. Dengan sangat terpaksa David harus memberitahu Elaina tentang orang tua kandungnya.
"Elaina, sayang! Kau memiliki orang tua yang berbeda dengan Munel dan Bintang," ucap David lembut.
Ucapan David berhasil membuat Elaina terkejut dan langsung terduduk. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh David.
"Dave! Itu sangat menyakitkan," ucap Elaina sambil menatap David.
__ADS_1