
Elaina dan Rachel tertawa terbahak-bahak setelah duduk nyaman di dalam mobil yang telah membawa mereka keluar mansion. Mereka menertawai ekspresi David yang lucu karena terkejut.
Rachel yakin jika keponakan tampannya itu tidak menyangka akan dikerjai olehnya seperti ini. Elaina senang memiliki seorang bibi yang usianya terbilang masih cukup dewasa. Apalagi kelakuan bibinya tidak seperti bibi kebanyakan. Bibinya yang satu ini sangat keren dan sedikit jahil.
"Untung tadi aku tidak jadi mengendarai mobil sendiri," ucap Rachel.
Suara tawa mereka telah mereda. Elaina sampai memegang perutnya yang sedikit kram karena tertawa.
"Bisa aku banyangkan jika tadi saat kita kabur dengan bibi yang baru masuk kebalik kemudi dan baru menghidupkan mesin mobil. Sudah pasti kita akan tertangkap lebih dulu," jelas Elaina.
"A, a, La Tia not bibi!" Rachel mengingatkan Elaina akan panggilan yang diinginkannya.
"La Tia?" tanya Elaina bingung.
"Yups. Artinya bibi atau tante," jawab Rachel. "Dari bahasa Spanyol," Rachel menimpali ucapannya.
"Ah, maksud bibi biar keren ya?" tanya Elaina yang akhirnya sadar.
"Bibi lagi," ketus Rachel sambil membayangkan bibir bawahnya.
"Eh, La Tia," ulang Elaina sambil terkekeh.
"Perfect!" seru Rachel sambil menyentuh pangkal hidung Elaina dengan telunjuk kanannya.
* * *
"Brayan!" panggil David.
Sepeninggal istri dan bibinya, David memutuskan kembali ke ruang kerja. Urusannya belum selesai. Tertunda karena dia baru menyadari kehadiran Elaina saat bibinya memanggil istrinya.
David sedikit kesal akan keteledorannya. Biasanya pendengarannya sangat sensitif. Tapi, kali ini boleh besar. Dia tidak menyadari sama sekali kehadiran Elaina.
Bagi David tidak masalah jika Elaina mengetahui tentang Brayan. Toh mereka masih ada hubungan keluarga. Hanya saja dari pihak Brayan, masih tidak ingin Elaina tahu akan hubungan mereka.
Brayan masih belum memberitahu alasan itu. Pemuda itu hanya memberi kisi-kisi pada David jika Elaina masih belum siap. David ingin bertanya lebih pada Brayan. Namun, suara pria itu tiba-tiba menghilang saat Elaina hadir.
David mulai menaruh curiga pada Brayan. Bukan hanya satu kali. Sudah lebih dari tiga kali kejadian seperti ini terulang. David yakin pasti ada sesuatu yang dirahasiakan Brayan darinya, meskipun tidak besar.
Untuk sementara, David membiarkan saja. Anggap saja dia tidak menaruh curiga pada Brayan.
* * *
__ADS_1
"Bib," ucapan Elaina terhenti saat mendapat tatapan tajam dari Rachel.
"La Tia," ucap Elaina.
"Bagus, Lana! Lama-lama kau pasti akan terbiasa," ujar Rachel sambil memberinya kecupan dari jauh.
Saat ini mereka sedang berada di sebuah butik yang terletak di salah satu pusat perbelanjaan yang terkenal di ibu kota. Rachel sedang sibuk dengan jemarinya yang lentik memilih dress atau gaun malam untuknya, Elaina, Audrey, dan Munel.
Wanita satu ini sangat suka berbelanja. Apalagi mall ini adalah milik keponakannya sendiri yang tak lain adalah suami Elaina. Tentu saja dia tidak peduli dengan harga yang tertera di setiap label baju.
"Ada apa Lana?" tanya Rachel tanpa menghentikan aktivitas memilih gaun.
"Aku ingin ke toilet," ucap Elaina.
"Sekarang?" tanya Rachel santai.
"Tidak La Tia. Tahun depan," jawab Elaina sambil menahan kesal pada bibinya yang sibuk berbelanja dari tadi.
"Kau ini ada-ada saja. Mana ada ke toilet tahun depan," ujar Rachel.
"Lagian Tia menanyakan hal yang tidak masuk akal," rajuk Elaina.
Dia menghentikan kegiatannya. Lagipula, dress yang dipilihnya sudah cukup banyak untuk mereka. Rachel menggerakkan tangan kanannya maju mundur agar Elaina mengikutinya.
"Kita mau ke mana, Tia?" tanya Elaina sambil mengikuti langkah kaki Rachel.
Rachel tiba-tiba membalikkan tubuhnya saat mendengar pertanyaan keponakannya. Elaina langsung menabrak bibinya saat itu juga.
"Ya ampun, Lana! Kau hobi sekali menabrak orang," seru Rachel sambil terkekeh.
Untung saja Rachel langsung menangkap lengannya. Jika tidak, dia pasti sudah jatuh.
"Kenapa Tia tiba-tiba berbalik?" tanya Elaina bingung.
"Mendengar pertanyaan mu yang tadi tentu saja membuat aku terkejut," jawab Rachel sambil mengajak Elaina berjalan kembali.
"Yang mana?" tanya Elaina bingung.
"Tadi kau bertanya kita mau ke mana, kan?" tanya Rachel sambil melenggang menuju ke suatu tempat.
"Iya. Memangnya kita mau ke mana Tia?' tanya Elaina.
__ADS_1
Rachel bingung sendiri oleh kelakuan keponakanya. Dia bingung dengan sifat Elaina antara polos atau memang telat mikir.
"Bukannya tadi kau mau ke toilet?" tanya Rachel.
"Ah, iya. Aku lupa," jawab Elaina terkejut sambil terkekeh.
"Aku maklum jika kau seperti itu. Aku dulu juga begitu. Tapi, setelah menjadi seorang wanita berkali-kali barulah otakku bekerja dengan benar," jelas Rachel.
"Maksud Tia apa?" tanya Elaina bingung.
"Astaga Lana! Nanti kau juga akan mengerti," ucap Rachel sambil tertawa.
* * *
David masih setia berdiam diri di ruang kerjanya. Panggilan telpon yang tadi diterimanya adalah panggilan dari asistennya yang berada di Dallas.
Dia mendapat kabar bahwa Benjamins cs sangat murka saat mendengar berita pernikahan dia dan Elaina. Tentu saja murka. Selama ini mereka mati-matian menjodohkan David dengan Samantha.
Mereka bahkan menjebak David agar Samantha dinikahkan oleh David. Beruntung paman Jeff membantunya. Dia berhutang banyak pada pamannya yang sangat setia kepadanya.
David yakin suatu hari nanti, mereka pasti akan segera mampir ke mansion untuk menyapa Elaina. David segera menghubungi Theo. Dia ingin jadwalnya dikosongkan selama dua bulan ke depan. Dia berencana untuk meninggalkan ibu kota.
Selain itu, kepergiannya juga harus dirahasiakan. Dia tidak ingin paman dan adik sepupu rakusnya menganggu kehidupannya.
"Theo. Kosongkan semua jadwalku selama dua bulan ke depan!" perintah David pada Theo.
Bukannya tuan memang sudah tidak ada jadwal berkunjung ke perusahaan selama dalam waktu yang belum ditentukan. Semuanya sudah diserahkan kepadaku dan tuan Jeff. Theo bermonolog di dalam hati.
"Baik tuan," jawab Theo singkat.
Dia tidak ingin bermasalah karena hal sepele. Lebih baik cari aman saja.
"Bagus. Satu lagi. Perketat keamanan! Terutama jalur udara dan jalur laut. Pastikan jika duo Benjamin tidak masuk ke negara ini! Apa pun caranya," perintah David pada Theo.
"Baik tuan. Segera saya laksanakan," jawab Theo.
David memutuskan panggilan telpon. Dia menatap lurus keluar jendela ruang kerja. Dia bertekad akan melindungi Elaina dengan baik. Tak akan dia biarkan paman dan sepupu serakahnya itu menyakiti Elaina sedikit pun.
"Tidak sia-sia aku merestui pernikahan kalian," ucap Brayan yang tiba-tiba datang.
Saat menatap keluar jendela, angin berhembus sangat kuat dan masuk ke dalam ruang kerja David. Angin itu menerbangkan beberapa kertas yang berisi hal-hal penting untuk perusahaan. David sempat jengkel dengan pemuda yang asal-asalan itu.
__ADS_1