336 Hours

336 Hours
Bab 87. Pelukan Terakhir.


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul empat sore waktu Paris. Kedua sejoli itu masih betah berada di atas kasur empuk hotel. Cuaca sore ini cukup bersahabat. Tidak panas dan tidak mendung. Semilir angin yang berhembus menambah nyenyak kedua insan itu.


Elaina terduduk saat merasakan sesuatu yang tidak enak di perutnya. Sesuatu itu bergerak ke atas hingga menimbulkan rasa mual yang sangat tidak enak. Tak ingin isi perutnya mengotori tempat tidur, Elaina segera berlari menuju kamar mandi.


David langsung terjaga saat merasakan sesuatu yang bergerak cepat di sampingnya. Dia bangun dan langsung menyusul Elaina. Sayangnya, pintu kamar mandi dikunci oleh istri kecilnya itu.


"Sayang! Kau kenapa?" tanya David khawatir. Pria itu memainkan gagang dan menggedor pintu sesekali. Elaina masih tidak menjawab dari dalam sana. David menempelkan telinga kanannya ke pintu agar dapat mendengar sesuatu dari balik pintu. Suara muntahan Elaina membuat David semakin khawatir.


"Sayang! Cobalah untuk membuka pintu!" teriak David.


Elaina terduduk di lantai kamar mandi setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya. Wanita itu terkejut saat mendengar suara dobrakan pintu. "Astaga David! Kau bisa merusak pintunya," oceh Elaina.


Belum sempat mengumpulkan tenaga, Elaina langsung berdiri dan membuka pintu. Dia tidak ingin suami posesifnya itu merusakkan pintu kamar mandi hotel.


"Aaa ... aaa!" teriak Elaina dan David bersamaan. Hampir saja David menabrak tubuh istrinya sendiri. Dia tidak menyangka Elaina akan membuka pintu.


"Hampir saja," ucap Elaina sambil mengurut dada.


"Sayang, kau kenapa? Apa kau sakit?" tanya David khawatir. Pria itu memegang wajah Elaina dengan kedua tangannya.


"Aku tidak apa-apa, Dave. Sepertinya cuma masuk angin saja."

__ADS_1


Elaina meraih tangan David dan menariknya untuk keluar dari kamar mandi. Baru beberapa langkah mereka berjalan keluar kamar mandi, Brayan beserta ayahnya muncul dari sebuah portal.


"Mereka menyerang," ucap Brayan.


"Siapa?" tanya Elaina bingung.


"Black Meadow," jawab Bishop.


Seketika Elaina teringat akan klan itu. Wajahnya langsung memucat. Dia memang sudah mempersiapkan diri untuk itu. Namun, saat penyerangan itu nyata, hati Elaina menciut.


"Secepat ini?" tanya David yang sama tidak percayanya dengan Elaina.


"Mereka menemukan celah untuk masuk dan tidak membuang kesempatan untuk menyerang," jelas Brayan.


"Kak Brigita dan yang lainnya telah berada di medan pertempuran," jawab Brayan.


"Kita harus ke sana sekarang! Jika Black Meadow sampai ke sini, bisa menimbulkan dampak yang tidak baik bagi kehidupan di dunia," jelas Bishop.


"Kau siap?" tanya David sambil menggenggam tangan istrinya.


Elaina mengangguk. Bibirnya terkunci untuk menjawab pertanyaan sederhana dari suaminya.

__ADS_1


"Eits, tunggu dulu!" cegah Brayan saat melihat David dan Elaina mulai melangkah untuk masuk ke dalam portal.


"Apa lagi?" David mulai kesal.


"Kalian yakin akan bertarung dengan pakaian kurang bahan begitu?" tunjuk Brayan dengan kedua matanya.


David dan Elaina saling bertatapan dari atas ke bawah dan kembali lagi. "Aaa!" teriak Elaina karena malu. Dia hanya mengenakan kaos oblong tanpa celana jeans panjang. Sedangkan David hanya mengenakan ****** ***** boxer.


"Ayah akan menunggu kalian!" Bishop langsung menarik Brayan masuk ke dalam portal. Keponakannya tidak berhenti menertawai putri dan menantunya.


David dapat melihat dengan jelas ayah mertuanya tersenyum dengan kekonyolan mereka.


"Aku malu, Dave!" seru Elaina dari balik punggung David.


"Tidak perlu malu, sayang. Bukannya hal biasa bagi pasangan suami istri," goda David.


"Ish, kau itu." Elaina dengan gesit mencubit punggung David.


Bukannya kesakitan, pria itu justru tertawa senang melihat tingkah malu-malu istrinya. "Kita harus bergegas," mau tidak mau David harus menyela Elaina.


"Kau benar," Elaina mulai terlihat murung. Membayangkan sesuatu yang menyakitkan akan terjadi ke depannya.

__ADS_1


"Wajah sedih ini tidak cocok untuk mu," ucap David. "Berdoalah semoga semuanya baik-baik saja. Kalaupun terjadi sesuatu, aku pasti akan menemukan mu di mana pun kau berada." David memeluk erat tubuh Elaina seolah ini adalah pelukan terakhir mereka. Elaina membalas pelukan suaminya dan menghirup aroma suaminya hingga melekat di ingatannya.


__ADS_2