336 Hours

336 Hours
Bab 81. Ada Apa Denganku?


__ADS_3

Merasa tidak ada respon. Brayan kembali bersuara, "Di mana portalnya kakakku tersayang, terkasih, tercinta, ter ... ter...?" Nada bicara pemuda itu sengaja dibuat-buat.


"Ah, aku tidak sengaja menutupnya." Akhirnya Elaina sadar jika dia tanpa sengaja telah menutup portal.


Brayan memberikan senyum terlebar seperti Joker setelah mendengar ucapan aduk sepupu tercintanya itu. "Dengar sendiri kan kak Bricia yang terkasih!" Lagi-lagi Brayan sengaja berbicara dengan nada mengejek sang kakak yang dari tadi terlihat puas mengerjainya.


Elaina terkekeh mendengar nada bicara Brayan yang sengaja di buat-buat. "Eh, Dave. Mengapa Brayan bisa mengompol? Bukannya dia sudah dewasa? Apa ada yang belum aku ketahui?" Elaina menyerang suaminya dengan serentetan pertanyaan.


"Mana yang harus aku jawab dulu?" David menjawab Elaina dengan sebuah pertanyaan sambil mencubit gemas ujung hidung Elaina.


"Jangan ada satu pun yang kau jawab!" Brayan tak ingin bertambah satu orang lagi yang mengetahui kelemahannya. Bricia dan David saja sudah membuat dia repot.


"Sejujurnya aku masih belum tahu maksudmu." jawab David santai.


"Brayan, sebentar lagi portal untukmu akan terbuka. Aku sudah mengirim pesan pada Brigita. Kali ini jika kau tidak berinisiatif untuk masuk sendiri ke dalam portal, aku yang akan menendang bokong mu." gertak Bricia.


Brayan yang mendengar ocehan dari salah satu kakak kembarnya, menanggapi ocehan Bricia dengan santai sambil memutar kedua bola matanya.


"Ish, anak itu semakin hari tingkahnya semakin menyebalkan." Bricia tak kalah sewot.


Menit berikutnya, portal mulai terbuka. Setelah portal terbuka sempurna, Brayan langsung melesat masuk ke dalam portal dan sebelum portal tertutup, pemuda itu sudah kembali dengan mengenakan pakaian baru. Ya, bakat kecepatan yang dimiliki Brayan memang tak ada tandingnya.


Mereka sudah tidak heran lagi dengan bakat Brayan yang satu ini. "Ok. Aku sudah siap." Brayan berkata sambil bergaya seolah tidak ada kejadian memalukan yang tadi terjadi.

__ADS_1


Bricia sudah tidak ingin berdebat yang tidak penting lagi. Kali ini dia menatap tajam ke adik sepupunya yang merupakan istri David.


"Bisa jelaskan padaku mengapa kau bisa ada di sini?" Bricia berkata sambil berkacak pinggang.


"Aku." Elaina menunjuk wajahnya sendiri dengan telunjuk kanannya.


"Siapa lagi Elaina? Karena menurut daftar hari ini, hanya David saja yang ikut."


"Well, tentu saja karena aku khawatir dengan keselamatan adik-adikku." Jawaban Elaina masuk di akal. Akan tetapi, pertanyaan Brayan berikutnya membuat David dan Bricia sedikit terkejut.


"Bagaimana kau bisa sadar secepat itu?"


"Memangnya harus berapa lama waktu yang dibutuhkan agar aku sadar?" Elaina justru berbalik melontarkan pertanyaan.


"Aku sadar sekitar lima belas menit kepergian kalian." Jawaban Elaina berhasil membuat Brayan ternganga.


"Tidak mungkin, El. Kau jangan mengada-ada. Aku sudah memprediksi paling cepat kau akan terbangun tengah malam nanti waktu Indonesian. Sekarang saja baru pukul se--" Kata terakhir Brayan menggantung saat dia melirik jam tangan yang melingkar sempurna di pergelangan tangan kanannya.


Kedua matanya membulat melihat jarum jam yang seharusnya menunjuk ke angka sepuluh atau sebelas. Terserah angka berapa pun, yang penting tidak diam di tempat. Benar saja, kurang lebih setengah jam dia, David, dan Bricia menghabiskan waktu di Paris.


Pemuda itu membayangkan dan menghitung waktu yang dihabiskan Elaina dari terbangun, menghampiri rumah persembunyian mereka, dan berada di sini. "Aah!" Brayan berteriak kesal karena serbuk putihnya tidak bekerja semestinya.


"Memangnya ada yang salah denganku?" Elaina bingung karena melihat reaksi Brayan.

__ADS_1


"Tidak ada yang salah denganmu sayang." David membalikkan tubuh Elaina menghadap tubuhnya. Dia membelai lembut puncak kepala istrinya.


"Tentu saja ada yang salah." Brayan segera bersuara.


"Maksudmu?" tanya Bricia.


"Oh, ayolah Bricia! Belum ada sejarahnya yang bisa siuman dalam waktu hitungan menit oleh serbuk putihku."


Bricia terdiam mendengar ucapan Brayan. Adik bungsunya benar. Brigita saja yang nomor dua terkuat, masih membutuhkan waktu sekitar setengah hari untuk sadar. Bagaimana bisa Elaina siuman dalam waktu hitungan menit. Pandangan Bricia beralih pada Elaina.


Elaina yang mendapat pandangan aneh dari salah satu kakak sepupunya itu langsung merasa salah tingkah.


"Ada apa denganku?" Elaina bertanya dalam hati.


Bersambung


* * *


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh. Yuks mampir! Ceritanya seru banget loh.


Judul: Mengejar Cinta Casanova


Penulis: Eni Pua

__ADS_1



__ADS_2