336 Hours

336 Hours
Bab 63. Kondisi Paman Bishop


__ADS_3

Elaina membulatkan kedua mata saat mendengar kalimat 'ayah kandung'. Di saat seperti ini mengapa ayah kandungnya muncul? Elaina terdiam. Seingat Elaina, ayahnya dibawa kembali setelah melihat persalinan ibunya.


"Di-di mana dia?" tanya Elaina dengan pandangan mata kosong.


"Bersama four B," jawab David sambil menatap lembut Elaina.


Tentu saja bersama four B. Ucap Elaina dalam hati. Suasana hening kembali. Pikiran Elaina saat ini sangat kalut. Antara sedih, senang, penasaran, dan marah menjadi satu. David menanti Elaina dengan sabar. Dia tidak ingin mendesak Elaina. Hasilnya pasti tidak akan baik.


"Apa masih ada rahasia lain lagi yang ingin kau utarakan?" tanya Elaina dengan air mata yang keluar dari mata.


Hati David terenyuh saat melihat air mata yang keluar dari mata indah istrinya. Dia merengkuh tubuh Elaina masuk ke dalam pelukannya.


"Tidak ada lagi. Selebihnya aku dan Brayan mengawasi klan Black Meadow. Aku juga baru tahu dia hari ini jika ayah kandungmu telah tiba di kota ini," jelas David sambil mengecup lembut puncak kepala Elaina.


Beberapa saat kemudian, Elaina melepaskan diri dari pelukan David. Dia mengusap air mata dan memperbaiki posisi duduknya.


"Sorry," ucap Elaina.


"Untuk apa sayang?" tanya David menatap Elaina.


"Karena terlalu cengeng," jawab Elaina.


"Tidak. Itu hal yang wajar. Apa kau siap untuk bertemu dengannya?" tanya David.


"Secepat itu!" seru Elaina.


"Ya. Sesegera mungkin," jawab David.


"Ok. Aku akan bertemu dengannya," jawab Elaina malas.


"Sayang, aku tahu kau dalam keadaan tidak baik saat ini. Tapi, cobalah mengerti situasi ayahmu!" bujuk David.


"Entahlah Dave! Rasanya seperti baru mendapat sebuah balon yang kau inginkan. Setelah berada ditangan, balon itu pecah," jawab Elaina.


"Aku mengerti. Besok kita akan berkunjung ke rumah four B. Tidurlah!"


"Temani aku, please!" pinta Elaina sambil menatap David.


"Aku akan selalu di sampingmu," ucap David sambil meminta Elaina merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Elaina mengikuti perintah David. Dia langsung menaiki tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping David. Posisinya sangat nyaman saat ini. David memeluk Elaina dengan sebelah tangan.

__ADS_1


"Apa aku harus menyanyikan lagu Nina Bobo?" goda David.


"Dave !" seru Elaina.


"Hahaha. Tidurlah! Aku akan menemanimu sampai kau terlelap," ucap David sambil mengusap punggung Elaina.


Satu jam kemudian, Elaina tertidur pulas. David melepaskan diri dengan perlahan. Dia merapikan posisi kepala dan selimut Elaina. Sebelum meninggalkan istrinya ke ruang kerja, dia mengecup pelan kening Elaina.


David tahu bahwa Brayan sudah menantinya di ruang kerja. Akhir-akhir ini pendengarannya sangat sensitif. David dapat mendengar dengan jarak yang cukup jauh. Sekitar tiga ratus meter. David juga mengetahui kedatangan Brayan.


"Ada apa?" Saat masuk ke dalam ruang kerja, David langsung mencecar Brayan dengan pertanyaan. Tidak biasanya Brayan mampir ke ruang kerjanya sebanyak dua kali dalam satu hari.


"Paman Bishop sakit. Jangan tanya sakit apa! Bisa aku pastikan bukan sakit biasa," tegas Brayan.


"Sejak kapan? tanya David.


"Sekitar satu jam yang lalu. Saat itu, dia sedang bertukar cerita dengan Bree dan Bricia. Tiba-tiba saja paman Bishop menggigil. Awalnya mereka pikir hanya demam biasa. Bree memberinya obat pereda demam. Tapi, tidak berhasil. Parahnya paman tidak bisa berbicara sehingga kami tidak tahu penyakitnya," jelas Brayan.


"Elaina," ucap David singkat.


"Ya. Kita harus mempertemukan Elaina dan paman Bishop sekarang! Kami tidak ingin mengambil resiko yang lebih dari ini!" Ketegasan terlihat jelas di wajah Brayan. Pemuda itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Besok," tawar David. Dia memang sudah membicarakannya dengan Elaina. Akan tetapi, saat ini Elaina sedang tertidur pulas. David tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Apalagi hari ini dia banyak mengeluarkan air mata.


"Beri aku waktu satu jam lagi. Elaina baru saja beristirahat. Setidaknya baru dia sedikit waktu," jelas David.


"Ok. Aku pergi sekarang!" seru David.


"Tunggu! Kali ini di mana?" tanya David. Four B selalu berpindah-pindah tempat saat pertama kali mengetahui kalan Balck Meadow sudah memasuki negara ini. Mereka menekan segala kemungkinan agar klan itu tidak bisa menemukan jejak mereka.


"Ah, Untung saja kau bertanya." Baru saja Brayan bersiap-siap untuk mengambil start berlari. Pertanyaan David membuatnya tergelak.


"Hotel M. Lantai tujuh. Kamar 521," ucap Brayan. Kemudian dia langsung melesat keluar.


Setelah kepergian Brayan, David segera kembali ke kamar utama. Sesampainya di kamar, David dapat melihat Elaina yang masih pulas di atas kasur empuk mereka.


Pria atletis itu berjalan perlahan mendekati tempat tidur. Dia tidak ingin mengejutkan Elaina. David menaiki tempat tidur. Setelah posisi tubuhnya nyaman, dia mulai melancarkan aksinya.


David mengusap pelan wajah Elaina. membuat gerakan yang sedikit kuat agar si pemilik tubuh merasa sedikit terganggu. Rencana tinggal rencana, Elaina tidak bergeming sama sekali.


Waktu terus berjalan, mau tidak mau David membangunkan Elaina sedikit kuat. Dia menggosok lengan Elaina dengan telapak tangan. Kelopak mata Elaina bergerak karena gerakan yang dilakukan David.

__ADS_1


"Hei, bangun sayang," ucap David lembut dan pelan.


Elaina berusaha membuka mata dan menyesuaikan pandangannya.


"Sudah pagi ya? Kenapa cepat sekali!" gerutu Elaina.


"Tidak. Ini masih malam," jelas David.


"Benarkah?" tanya Elaina.


"Tentu saja," jawab David singkat.


"Kalau begitu aku tidur lagi," ucap Elaina sambil meraih guling dan memeluknya.


"Jangan sayang!" pinta David. "Kita harus pergi sekarang!" Perintah David.


"Hah! Kemana?" tanya Elaina sambil menguap.


"Bertemu ayahmu yang juga ayah mertuaku," jelas David.


Elaina menatap David dengan tatapan tak percaya.


"Aku pikir besok," ucap Elaina. Wanita itu terlihat sangat mengantuk. Dia menguap beberapa kali..


"Kondisi sedikit kritis. Jadi kita harus bergegas," ucap David pelan.


Ucapan David berhasil membaut Elaina terkejut. Rasa kantuknya hilang seketika. Dia terkejut mendengar kondisi ayah yang bin pernah ditemuinya dalam kondisi kritis.


"Dia sakit?" tanya Elaina.


"Bisa dikatakan begitu," jawab David.


"Kapan?" tanya Elaina lagi.


"Sekitar lima belas menit yang lalu Brayan datang. Dia mengabari bahwa ayahmu tiba-tiba sakit. Mereka pikir hanya demam biasa. Jadi mereka memberinya obat pereda demam. Akan tetapi, kondisinya semakin parah. Untuk itu, kita harus bergegas," jelas David panjang lebar.


Elaina mengerjapkan mata hingga tiga kali. Setelah itu, dia baru sadar akan ucapan David.


"Ayo kita menemuinya!" ajak Elaina.


"Kau yakin?" David ingin memastikan bahwa Elaina sudah yakin untuk bertemu dengan ayah kandungnya.

__ADS_1


"Yakin atau tidak, tetap sama saja. Tetap saja aku harus menemuinya," jawab Elaina.


__ADS_2