336 Hours

336 Hours
Bab 30. Perkenalan


__ADS_3

Beberapa jam kemudian.


"Sayang, perkenalkan. Ini paman Jeff," ucap David memperkenalkan paman Jeff pada Elaina.


Elaina tersenyum dan langsung mencium punggung tangan kanan Jeff. Jeff tersentak saat Elaina melakukan hal itu. Di negaranya, dia belum pernah melihat hal seperti itu.


"Namaku Elaina, paman," ujar Elaina saat melepas tangan kanan Jeff.


"Ehem. Wanita yang berdiri di samping paman adalah bibi Rachel, dan putri mereka, Audrey," jelas David.


Elaina melakukan hal yang sama terhadap Jeff. Dia meraih tangan kanan Rachel dan mencium punggung tangannya. Rachel dibuat takjub oleh gadis cantik itu. Saat Elaina melepas tangannya, dia segera meraih Elaina ke dalam pelukannya dan mencium kedua pipi gadis itu bergantian.


"Kau cantik sekali sayang. Akhirnya, aku bisa sedikit lega mengetahui David memiliki pasangan," tutur Rachel.


"Aku sempat khawatir padanya. Aku pikir dia gay," bisik Rachel di telinga Elaina.


Elaina tertawa saat mendengar penuturan dari bibi Rachel. Begitu juga dengan Rachel.


"Kau tahu. Aku pikir dia tidak tertarik sama sekali dengan wanita. Di sekelilingnya hanya ada pria saja. Yah, meskipun mereka tampan. Tapi, cukup membuatku khawatir dengan kehidupan percintaannya," Rachel menimpali ucapannya yang berhasil membuat Elaina dan dirinya tertawa terbahak-bahak.


David dan Jeff yang mendengar dan melihat tingkah mereka hanya bisa membulatkan kedua mata mereka.


Elaina dan Rachel terlihat sangat akrab. Padahal pertemuan ini adalah pertama kali untuk mereka.


"Sweatheart, apa kau membutuhkan mic?" tanya Jeff.


"Untuk apa?" Rachel balik bertanya kepada suaminya sambil membalikkan tubuhnya.


"Lihat saja sekelilingmu!" perintah Jeff.


Rachel melihat sekeliling mereka. Beberapa maid dan kepala pelayan yang sedang berada di sana terlihat menahan senyum saat mendengar ucapannya pada Elaina.


"Memangnya aku sekuat itu ya?" tanya Rachel pada suaminya.


"Menurutmu berbisik itu seperti apa?" tanya Jeff.


"Ish, kau itu sama saja dengan keponakanmu. Setiap kali di tanya pasti balik bertanya," kesal Rachel.


"Hahaha. Kau lucu sekali jika cemberut. Well, bisikan mu itu volumenya seperti saat kita berbicara sekarang," jelas Jeff.


Rachel menutup mulutnya. Dia sadar jika ucapannya terdengar oleh David. Statusnya sebagai bibi, menyelamatkan dia dari David yang terlihat menahan marah. Rachel memberikan senyum terbaiknya pada David sambil menepuk pundaknya.

__ADS_1


"Cepatlah beri kami cucu. Audrey juga pasti senang memiliki keponakan dari kalian," ucap Rachel sambil berlalu.


"Iya kak. Aku akan menjaganya dengan senang hati," timpal Audrey sambil tersenyum.


"Hai, Audrey! Aku tadi belum menyapamu," ujar Elaina.


"Hai, kak! Senang bisa bertemu denganmu," jawab Audrey sambil tersenyum.


"Akhirnya dia tersenyum," ucap Rachel sambil menatap wajah putri semata wayangnya.


"Memangnya dia kenapa?" tanya David.


Tidak bisa dipungkiri, David juga menyayangi Audrey. Dia menganggap Audrey sebagai adik perempuannya sendiri. David anak tunggal, jadi dia sangat senang dan memanjakan Audrey tanpa sepengetahuan paman Jeff.


"Saat tahu akan pindah ke Indonesia, Audrey tidak bersemangat," jelas Rachel.


"Mengapa kau tidak bersemangat?" tanya David sambil mensejajarkan wajahnya pada Audrey.


"Aku takut tidak memiliki teman," jawab Audrey pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Tapi, aku senang, saat melihat kak Elaina," jawab Audrey sambil mengangkat kepalanya dan tersenyum.


"Aku senang kau ingin berteman denganku," ujar Elaina sambil mendekati Audrey.


David dapat menangkap makna yang tersirat dari ucapan Elaina. Sontak saja dia langsung meraih tangan Elaina dan memeluk pinggangnya.


Elaina terkejut saat David tiba-tiba meraih tangan dan memeluknya. Audrey juga tak kalah terkejutnya.


"Audrey, ingin keponakan kan?" tanya David. Dia tahu sudah membuat Audrey terkejut.


Gadis kecil berusia delapan tahun itu hanya mengangguk pelan. Dia merapatkan kedua bibir menahan tangis karena terkejut atas tindakan kakak sepupunya yang tiba-tiba.


"Nah, jika kak Elaina selalu menemani Audrey. Bagaimana kakak bisa memberimu seorang keponakan yang lucu," jelas David sambil mengangkat sebelah alisnya.


Audrey langsung tersenyum. Dia langsung saja menjawab ok tanpa berpikir panjang. Beda halnya dengan Elaina yang terperangah mendengar ucapan David.


"Ayo, mommy kita kembali ke kamar! Oh iya, kak Elaina, aku akan mencari mu jika kau sudah memiliki waktu untuk menemaniku bermain," ujar Audrey sambil mengedipkan sebelah matanya.


Kedua bola mata Elaina berhasil membulat. Untung saja bola matanya tidak sampai keluar dari tempatnya.


"Ok. Perkenalannya sudah selesai! Ayo kembali ke kamar!" ajak David.

__ADS_1


"Hey, son. Kau melupakan seseorang," ujar Jeff.


"Ah, hampir saja aku lupa," ucap David saat melihat Theo.


Apalah dayaku tuan. Beginilah nasib seorang asisten, apalagi ini pertama kalinya pertemuan kita. Ucap Theo dalam hati.


"Sayang, dia Theo. Mulai hari ini dia akan menjadi asisten pribadiku," ucap David.


Elaina hendak mengulurkan tangan kanannya pada Theo. Namun, David dengan cepat mencegahnya.


"Kenapa?" tanya Elaina bingung.


"Jangan bilang kau akan mencium punggung tangannya juga! Tak akan kubiarkan kau melakukannya!" seru David.


"Ouch!" teriak David.


Elaina dengan senang hati mencubit perut kekasihnya karena asal bicara.


"Apa salahku, sayang?" tanya David sambil menahan sakit.


"Tidak semua orang yang bertemu aku cium punggung tangannya. Orang tuaku mengajari tata krama saat bertemu dengan orang yang lebih tua harus mencium punggung tangan sebagai tanda hormat," jelas Elaina.


"Oh, jadi itu suatu etika di sini. Sangat bagus. Aku menyukainya," ujar Jeff.


"Bagaimana dengan yang seumuran atau hanya berbeda beberapa usia saja?" tanya David.


"Cukup bersalaman saja," jawab Elaina sambil mengulurkan tangannya lagi pada Theo.


Tak


"Au, kenapa kau memukul tanganku?" tanya Elaina sambil menahan sedikit rasa pedas.


Bersambung ...


* * *


Advertisement


...ANISA...


...(Tyatul)...

__ADS_1



__ADS_2