336 Hours

336 Hours
Bab 22. Ayam


__ADS_3

"APA?" teriak David tak percaya mendengar permintaan Elaina.


"Bukannya kau sudah janji?" Elaina balik bertanya.


"Tapi tidak untuk yang satu itu," ucap David tegas.


David memijat pelan keningnya yang tiba-tiba terasa pusing mendengar permintaan gadisnya. Gadisnya sungguh seorang wanita yang aneh bin ajaib. Hampir setiap wanita yang David temui maupun sahabat dekatnya pasti yang disukai mereka adalah mengoleksi perhiasan, pakaian mewah atau limited edition, tas branded, dan apapun yang berbau wanita.


Elaina sangat jauh berbeda dari gadis-gadis lain. Bisa-bisanya dia meminta memelihara dua pasang ayam broiler di mansion. Apalagi harus jantan dan betina.


"Apa tidak ada yang lain?" tanya David memohon.


"Tidak," jawab Elaina singkat sambil menggelengkan kepalanya.


David merasa sangat frustasi. Dia berdiri dan mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Susah payah dia mengingat kata demi kata yang diucapkan Elaina. Sangat tidak mungkin jika seorang gadis hanya meminta untuk memelihara ayam.


Bukannya David tidak ingin mengabulkan permintaan Elaina. Akan tetapi, dia memiliki sebuah trauma kecil masa lalu.


Saat itu David berusia enam tahun. Dia sedang berkunjung ke rumah kakeknya di Kentucky. Kakek David sangat senang beternak. Terutama ayam. Salah satu ayam broiler tanpa sengaja tertabrak truk pengangkut ayam.


David melihatnya dengan jelas jika ayam itu tewas di sana. Lehernya terlihat putus. Rasa penasaran David kecil mengalahkan ketakutannya. Dia berusaha melihat lebih dekat. Setelah truk itu minggir dari sana, David kecil segera berjalan ke arah ayam.


Tinggal beberapa langkah lagi dia sampai di tujuan. Tiba-tiba ayam itu bangun dan terbang ke arahnya dengan leher yang hampir putus. Sontak saja membuat David berteriak kencang.


Setelah kejadian itu, David demam selama satu Minggu. Dia mulai takut terhadap ayam. Sangat berbeda jika ayam itu sudah diolah menjadi makanan. Sejak saat itu, dia tidak mau lagi ke peternakan ayam kakeknya.


Sekarang, gadisnya justru meminta sesuatu yang sangat mustahil untuk dia kabulkan. David masih betah melihat keluar jendela. Dia berusaha berpikir jernih.


"Sayang, apa tidak ada yang lain?" tanya David lagi.


Dia masih berusaha untuk membujuk Elaina memilih keinginan yang lain.


"No," jawab Elaina sambil menggelengkan kepalanya.


"Rumah baru," tawar David.


"No."


"Berlian."


Elaina tidak langsung menjawab, membuat David memalingkan wajah menatapnya. Wajah Elaina terlihat bersemangat, dan bola matanya tampak berbinar saat mendengar tawaran David yang sudah pasti sangat sulit di tolak oleh kaum hawa. David merasa ada harapan di sana.


"No."


Jawaban singkat Elaina membuat harapan David hilang.


"Mobil," ucap David.


"No."


"Ini yang terakhir. Aku akan memberikanmu mall terkenal di ibu kota," tawar David sambil menatap wajah gadisnya.


Elaina kembali terdiam. Terlihat sedang berpikir.

__ADS_1


Mana ada yang akan memberikan kekasihnya mall, kecuali aku. Kau pasti tidak akan menyangka kan. Lagipula mall itu milikku. Ini pasti berhasil. David bermonolog di dalam hatinya.


"Tidak," jawab Elaina singkat.


"What? Sayang, yang akan kuberikan padamu adalah sebuah mall yang terkenal," tanya David bingung.


"Terus kenapa?" tanya Elaina.


"Sayang, apa jangan-jangan kau tidak tahu apa itu mall?" tanya David sambil memegang kedua lengan Elaina.


"Auw," teriak David.


"Mengapa kau mencubitku?" tanya David sambil meringis kesakitan.


Elaina sangat geram dengan pertanyaan David yang secara tidak langsung mengatai bahwa dia sama sekali tidak tahu tentang mall. Spontan saja Elaina mencubit perut kiri David.


"Memangnya aku tidak tahu apa itu mall. Aku memang tinggal di kampung, lebih tepatnya di pelosok pulau Borneo. Tapi aku masih tau, dan pernah memasuki mall," oceh Elaina panjang lebar.


"Memangnya susah ya, hanya memberiku sepasang ayam broiler," ucap Elaina dengan wajah sedih.


"What? Sayang, tadi kau tidak mengatakan sepasang ayam!" teriak David.


"Hiks. Ya sudah, kalau kau tidak mau. Aku pulang saja," rajuk Elaina sambil menitikkan air mata yang dibuat-buat.


"Sayang, stop!" perintah David.


Elaina yang baru saja bangkit dari sofa, langsung terhenti karena David memegang lengan kirinya. Sedangkan David sendiri tidak tega melihat gadisnya yang terlihat sedih bahkan hampir menangis.


Elaina berhenti dan menatap David. Got you! Terakhir keluarkan air mata sedikit. Elaina bermonolog di dalam hati.


Elaina sedikit terkejut mendengarnya. Dia merasa ada sesuatu di antara David dan ayam.


"Apa kau takut ayam?" tanya Elaina curiga.


"Ten-tu saja tidak. Mengapa aku harus takut ayam," jelas David.


"Lalu apa?" tanya Elaina.


"A-ku hanya tidak bau kotorannya saja," timpal David.


"Apa benar hanya itu?" tanya Elaina selidik.


"Hanya itu sayang," jawab David.


Elaina menatap David sekilas. Lalu, menghempaskan kembali bokongnya ke sofa.


Dia menatap pria yang kini sudah menjadi kekasihnya. David masih bersikukuh dengan pendiriannya.


"Aha, begini saja. Jika kau bisa menebak tebak-tebakan dariku, aku akan dengan senang hati mengganti keinginanku," tantang Elaina.


David memicingkan sebelah mata sebelum menyetujui tantangan Elaina.


"Ok. Aku setuju. Jika aku kalah, kau akan mendapatkan ayam-ayam-mu," tutur David.

__ADS_1


"Sangat gampang sekali. Apalagi kau itu orang luar negeri," tutur Elaina.


"Apa hubungannya?" tanya David.


"Tentu saja ada. Pertanyaannya apa bahasa Inggrisnya nenek minta uang?" tanya Elaina.


"Sayang, kau yakin itu tebak-tebakan?" tanya David tak percaya dengan pertanyaan yang baru saja di dengarnya.


"Seratus persen yakin," jawab Elaina.


"Apa kau pernah bermain tebak-tebakan?" tanya David masih tidak percaya.


"Kau meremehkan aku ya?" tanya Elaina.


"Tentu saja tidak sayang," jawab David cepat.


"Kalau begitu cepat jawab!" perintah Elaina.


Dengan perasaan ringan dan yakin, David menjawab pertanyaan itu dengan penuh keyakinan.


"Grandma asking for money," jawab David penuh percaya diri.


"Tetot," jawab Elaina sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"What? Kenapa bisa salah?" tanya David tak percaya.


"Ya salah saja. Jawabanmu salah, sayang," jawab Elaina.


"Sayang nenek itu bahasa Inggrisnya kan grandma atau grandmother. Salahnya di mana?" tanya David.


"Aku tidak akan menjawabnya. Aku akan memberimu kesempatan untuk berpikir lagi sebelum menjawab," jelas Elaina.


David berusaha berpikir keras. Dia adalah asli orang luar Indonesia. Hanya menterjemahkan seperti itu, tentu saja sangat mudah baginya.


"Sudah belum?" tanya Elaina.


"Sebentar sayang, sedikit lagi," ucap David.


"Aku akan hitung mundur. Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh ..." tukas Elaina.


"Beri aku clue nya!" pinta David.


"David, memangnya kau pikir ini kuis di televisi?" tanya Elaina.


"Huft, jadi apa sayang? tanya David.


"Apa kau sudah menyerah?" tanya Elaina.


"Tidak, aku tidak menyerah" ucap David.


"Kau boleh juga. Masih tetap pada pendirian-mu," goda Elaina.


"Jadi apa jawabannya?, tanya David.

__ADS_1


"Sangat gampang sekali, jawabannya adalah ...


__ADS_2