
Wajah Elaina memerah saat David menghentikan pergumulan mereka. Dia ingin menyembunyikan wajahnya dari pria yang sekarang berstatus menjadi kekasihnya itu.
"Kau kenapa?" tanya David.
"ish, masih saja bertanya," gerutu Elaina kesal.
"Apa kau kesal aku menghentikannya?" tanya David sambil menggoda Elaina.
"Aku lapar!" ketus Elaina membalas David.
David beranjak dari kasur king size miliknya. Dia meraih kedua tangan Elaina. Membantu gadis itu berdiri. Posisi mereka kini berdiri. David merangkul kan kedua tangan Elaina ke lehernya. Sedangkan tangan kekarnya melingkari pinggul kekasihnya.
"Sudah ingat tentang pakaianmu?" tanya David.
Elaina hanya menganggukkan kepalanya yang tertunduk. Dia berusaha menahan malu yang semakin menderanya.
"Aku tidak ingin melihat kau ceroboh lagi!" tegas David.
"Ok," jawab Elaina singkat.
"Perbaiki dulu pakaianmu lalu kita ke bawah!" perintah David dengan suara lembut.
David membalikkan tubuh Elaina mengarah walk in closet mereka. Setelah itu, dia memilih duduk di sofa menunggu Elaina berpakaian.
"Kau harus menungguku ya?" tanya Elaina.
"Ya."
"ish, emangnya aku anak kecil harus di tunggu," kesal Elaina.
"Kau ingin aku membantumu?" tanya David.
"Tidak, tidak," jawab Elaina cepat.
Elaina tak ingin berlama-lama. Dia segera masuk ke dalam walk in closet, tak ingin David melihat tubuhnya lagi.
"Bisa-bisa aku tidak jadi memperbaiki bajuku," gerutu Elaina pelan.
Elaina mengenakan penopang bukit kembarnya dengan cepat. Setelah itu, mengenakan kembali kaos yang tadi dia kenakan. Dia tidak sempat melihat ke arah cermin. Elaina segera membalikkan tubuhnya.
"Aaa ..." teriak Eliana.
"Sejak kapan kau berdiri di sana?" tanya Elaina.
"Sejak kau mulai mengenakan bra milikmu," jawab David santai.
Tubuhnya bersandar di samping pintu. David berdiri menyamping sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ayo turun! Kasihan makanannya nanti dingin," ajak David sambil meraih tangan kanan Elaina.
Elaina membulatkan kedua matanya. Bisa-bisanya pria mesum itu kasihan dengan makanan. Tak mau memperpanjang perdebatan, dia membiarkan David memimpinnya turun ke bawah. Dia berjalan dengan wajah cemberut. Akhirnya pagi panas yang bergairah dapat mereka lewati dengan diakhiri sarapan pagi.
...✳️✳️✳️...
"Ada apa dengan kakimu?" tanya David sambil meletakkan bolpoin di atas meja kerjanya.
"Memangnya kakiku kenapa?" tanya Elaina balik.
"Hmm. Baru beberapa jam berstatus menjadi kekasihku, kau sudah tambah cerewet saja," tutur David.
__ADS_1
"ish, kau sendiri yang menginginkan aku menjadi ke kasihmu," jawab Elaina tak mau kalah.
"Bukannya kau juga sangat menyukaiku?" David melontarkan pertanyaan balik ke Elaina.
"Mana ada," jawab Elaina cepat.
"Ok. Saat kau menyapu halaman luar mansion, kau selalu mencuri pandang ke arah jendela kamarku," tutur David pelan.
"Kan sudah tugasku menjaga semuanya tetap bersih," jawab Elaina sambil tersipu.
"Ok. Dalam jarak kurang lebih dua puluh lima meter kau sangat hebat bisa melihat jendela kamarku berdebu atau tidak. Kau hebat sekali sayang," goda David.
Elaina hanya diam saja. Jangan ditanyakan lagi bagaimana warna wajahnya.
Oh my God. Kenapa dia bisa tahu sih. Batin Elaina.
"Kau!" pekik Elaina pelan.
"Aku kenapa?" tanya David.
"ish, David aku bosan disini," rajuk Elaina sambil menghempaskan bokongnya di atas sofa.
Rasa bosan mendera Elaina. Biasanya di saat ini, dia sudah sibuk membersihkan halaman mansion dan mengelap kaca jendela bagian belakang. Tiba-tiba harus diam di dalam ruangan, dan tidak melakukan apa-apa membuat gadis itu dilanda kejenuhan yang cukup parah.
David beranjak dari kursi kebesarannya. Dia menghampiri Elaina, dan duduk di sebelahnya .
"Jadi kau ingin melakukan apa?" tanya David.
"Apa saja," jawab Elaina cepat.
Dia menoleh David. Elaina langsung menyilangkan kedua tangannya di depan David. Wajah mesum David terukir sangat jelas di sana.
"No! Aku tidak mau melakukannya lagi," ketus Elaina.
"Yang tadi pagi," jawab Elaina.
Elaina menutup mulutnya saat menyadari ucapannya barusan. Mengatakannya sama saja artinya jika dia masih memikirkan kejadian tadi pagi.
"Wow... Aku tidak mengira kau masih memikirkannya," Goda David.
"David!" teriak Elaina sambil menutup wajahnya.
"Hahaha," David tertawa sambil meraih kedua tangan Elaina.
"Dengar sayang! Aku tidak akan melakukannya sampai melewati batas. Untuk hal itu, aku tidak akan pernah mau memaksamu," jelas David sambil mengigit pelan telinga kiri Elaina.
"David! Tuh kan, mulai lagi!" rajuk Elaina.
"Ok, ok. Ini," ucap David sambil memberikan kartu black card.
"Ini apa?" tanya Elaina.
Elaina mengambil kartu hitam yang diberikan David. Dia membolak-balikkan kartu di tangannya.
"Kau bisa pergi shopping dengan kartu itu. Apapun bisa kau beli," jelas David sedikit bangga.
Baru kali ini dia memberikan kartu hitam kepada seorang wanita. Rasa senang dan bangga sebagai seorang pria menyerang dirinya.
"Aku tidak mau," ucap Elaina sambil menyodorkan kartu hitam itu kembali pada David.
__ADS_1
"Sama-sama sayang," ucap David tanpa memperhatikan tangan Elaina.
Elaina melongo mendengar ucapan David yang sangat tidak nyambung.
"Apanya yang sama-sama?" tanya Elaina.
David menatap wajah wanitanya. Kemudian beralih menatap sekilas ke tangan Elaina yang memegang sesuatu. Matanya sedikit membulat saat melihat kartu hitam yang disodorkan kembali oleh Elaina. David menautkan kedua alisnya. Dia mengambil dompet si saku celananya, dan mengeluarkan sebuah kartu.
"Ini," ucap David sambil memberi kartu hitam yang lain.
"Ya ampun, David!" pekik Elaina sambil menepuk keningnya.
"Bukannya kurang ya?" tanya David.
"David," ucap Elaina sambil membetulkan posisi duduknya. "Aku bukannya minta tambah kartu, justru aku mau mengembalikannya padamu," jelas Elaina.
"Apa? Mengapa kau tidak mau? Bukannya semua wanita suka uang?" tanya David tak percaya.
"Itu mereka. Aku memang butuh uang. Tapi, tidak begini caranya," tutur Elaina.
"Tapi sayang, aku jarang sekali membawa uang cash," jelas David.
"Memangnya di wajahku tertera kalimat 'pecinta uang'?" tanya Elaina sambil menunjuk wajahnya sendiri.
"Hahaha. Kau lucu sekali. Mana ada tulisan seperti itu di wajahmu," ucap David sambil tertawa.
"Ish, kau itu. Pokoknya aku tidak mau," ucap Elaina.
"Ok, ok. Jadi apa yang kau inginkan?" tanya David.
Elaina tampak berpikir saat David menanyakan keinginannya. Memang selama ini ada satu keinginan yang belum terwujud. Dia masih menimbang-nimbang, apa akan diutarakannya atau tidak.
"Mengapa alis-mu seperti itu?" tanya David.
"Aku sedang berpikir," jawab Elaina singkat.
"Memangnya apa yang kau pikirkan?" tanya David penasaran.
"Memikirkan kau. Mengapa berubah menjadi cerewet sekali," ucap Elaina dengan malas, dia menatap lesu pada David.
"Sepertinya hanya berlaku untukmu saja," goda David.
Elaina menatap David jengah. Energinya terkuras habis saat berhadapan dengan David.
Baru beberapa jam menjadi kekasihnya, sudah repot seperti ini. Bagaimana jadinya nanti. Elaina bermonolog di dalam hatinya.
"Jadi sudah menemukan apa yang kau inginkan?" tanya David.
"Sudah," jawab Elaina antusias.
"Apa itu, princess?" tanya David.
"Janji ya, kau harus penuhi keinginanku?" tanya Elaina penuh selidik.
"Apapun itu akan aku penuhi," jawab David penuh percaya diri.
"Aku pegang janjimu, sayang," tutur Elaina sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Tentu saja," ucap David.
__ADS_1
"Jadi apa keinginanmu?" tanya David.
"Aku ingin ...