
Suara pintu kamar mandi yang dibuka dari dalam membuat David sedikit tergelak. Pria atletis itu sempat tertidur saat menunggu istri tercintanya membersihkan diri di kamar mandi. Hari ini mereka libur latihan. Namun, informasi yang baru saja didapatnya dari Brayan berhasil membuat otaknya terkuras.
Ayah kandung Elaina kembali hadir disaat yang tidak tepat. Semua perasaan David bercampur aduk. Dia bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Elaina.
David saja yang tidak memiliki hubungan darah dengan ayah mertuanya merasakan perasaan yang campur aduk. Apalagi Elaina yang merupakan putri kandungnya. Entah apa yang akan terjadi nanti?
David segera beranjak dari sofa dan melangkahkan kaki ke kamar mandi tanpa memperhatikan Elaina yang sudah berdiri dengan gaya sensual di depan pintu kamar mandi.
Setelah masuk ke dalam kamar mandi, David segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Elaina sedikit terkejut saat mendengar suara pintu yang terkunci dari dalam. Tidak biasanya David mengunci pintu kamar mandi.
Pria itu dengan senang hati membiarkan pintu kamar mandi tidak terkunci bahkan dibiarkan terbuka sedikit. Tapi tidak untuk kali ini.
Elaina tak ingin ambil pusing. Rencana pertama tidak berhasil, dia langsung melancarkan rencana kedua. Wanita itu segera naik ke atas tempat tidur. Dia merapikan seprai dan menata bantal dan guling untuk menopang tubuhnya agar terlihat se xy.
Rencana tinggal lah rencana. Elaina tertidur menanti David yang tak kunjung keluar dari kamar mandi.
Merasa keadaan di luar kamar mandi aman, David bergegas keluar. Sebenarnya dia juga tidak tahan berada cukup lama di dalam sana. Akan tetapi, dia harus melakukan hal itu.
Selesai mengeringkan tubuh, David mengenakan celana boxer dan kaos tak berlengan. Dia menaiki tempat tidur perlahan, tak ingin membuat istri kecilnya terbangun.
"Sorry babe. Ini demi kebaikanmu. Kebaikan kita bersama," ucap David lembut sambil mengecup lembut kening Elaina.
Keesokan siangnya, Elaina terbangun dengan posisi langsung terduduk. Dia bermimpi sesuatu yang sangat mengerikan. Bahkan mimpi itu terasa begitu nyata. Elaina langsung menoleh ke samping mencari sosok pelindungnya. Namun, David tidak berada di sana.
Elaina bangkit dari tempat tidur. Mengambil ponsel yang dia letakkan di atas meja dekat sofa. Jam digital pada layar ponselnya menunjukkan pukul dua belas lebih dua puluh sembilan menit. Dia terkejut mendapati dirinya yang bangun lewat tengah hari.
"Bagaimana bisa aku bangun lewat tengah hari?" tanya Elaina pada dirinya sendiri setengah berteriak.
__ADS_1
Dia menghamburkan diri ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sarapan pagi telah lewat. Saat ini, David pasti sudah berada di meja makan untuk makan siang. Elaina secepat kilat membersihkan diri dan berpakaian. Selesai mengurus dirinya sendiri, Elaina segera turun ke lantai bawah menuju ruang makan.
Sekali lagi Elaina terkejut melihat ruang makan yang kosong. Dalam artian tidak ada David. Berbagai menu makanan di atas meja makan saja yang penuh.
"Cici!" panggil Elaina.
Mendengar nyonya mudanya memanggil, Cici segera menghampiri.
"Iya nyonya," jawab Cici sambil memberi hormat.
"Di mana David?" tanya Elaina.
"Oh, iya hampir lupa! Tadi tuan berpesan agar nyonya harus makan siang lebih banyak karena tadi pagi tidak sarapan," jawab Cici.
"Yang aku tanya suamiku, bukan pesan darinya," oceh Elaina.
"Eh, iya ya. Tuan David tadi pergi keluar dengan tuan Theo, nyonya," jawab Cici yang akhirnya mengerti pertanyaan sederhana Elaina.
Kejadian kemarin malam terulang lagi dia gagal melancarkan rencananya. Air mata Elaina meleleh tanpa dia sadari. Cici yang melihat nyonya mudanya menangis segera menghampiri dan menghibur sang nyonya.
Air mata Elaina bukannya berhenti justru semakin menjadi-jadi. Cici semakin kalang kabut melihat reaksi nyonya-nya. Nyonya mudanya menangis tanpa bersuara.
Makan siang Elaina selesai dengan sedikit drama. Cici yang tidak menahu alasan dibalik dirinya menangis justru membantunya makan dengan menyuapi Elaina dengan sabar. Cici mengerti akan kondisi nyonya mudanya yang masih berusia belia. Bisa jadi saat ini kondisinya sedang labil.
Selesai makan siang, Elaina memilih menenangkan diri di halaman belakang mansion seorang diri. Tadinya Cici ingin menemani Elaina di sana. Namun, Elaina menolak. Saat ini, dia butuh waktu untuk sendiri.
Akhirnya, Cici hanya dapat mengawasi nyonya mudanya dari balik jendela ruang tengah yang mengarah langsung ke halaman belakang mansion.
__ADS_1
"Cici!" panggil pak Griffin.
"Eh moyong," Cici menoleh ke sumber suara. "Ya ampun, pak G. Cici kan jadi latah," oceh Cici.
"Siapa suruh kau melamun," balas pak Griffin.
"Ih, pak G. Cici lagi jagain nyonya dari kejauhan. Pesan tuan David, Cici harus jagain nyonya," jelas Cici.
"Ini," ucap pak Griffin sambil menyerahkan ponsel pada Cici.
"Buat Cici, pak?" tanya Cici polos.
"Tuan David telpon. Cepat dijawab jika tak ingin gaji mu dipotong!" seru pak Griffin.
Cici segera meraih ponsel pak G alias pak Griffin. Dari awal dia bekerja di mansion, Cici sangat kesulitan menyebut nama pak Griffin. Alasannya sangat klasik, karena sulit diucapkan.
"Halo tuan."
"Cici, bagaimana keadaan nyonya? Apa dia sudah bangun? Apa sudah makan siang?" David mencecar Cici dengan tiga pertanyaan sekaligus.
"Nyonya sudah bangun tuan. Nyonya juga sudah makan siang. Tadi Cici yang suapi nyonya," jawab Cici.
"Mengapa harus kau suapi?" tanya David bingung.
"Tentu saja harus Cici suapi. Jika tidak, nyonya pasti belum makan siang," jawab Cici.
"Cici, jawab yang benar!" seru David.
__ADS_1
"Hehe, iya tuan. Maaf. Nyonya tadi menangis jadi .." ucapan Cici terpotong karena tidak mendengar suara tuannya di seberang.
"Halo tuan, tuan, halo," ucap Cici.