
David memohon pada Elaina agar mengulangi ucapan gadis itu. Dia ingin mendengar ucapan gadis itu sekali lagi dengan jelas. Sebenarnya Elaina mengucapkannya dengan sangat jelas. Akan tetapi, tadi dia dalam posisi sedang berbaring menyamping.
David ingin melihat kesungguhan Elaina saat mengucapkan kalimat tadi. Wajah David terlihat memelas. Memohon pada Elaina agar mengulangi ucapannya.
"No!" ketus Elaina.
"Oh, ayolah sayang! Sekali saja, please!" pinta David.
"Atau tidak jadi saja," gertak Elaina.
"Tidak bisa begitu," bas David.
"Ayolah, please!" pinta David. Kali ini dengan rengekan seperti anak kecil.
"Tidak mau! Kalau kau desak aku lagi, sebaiknya lupakan dan abaikan saja kalimat tadi!" kesal Elaina sambil memalingkan wajahnya dari David.
Kedua tangan David terlepas dari wajah cantik kekasihnya. Wajahnya terlihat sangat sedih. David melorotkan tubuhnya di lantai samping kasur. Wajah frustasinya kali ini terlihat lebih parah dari menahan hasrat.
David duduk di lantai dengan menekuk lututnya. Terlihat seperti seorang korban. Telinga Elaina menangkap suara seseorang yang sedang menangis. Meski pelan, namun dapat di tangkap dengan jelas oleh telinganya.
Masa dia menangis? Apa aku melukai perasaannya? Masa sampai begitunya. Dia kan laki-laki. Elaina bermonolog di dalam hatinya.
Terbesit perasaan tidak enak di hati Elaina. Bukannya dia tidak mau mengulangi ucapannya. Akan tetapi, hal itu membuatnya sangat malu. Mana ada seorang wanita yang melamar pria. Meskipun secara tidak langsung mengucapkannya.
David mendesaknya berkali-kali agar mengucapkan kalimat tadi. Jika saja mereka tidak berada di dalam kamar saat ini, mungkin Elaina akan pergi jauh untuk menyembunyikan wajahnya dari David karena malu.
Keadaannya justru berbalik saat ini. David terlihat seperti korban. Entah korban apa pun. Di tambah menangis pula. Rasa malu yang kuat kini enyah berganti rasa bersalah yang teramat sangat.
Elaina merangkak perlahan ke ujung tempat tidur. Ingin melihat kondisi David saat ini. Hatinya terenyuh saat melihat David meringkuk. Memeluk erat kedua kakinya yang ditekuk. Kepalanya ditundukkan di antara kedua kakinya yang ditekuk.
Air mata Elaina meluncur membasahi kedua pipinya. Dia merasa bersalah pada David. Pria gagah, tampan, sombong, dan bertubuh atletis kini terlihat tak berdaya.
Dia beranjak dari atas kasur dan mendekati David. Elaina memeluk David dari depan. Tubuh mungilnya tak mampu merengkuh seluruh tubuh David yang lebih besar darinya.
"Hei, apa aku melukai hatimu?" tanya Elaina lembut.
Tak ada jawaban dari si pemilik tubuh atletis. David tetap diam. Elaina hanya bisa mendengar suara tangisan yang di tahan.
__ADS_1
"Ayolah, Dave! Maafkan aku. Mungkin aku sedikit keras padamu," bujuk Elaina lagi.
David masih tetap bertahan dengan posisi diamnya. Dia tidak bergeming sedikit pun.
"Dave! Sorry! Please!" bujuk Elaina.
Suara tangis Elaina pecah. Dia menangis tersedu. Tangisannya sangat kencang hingga membuat telinga siapa pun yang mendengarnya akan sakit.
Mendengar tangisan Elaina, David merasa ada kesempatan untuk mengintip gadis itu. Elaina menangis seperti anak kecil yang di cubit. Untung saja kamar David kedap suara sehingga tidak akan terdengar dari luar.
David merengkuh tubuh Elaina dan memeluknya erat. Terjadilah drama tangis-menangis di antara mereka berdua.
"Ka-u su-dah ti-dak ma-rah? Hiks," tanya Elaina sambil terisak.
David masih memilih bungkam. Dia menjawab Elaina hanya dengan menggelengkan kepala saja.
"Ka-u ma-sih ti-dak berbi-cara. Ar-tinya kau ma-sih ma-rah. Hiks," rengek Elaina.
Ucapan masih terbata-bata karena sambil menangis.
"Ucapkan lagi, please!" pinta David.
Pandangan Elaina saat ini terlihat kabur karena banyaknya air mata yang tumpah. Dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah David yang berpura-pura bersedih.
"Iya," jawab David singkat.
Elaina mengelap air mata dengan kedua tangan. Di rasa belum kering. Dia mengelap dengan kedua lengan blusnya. Dia mengatur napas agar dapat berbicara dengan jelas. Sentuhan terakhir yang diberikan oleh Elaina pada wajahnya yaitu menghembuskan ingus dan mengelapnya dengan bagian bawah ujung blusnya.
Ya ampun, sayang. Untung saja aku mencintaimu. Jika tidak, aku tidak akan mau melihat kelakuanmu yang super jorok ini. David bermonolog di dalam hati.
Merasa sudah yakin, bibir Elaina mulai bergetar dan mengucapkan kalimat tadi yang ingin di dengar lagi oleh David.
David segera memasang wajah sedih saat Elaina menatapnya.
"Kali ini dengarkan baik-baik!" perintah Elaina.
David mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengulanginya lagi. Ini yang terakhir, ok," ucap Elaina.
Sekali lagi David hanya menganggukkan kepalanya.
"Kita menikah sa ..."
"Menikahlah denganku!" pinta David pada Elaina.
Belum sempat Elaina menyelesaikan ucapannya, David segera menangkupkan wajah Elaina dengan kedua tangannya. Dia menatap lekat mata Elaina dan melamar gadis pujaan hatinya. David menyatukan kening mereka. Menikmati dan meresapi momen haru yang pertama dan terkahir di dalam hidupnya.
"Maksud mu apa?" tanya Elaina.
"Sayang, aku melamar-mu. Aku tidak akan membuat kau mengatakannya lagi. Masa aku dilamar oleh seorang gadis ingusan!" ucap David yang berhasil membuat Elaina tersenyum.
"Ouch! Mengapa aku di cubit lagi?" tanya David bingung.
"Aku bukan gadis ingusan," oceh Elaina sambil tersenyum.
"Kan tadi kau mengeluarkan ingus mu! Apa kau lupa?" goda David.
"Dave!" rajuk Elaina
"Iya, iya," jawab David singkat sambil memeluk tubuh Elaina.
Elaina tertawa dalam dekapan pria yang dicintainya.
"Sayang, kau belum menjawab lamaran ku!" seru David.
Bersambung ...
* * *
Advertisement
Hai my lovely readers! Yuks mampir ke karya temanku. Ceritanya seru banget loh!
...IZINKAN AKU PERGI...
__ADS_1
...(pipihpermatasari)...