
"Kan baru kekasih," jawab Elaina dengan santainya.
"Kau bilang apa barusan, sayang?" tanya David.
"Aku bilang 'kan baru kekasih', begitu," Elaina mengulangi ucapannya.
"Terus?" pancing David.
"Ya, kalau sudah menjadi suami, baru aku mengakui statusmu," jelas Elaina.
"Ucapan-mu ada benarnya," timpal David.
"Ah! Lupakan yang baru saja aku katakan!" seru Elaina sambil mengguncang tubuh David.
"Tidak akan aku lupakan! Tapi,"
"Tapi apa?" desak Elaina.
"Tapi akan aku lakukan dengan senang hati. Hahaha ..." ucap David sambil tertawa.
"ish, kau itu!" rajuk Elaina.
Elaina sangat mudah dikerjai. Gadis itu juga tidak akan berlama-lama merajuk. David semakin jatuh cinta padanya.
"Sudah hampir jam dua belas. Ikut aku!" perintah David sambil melirik ke arah jam tangannya.
"Kemana?" tanya Elaina.
Kruyuk ... Krok ...
"Aku tidak perlu menjawabnya," ucap David sambil tersenyum.
Dasar cacing perut ngga ada akhlak! gerutu Elaina dalam hati.
Elaina mengikuti David dengan menahan rasa malu. Baru setengah hari, cacing di perutnya sudah dua kali membuatnya malu.
"Kau ingin makan apa?" tanya David sambil menggandeng tangan Elaina.
"Apa saja. Asal jangan daging," ucap Elaina.
"Sayang, itu artinya bukan apa saja," tutur David.
"Terserah kau saja," ketus Elaina.
"Ternyata saat kau lapar jadi lebih garang," goda David.
Elaina hanya diam saja. Dia ingin menyimpan sisa tenaganya untuk perjalanan menuju restoran.
...✳️✳️✳️...
"David, kau tidak salah mengajakku kesini?" tanya Elaina sambil berbisik di telinga David.
"Memang salahnya di mana?" David balik bertanya.
__ADS_1
"ish, kau ini. Tempat ini pasti sangat mahal," bisik Elaina.
"Sayang, kau lupa siapa kekasihmu ini?" goda David.
"ish, kau itu!" rajuk Elaina.
David sengaja mengajak Elaina ke restoran di sebuah hotel termegah di Jakarta. Dia tidak ada maksud untuk memamerkan kekayaanya. Hanya saja, besok bertepatan dengan penyaluran hobinya. Jadi, dia ingin Elaina tetap berada di dalam jangkauannya.
Gedung Z berada tidak jauh dari hotel yang saat ini mereka kunjungi. David berniat untuk menginap di hotel ini saat dia melakukan tugasnya.
"Kita akan menginap di sini," ucap David.
Ucapan David berhasil membuat Elaina tersentak.
"Ke-napa harus menginap di sini? Mansion kan sangat besar. Kamarmu juga sangat bagus," cecar Elaina.
"Ada beberapa hal yang harus ku selesaikan nanti malam dan besok," jelas David.
"Kalau begitu setelah makan, aku pulang saja ke mansion," pinta Elaina.
"Tidak. Kau tetap di sini bersamaku!" perintah David.
"Ta-pi."
"Aku menolak kata tapi, sayang," ucap David sambil mengelus pelan pipi kanan Elaina.
Elaina sudah tidak bisa melawan David lagi. Dia hanya bisa menurut saja. Makanan yang mereka pesan juga sudah datang, dan memenuhi meja.
Tadi pagi saat sarapan, dia tidak begitu memperhatikan Elaina makan. Pikiran David sedang sibuk menetralisir kan keadaan juniornya yang selalu bangun mendadak. Dia merasa semakin jatuh cinta pada Elaina.
"Kenapa kau menatapku terus?" tanya Elaina.
"Memangnya tidak boleh menatap wajah kekasih sendiri?" David balik bertanya.
"Terserah kau saja," jawab Elaina sambil melanjutkan makan siangnya.
Hampir satu jam mereka merampungkan makan siang. David segera memesan kamar presiden suite untuk mereka. Dia lebih memilih kamar mewah daripada kamar terpisah dengan Elaina.
Ada perasaan tidak enak saat berpisah sebentar saja dengan kekasihnya. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka menjadi pasangan kekasih. Meskipun Elaina masih belum mau mengakui cintanya pada David.
Kebiasaan buruk Elaina adalah setelah perutnya terisi, dia pasti mengantuk. Meskipun begitu, dia selalu ingat ajaran kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya selalu melarang mereka berbaring atau rebahan setelah makan.
Mereka selalu dianjurkan untuk tetap duduk tenang setelah selesai makan. Biasanya Elaina dan keluarganya akan berbincang-bincang atau bercerita tentang sekolah atau teman-teman.
Sangat tidak baik untuk usus dan lambung jika setelah makan langsung berbaring bahkan sampai tidur.
Elaina selalu memberi jarak tiga puluh hingga empat puluh lima menit dari selesai makan. Setelah itu, dia akan rebahan di kursi malas, salah satu tempat favoritnya.
Elaina tersenyum dalam hati saat mengingat keluarganya. Di lubuk hatinya yang paling dalam, dia sangat merindukan ayah dan ibunya yang telah tiada.
Elaina hanya mengikut setiap langkah kaki David. Tangan kirinya di genggam seperti anak balita. David menggandeng tangannya sangat erat sehingga membuat Elaina. sedikit meringis.
"Hei, David!" seru Elaina.
__ADS_1
"Ya," jawab David tanpa menoleh ke belakang menatap Elaina.
"Kau ingin meremukkan tangan kiri ku, ya?" tanya Elaina kesal.
Bugh
"Aduh!" teriak Elaina saat wajahnya menabrak punggung David. Pria di hadapannya tiba-tiba berhenti mendadak. Membuat dia tidak bisa menghindar.
"David!" teriak Elaina.
"Ya ampun, sayang. Mengapa menabrak ku?" goda David.
"Ayo kita masuk!" perintah David sambil membuka pintu kamar.
Lagi-lagi Elaina di buat terperangah oleh David. Kamar hotel yang akan mereka tempati sudah seperti rumah mini. Elaina melangkah masuk ke dalam. Dia mengelilingi setiap ruangan di dalam kamar hotel. Menikmati setiap inci ukiran dan ornamen kamar.
"Ini benar-benar menakjubkan," ucap Elaina pelan.
"Kau suka?" tanya David.
"Sangat. Aku pasti betah tinggal di sini," ucap Elaina tanpa sadar.
"Jadi, kau mau tinggal di sini?" tanya David sambil menggoda Elaina.
"Iya," jawab Elaina singkat dan spontan.
Elaina masih terpesona dengan keindahan kamar hotel. Kamar-kamar di mansion tidak kalah mewah. Tapi, kamar hotel ini lebih menang sedikit.
"Ok. Kita akan tinggal di sini," ucap David sambil duduk di atas sofa.
Elaina sibuk memperhatikan dan menikmati keindahan kamar, dan David sibuk memperhatikan Elaina yang berjalan kesana kemari dengan ekspresi yang sangat lucu.
"Ok," jawab Elaina pelan.
Langkah kakinya terhenti saat berada tepat di pintu kamar. Dia sangat yakin, jika pintu ini pasti mengarah langsung ke kamar utama. Tangan kanannya meraih gagang pintu, memutarnya perlahan.
"Waw!" seru Elaina.
Elaina sangat takjub melihat kamar yang sangat menakjubkan. Selama ini dia tinggal di dalam kamar yang hanya berukuran dua kali tiga meter persegi. Tapi, dia sangat bersyukur. Meskipun kecil, ada banyak kebahagiaan di sana.
Elaina menyisir setiap inci kamar mewah itu. Tempat tidur yang sudah pasti king size terlihat sangat menggiurkan untuk di tiduri. Apalagi saat ini, Elaina di dera kantuk. Dia mulai terbuai dengan permukaan kasur yang sudah pasti empuk.
David berjalan mengikuti Elaina. Dia berhenti tepat di depan pintu kamar, dan bersandar di sana. Melihat Elaina yang terlihat mengantuk, timbul niat jahil David.
"Sayang, aku bilang tadi kita akan tinggal di sini sesuai kemauan-mu," ucap David.
"Ok," jawab Elaina singkat.
David sangat yakin jika Elaina tidak fokus mendengar ucapannya. Dia menjawab juga hanya sekedarnya saja.
"Aku bilang, kita akan tinggal di sini," ucap David santai.
"Hah! Apa?" teriak Elaina sambil membalikkan tubuhnya menghadap David.
__ADS_1