
"Aku bilang kita akan tinggal di sini sesuai kemauan-mu!" tegas David.
"Mana ada aku bicara seperti itu!" dangkal Elaina.
"Kalau ada juga tidak apa-apa, sayang," ucap David sambil melangkahkan kakinya mendekati Elaina.
"Stop! Jangan mendekat lagi!" perintah Elaina.
"Aku ingin istirahat. Masa tidak boleh? Lagipula sekarang saatnya tidur siang," ucap David sambil melirik jam tangannya.
"Kamar ini kan luas. Kau cari kamar lain saja!" perintah Elaina.
"Sayang, mana ada kamar lain lagi. Hanya ini kamar untuk kita," jelas David sambil membuka jasnya.
David menggulung kedua lengan kemeja. Dia segera mendaratkan tubuhnya ke atas kasur.
"Ayo, sini!" seru David sambil menepuk kasur di sampingnya.
"No! Aku tidur di ruang tamu saja," ucap Elaina sambil berlalu pergi keluar kamar.
Belum sampai keluar kamar, tubuhnya sudah melayang di udara. Gerakan Elaina kalah cepat dengan gerakan David. David segera bangkit dari kasur saat gadis itu memilih untuk keluar kamar. Dia segera membopong tubuh Elaina seperti membopong sekarung beras.
David menghempaskan tubuh Elaina saat sudah mendekati tempat tidur. Dia menghimpit tubuh Elaina dengan tubuhnya. Dia tidak ingin Elaina kabur.
"Sayang. Bukannya tadi malam kita sudah tidur berdua?" tanya David.
"Kita memang tidur berdua dengan aku di bungkus seperti burito!" kesal Elaina.
"Jadi, kau berharap aku membiarkanmu tidur dengan menampilkan tubuh indah mu? tanya David.
"Ih, David. Bukan begitu juga. Dengarkan aku, please!" pinta Elaina.
"Ok. Aku akan mendengarkan mu," tutur David lembut.
"Pindahkan dulu tubuhmu! Aku sulit bernapas," tutur Elaina.
"Tidak. Begini lebih baik," ucap David.
"Bagimu! Tapi, tidak bagiku," keluh Elaina.
"Jadi bicara tidak?" tanya David.
David terkadang heran dengan dirinya yang selalu saja mudah terbawa suasana saat berada di samping Elaina. Ada saja perdebatan yang kurang menurutnya kurang berisi. Akan tetapi, dia sangat menyukainya.
Elaina mau tidak mau menuruti David. Karena sama saja hasilnya jika berdebat. Lebih baik menghemat tenaga.
__ADS_1
"Kita baru saja kenal tanpa sengaja dua hari yang lalu. Tiba-tiba kau memintaku menjadi kekasihmu beberapa jam yang lalu. Bagaimana bisa secepat itu kau berubah?" tanya Elaina.
"Sayang. Itu namanya kau bukan bercerita. Tapi, bertanya padaku!" seru David sambil tersenyum.
Elaina diam, dia berpikir yang dikatakan David ada benarnya.
"Terserah aku," ucap Elaina.
"Kenapa semenjak jadi kekasihku kau menjadi lebih cerewet dan berani?" tanya David.
"Kau sendiri yang membuatku seperti itu!" ketus Elaina.
"Ok. Terserah kau saja. Jadi, mau kau jawab atau tidak?" tanya David.
"Jawab dulu, nanti aku lanjutkan lagi!" seru Elaina.
"Ok. Aku baru menyadari mencintaimu saat kau turun tangga, berjalan lincah sambil memamerkan bukit kembar di balik kaosmu," bisik David pelan di telinga kiri Elaina.
Sensasi geli langsung menghampiri tubuh Elaina. Tubuhnya sedikit menggelinjang karena hembusan napas David.
David menyadari respon tubuh Elaina. Dia sangat senang melihat Elaina beraksi seperti itu. Sensitif sekali. Batin David. Seulas senyum dia tampilkan di dekat bibir bawah Elaina.
"David! Jangan menggodaku!" teriak Elaina.
"Aku tidak menggodamu, kau saja yang tergoda," balas David.
"Mau aku kecup, ya?" goda David.
"David!" teriak Elaina.
"Hahaha. Kau sensitif sekali sayang," goda David.
"Ish, kau itu! Jadi kau mencintaiku karena melihat dua bukit kembar ku?" tanya Elaina dengan polos.
"Kau memang sangat polos. Mana ada orang yang jatuh cinta hanya karena melihat bukit kembar," jawab David.
"Barusan kau bilang begitu!" ketus Elaina.
"Sayang. Saat itu aku merasa sangat marah saat beberapa pegawai pria di mansion melihat ke arahmu," jelas David.
"Jadi kau cemburu?" tanya Elaina.
"Mungkin," jawab David singkat.
"Aneh. Baru kali ini aku mendengar alasan seperti itu," ucap Elaina dengan polosnya.
__ADS_1
"Jatuh cinta itu tidak membutuhkan alasan," tukas David.
"Pasti ada alasannya jika seseorang jatuh cinta. Seperti, aku menyukaimu karena kau tampan, badanmu sangat atletis, apalagi senyuman mu," jelas Elaina panjang lebar tanpa sadar.
"Ada apa dengan senyumanku?" tanya David dengan irama menggoda.
"Senyuman mu sangat menawan. Hatiku sampai meleleh setiap kali melihat kau tersenyum. Oh iya, matamu. Aku suka kedua matamu," jelas Elaina tersenyum sambil membayangkan sosok David di ingatannya.
Jelas-jelas David sedang berada di atas tubuhnya saat ini. Mendengar ungkapan Elaina, David kembali mengorek lebih dalam lagi. Karena Elaina sedang dalam mode berkhayal.
"Memangnya kenapa dengan mataku?" tanya David penuh kelembutan.
"Aku suka warna matamu. Warna mata yang sama denganku. Hanya saja kau lebih terang. Saat kau menatapku, rasanya jantungku berpindah tempat. Tatapan matamu sangat intens dan menggoda," jelas Elaina yang masih terbuai dengan lamunannya sendiri.
"Jadi, apa kau menyukaiku?" tanya David.
"Kau itu bodoh, ya. Kalau aku sekedar suka, aku tidak akan merasa klepek-klepek seperti sekarang," jawab Elaina.
"Klepek-klepek? Apa itu, sayang?" tanya David bingung saat mendengar kata yang terdengar asing baginya.
"Maksudnya itu, perasaanku serasa bergetar. Ada perasaan deg-deg an saat berada dekat denganmu atau hanya sekedar melihatmu dari jauh," jelas Elaina.
"Coba lebih ringkas lagi?" pinta David.
Padahal dia sudah mengerti yang dimaksud oleh Elaina. Dia hanya ingin mendengar langsung ungkapan isi hati Elaina.
"ish, kau itu! Artinya aku sangat mencintaimu," jawab Elaina.
"Jadi, kau sangat mencintaiku?" David bertanya lagi pada Elaina untuk menegaskan kembali.
"Tentu saja. Sejak pertama kali melihatmu keluar dari kamar mandi. Mungkin bisa di bilang jatuh cinta pada pandangan pertama," jelas Elaina.
"Cinta pada pandangan pertama? Aku rasa lebih cocok dengan kalimat ini, jatuh cinta pada insiden junior pertama," ucap David pelan.
Elaina. yang dari tadi berkhayal sambil menatap langit-langit kamar hotel segera berpaling menghadap lawan bicaranya.
Kedua mata mereka saling beradu pandang. Elaina langsung tersadar dari lamunannya. Dua bola mata dan senyuman favoritnya terlihat nyata di sana.
Elaina memegang kedua pipi David. Dia ingin memastikan pria itu nyata atau tidak. Saat kedua tangannya menyentuh wajah David, dan mencubitnya, terdengar teriakan pelan yang sukses menyadarkan Elaina.
"Aw! Apa salahku, sayang?" tanya David sambil berpura mengadu kesakitan.
Elaina merasa sangat malu saat menyadari bahwa pria itu nyata. Salah satu sifat jeleknya, mudah terbawa suasana membawa pada pengungkapan isi hatinya pada David.
Lain halnya dengan David. Pria itu tersenyum simpul saat mendengar ungkapan Elaina. Mendengar ungkapan dari gadis yang dicintai, tentu saja membuat hatinya juga menghangat.
__ADS_1
"Aaa, David!" teriak Elaina.
Elaina merasa sangat malu. Sudah bisa dipastikan wajah putih mulusnya sudah berubah menjadi merah.