336 Hours

336 Hours
Bab 39. Pertemuan Pertama dengan Four B


__ADS_3

David masih tidak bergeming saat Bintang memanggilnya. Tatapannya saat ini terfokus pada bidadari yang sedang berjalan ke arahnya.


"Ehem, tuan!" panggil Theo.


Theo juga gagal membuyarkan lamunan David. Bintang dan Theo hanya bisa pasrah. Dapat mereka lihat, para tamu berusaha menahan tawa mereka saat melihat pengantin pria shock hingga mulutnya terbuka lebar saat melihat pengantin wanita berjalan masuk menuju pelaminan.


Tidak bisa dipungkiri, Elaina terlihat seperti bidadari. Wajah aslinya sudah cantik. Di tambah polesan sedikit dan gaun yang dikenakan semakin memancarkan aura kecantikan gadis itu.


Elaina berjalan perlahan dan semakin mendekat. Saat dia sudah berdiri di samping David, dia menatap David sambil tersenyum. Jika saja tadi dia membawa ponsel, sudah pasti dia akan mengambil gambar David yang saat ini terlihat lucu.


"Dave!" panggil Elaina.


David masih tidak bergeming. Dia terpesona akan kecantikan Elaina. Brayan dan keempat saudarinya yang duduk di barisan paling depan terlihat sangat geram. Dia ingin melakukan sesuatu agar David tersadar.


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Bree saat melihat jari telunjuk dan ibu jari Brayan bertemu.


Dengan melihat gerakan jari Brayan, Bree tahu, adik bungsunya itu pasti akan melakukan sesuatu pada David.


"Tentu saja akan menyadarkan dia. Masa kita ke sini hanya melihat David yang terperangah karena Elaina. Bisa-bisa acara pernikahannya batal," ucap Brayan.


"Jangan! Kau akan membuat orang lain melihatmu!" seru Bree sambil menahan tangan Brayan.


"Uhuk, uhuk. Tolong air!" perintah David.


Theo dengan cekatan segera meraih air putih yang berada tidak jauh dari pelaminan.


"Ini tuan," ucap Theo saat memberikan gelas kepada david.


David segera meraih gelas dan meminumnya. Bree dan Brayan menatap ke arah Bricia tidak percaya. Mereka tahu siapa dalang yang membuat David batuk seperti itu.


"Apa yang kau berikan padanya hingga dia begitu, Bricia?" tanya Bree.


"Tidak ada. Hanya seekor nyamuk yang membuat tenggorokannya sedikit pedas," jawab Bricia sambil terkekeh.

__ADS_1


"Hentikan! Jangan sampai Elaina menyadari kehadiran kita!" seru Brigita.


"Memangnya kenapa jika dia tahu tentang kita? Bukannya kita keluarganya juga!" tanya Bree bingung.


"Kau itu tidak ada hari tanpa lemot," ucap Bricia.


"Belum waktunya. Apalagi aku bisa merasakan bakat Elaina sangat luar biasa hanya saja dia belum terlatih dengan baik," ucap Brigita.


Suara pembawa acara pernikahan kembali mengisi ruangan. Semua tamu terdiam, termasuk empat kakak beradik B. Upacara pernikahan kembali di lanjutkan setelah pengantin pria sadar dari lamunannya.


Tingkah David menjadi lelucon di hari pernikahannya. Tapi, David tidak mempermasalahkan dirinya yang dijadikan bahan lelucon. Mau bagaimana lagi? Dia memang terperangah melihat kecantikan istrinya.


Ya, Elaina telah resmi menjadi istrinya. Saat ini mereka tengah sibuk menyalami tamu yang bergantian menghampiri mereka dan memberi selamat atas pernikahan mereka. Elaina tidak mengenal sebagian besar tamu yang hadir. Hanya beberapa tamu saja yang di kenal Elaina. Bukan berati saling mengenal. Itu juga karena mereka adalah publik figur yang terkenal. Tentu saja Elaina yang mengetahui tentang mereka, tapi mereka tidak mengenal Elaina.


"Sayang, apa kau lelah?" tanya David sambil berbisik.


"Sedikit," jawab Elaina sambil tersenyum pada seorang kenalan David yang menyalaminya.


"Apa kau ingin kembali ke kamar?" tanya David antusias.


"Mereka kan sudah besar. Mereka bisa mengurus diri mereka sendiri," ujar David yang telak mendapat tatapan tajam dari Elaina.


"Ok, ok," jawab David asal.


David sudah tidak tahan ingin memakan istri mungilnya. Tapi, sang istri justru masih ingin berada di keramaian. Dengan berat hati, David mengikuti keinginan istri tercintanya.


Melihat kedua adikku! Ya ampun, alasanku tidak masuk akal sama sekali. Ucap Elaina dalam hati. Dia tidak perlu melihat kedua adiknya. Elaina dapat melihat mereka dari tempatnya berdiri saat ini.


Bintang dan Moonela terlihat sangat bahagia. Dari mereka kecil, mendiang ayah dan ibu mereka jarang membawa mereka ke tempat keramaian. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di kebun buah milik sang ayah dan bermain di pinggiran sungai bersama.


Ayah dan ibunya tidak pernah memberi mereka kemewahan. Akan tetapi, mereka mendapat kasih sayang dan perhatian yang sangat ekstra dari mereka.


Elaina takut dan belum siap menghadapi malam pertamanya sehingga mulutnya hanya asal berucap saja untuk menghindari David.

__ADS_1


Empat kakak beradik B bersiap untuk menghampiri Elaina dan David. Mereka berniat untuk memberi selamat pada pasangan pengantin baru.


"Samarkan bakat kalian!" perintah Brigita saat hendak berdiri.


Brayan, Bree, dan Bricia segera menyamarkan bakat mereka dengan cara mereka sendiri. Di antara mereka berempat, Brayan yang memiliki cara menyamarkan bakat paling nyentrik. Dia menggoyangkan tubuhnya seperti ubur-ubur agar bakatnya tersamarkan.


"Bisa tidak kau ganti gayamu itu?" tanya Bree yang terlihat risih.


"Kau itu pria tulen atau bukan sih, Brayan?" Bricia menimpali.


"Terserah aku! Tentu saja aku pria tulen. Mau aku buktikan?" tantang Brayan sambil berpura meletakkan kedua tangannya di pinggang.


"Kau mau apa? Hentikan sekarang!" sergah Brigita.


"Kembar yang memulai duluan, kak!" seru Brayan tidak mau kalah.


"Ayo, kita hampiri mereka!" perintah Brigita.


David melihat empat kakak beradik B mendekati mereka. Dia sengaja mengundang mereka sebagai sahabat dekat. Untuk sekarang, mereka tidak ingin Elaina mengetahui tentang status mereka.


"Sayang, aku ingin kau berkenalan dengan sahabat baikku!" bisik David.


Elaina menoleh dan melihat empat beradik B. Sepintas ada perasaan rindu dan haru yang tiba-tiba menyerang Elaina. Dia merasa ada sedikit ikatan di antara dia dan keempat bersaudara B.


Bersambung . . .


* * *


Advertisement


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recomended banget loh. Yukss mampir!


...TERJERAT RANJANG SI KEMBAR...

__ADS_1


...(Weny Hida)...



__ADS_2