336 Hours

336 Hours
Bab 27. Lagi-lagi


__ADS_3

Hahaha ...


Suara tawa David membahana di seluruh kamar. Dia tahu kekasihnya itu pasti akan sangat kesal kepadanya. David sengaja mengecoh Elaina. Dia tidak ingin Elaina merasa takut jika harus menghitung sampai hitungan ketiga. Di hitungan pertama pasti masih belum timbul rasa takut. Untuk itu, David segera mengembalikan posisi hidungnya.


"David! Kenapa kau malah tertawa?" Elaina merajuk, dia melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kau lucu sekali sayang," tutur David.


"Sakit begini di bilang lucu. Coba kau bilang dari tadi, aku pasti tidak akan merasa kesakitan seperti ini."


"Memangnya kau punya cara agar hidungmu bisa kembali seperti semula tanpa sakit?" tanya David.


"Tentu saja. Aku kan ..."


Elaina tampak ragu-ragu menjawab David. Dia masih ragu apakah David melihat saat dia menyembuhkan seekor burung yang terluka atau hanya sekedar menggertaknya saja kemarin. Dia masih tidak begitu jelas mendengar ucapan David kemarin.


"Kau akan apa?" tanya David.


"Tidak akan apa-apa," Elaina menjawab dengan cepat. Dia tidak ingin David curiga.


Ya ampun sayang. Kau itu sudah polos, pelupa pula. Benar-benar paket komplit. Mengapa dari dulu aku tidak memperhatikanmu, ya. David bermonolog di dalam hati.


"Ok. Ceritakan padaku, mengapa tadi kau tiba-tiba ke ruang kerjaku?"


"Oh itu, aku haus," jawab Elaina.


"Bukannya di kamar sudah disediakan kulkas dan dispenser, ya!"


"Ah!" teriak Elaina sambil menutup mulutnya. Dia lupa jika saat ini sedang berada di kamar hotel, bukan di mansion. "Aku lupa. Hehehe," Elaina terkekeh akan kebodohannya sendiri.


"Kau itu," ucap David sambil mencubit ujung hidung Elaina dengan lembut.


David beranjak mengambilkan segala air putih untuk Elaina.


"Ini," ucap David sambil memberikan segelas air putih pada Elaina.


Gadis itu sangat kehausan. Terlihat dari segelas air yang di minumnya tanpa berhenti. David mengisi gelas dengan air yang penuh. Belum lagi air yang diisi David adalah air dingin. Meskipun seseorang dahaga, tapi tidak akan pernah bisa menghabiskan air dingin dalam sekali minum.


"Sayang, airnya dingin. Bagaimana bisa kau meminumnya dengan sekali minum?" tanya David.


"Aku haus."


"Itu aku juga tahu."


"Jadi?" tanya Elaina.

__ADS_1


"Jadi apa?"


"Oh ayolah, David. Untuk apa kita di sini?" tanya Elaina.


Senyum cerah menghiasi wajah David. Timbul niat jahatnya untuk menjahili kekasihnya.


"Kau ingin apa?" tanya David.


"Apa saja. Asal aku tidak bosan," jawab Elaina dengan cepat.


"Yakin?" tanya David sambil menaikkan kedua alis matanya.


"Tentu saja yakin," ketus Elaina.


"Ok sayang," ucap David.


David berdiri dan dengan gerakan perlahan membuka satu persatu kancing kemeja sambil menatap tajam kedua mata Elaina. Tatapan yang sangat menggoda.


Elaina yang dari tadi ribut, kini terdiam seribu bahasa. Apalagi melihat seorang pria tampan sedang membuka kancing bajunya dengan gerakan yang sensasional. Elaina dengan susah payah menelan salivanya.


Otaknya mendapat tiket untuk bertraveling. Tanpa dia sadari, mulutnya sampai terbuka. David tersenyum setiap kali kekasihnya bertingkah seperti itu.


Seluruh kancing kemeja David sudah terbuka sempurna. Dada bidang David terekspos dan di tangkap dengan cepat oleh kedua mata gadis polos itu.


Tangan kekar David beralih pada ikat pinggang kulit. Dia membuka perlahan dan melepaskannya dengan gerakan slow motion. Setelah berhasil melepas ikat pinggangnya, tangan David beralih pada kancing celananya.


Kancing celana panjang David terbuka. Tinggal sentuhan terakhir pada resleting celananya. David melepaskan kemeja dengan gerakan slow motion. Gerakan kedua bahunya membuat Elaina semakin terperangah. Baru setengah badan saja, otak Elaina sudah bertraveling jauh.


David semakin bersemangat menggoda Elaina. Dia sudah berlatih mengatur juniornya agar bisa di kontrol saat menatap wajah polos Elaina. Tangan David yang sudah menyelesaikan tugas melepas kemejanya, kini beralih pada celana yang tadi ditinggalkannya.


Kedua mata Elaina membulat. Mulutnya ternganga saat melihat David menurunkan resleting ke bawah. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ada sensasi aneh yang di rasakan Elaina di bagian inti. Gilanya, dia sangat menyukai sensasi itu.


Celana David melorot ke bawah tanpa hambatan. Meninggalkan ****** ***** boxer dan setumpuk daging. Kedua mata Elaina semakin membulat. Baru kali ini dia melihat pemandangan yang seperti ini.


Awal pertama kali bertemu dengan David, dia memang sudah pernah melihatnya. Akan tetapi, itu hanya sebuah insiden. Kali ini sangat jauh berbeda. David dengan sukarela membuka sendiri pakaiannya. Memberi pemandangan yang sangat menarik hasratnya.


Senyum smirk David terukir di sudut bibirnya. Dia dengan sengaja meletakkan kedua ibu jari tangannya di pinggang. Melakukan gerakan memutar di sekitar pinggangnya. Jangan di tanya lagi seperti apa wajah Elaina. Wajah gadis itu semakin memerah.


David berjalan mendekati Elaina perlahan. Dia meletakkan lutut kanan diantara kedua pa ha Elaina dengan gerakan yang sedikit e ro tis. Elaina dapat mencium aroma tubuh David. Aroma mint yang sangat disukainya.


"Sayang," bisik David lembut di telinga kiri Elaina.


Sekujur tubuh Elaina meremang. Sensasi geli kembali menyerang dirinya.


"Sayang, kerokkan punggugku! Aku rasa aku masuk angin," lanjut David.

__ADS_1


"WHAT?" teriak Elaina.


"Mengapa kau berteriak, sayang?" David berpura-pura tidak mengerti.


"Kau minta apa?" tanya Elaina dengan suara sedikit serak.


"Aku meminta kau untuk mengerok punggungku. Mengapa suaramu serak?" goda David.


"Kau!" seru Elaina.


"Aku kenapa? Bukannya tadi kau terlihat bosan di sini?" David balik bertanya pada Elaina.


Elaina terlihat mendengus kesal. Dia merasa sangat sia-sia otaknya bertraveling jika tahu bakal seperti ini jadinya. Raut wajahnya terlihat sangat kesal.


"Sayang, mengapa kau terlihat kesal?" lagi-lagi David menggoda Elaina.


"Tidak!" ketus Elaina sambil bangkit dari tempat tidur.


David membiarkan Elaina pergi. Dia sudah bisa menebak sebentar lagi Elaina pasti akan kembali lagi.


"Satu, dua, tiga."


"Di mana minyak kayu putih dan koinnya?" tanya Elaina dengan nada kesal.


"Pas di hitungan ketiga," gumam David.


"Di laci nakas paling bawah," jelas David sambil menahan tawa.


Posisi tubuhnya sudah telungkup sambil memeluk bantal. Dia sengaja membenamkan wajahnya lebih ke samping agar tidak terlihat oleh Elaina saat dia menahan tawa.


Elaina berjalan dengan menghentakkan kedua kakinya. Dia membuka dan menutup pintu laci dengan kasar. Hampir saja pertahanan David runtuh saat Elaina merajuk seperti itu.


Setelah mendapat yang dibutuhkannya untuk mengerok David, dia segera menaiki kasur dan duduk di samping David.


Senyum licik terukir di sudut bibir Elaina. Dia membuka tutup minyak kayu putih dan menumpahkannya lebih banyak ke seluruh punggung David. Dia meratakan dan memijat pelan punggung David.


Elaina tersenyum melihat koin yang kini berada di tangan kanannya. Dia mengangkat koin itu dan mendaratkan di punggung David dengan tenaga yang sangat kuat.


"Hmm, rasakan ini!" seru Elaina.


"Auw, sayang! Kau mau mengerok atau memisahkan kulit dari daging?" teriak David.


💕💕💕


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recomended banget loh! Penasaran kan? ... Yukss mampir! Di jamin seru deh ceritanya 😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2