
"Latihan perisai mu akhirnya berhasil," ucap Bree.
Dia sangat kasihan melihat wajah polos Elaina dalam kebingungan.
"Meskipun masih dalam radius kecil. But, well sepupu," Bricia menimpali.
"Ternyata harus dimotivasi lebih dulu. Jika saja aku tahu harus begitu, aku tidak perlu repot-repot mengajarimu dari kemarin," Bricia menimpali ucapan Bree.
"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya David sesaat setelah mendarat.
"Sensasi hangat apa ini?" belum selesai Elaina menjawab, David sudah menanyainya lagi.
"Entahlah! Ya, aku baik-baik saja," jawab Elaina.
"Tentu saja perisai mu," jawab Brayan setelah berhasil mendarat.
"Apa yang kau lakukan?" geram David pada Brayan.
Langkah David dihentikan olah Elaina. Dia tidak ingin David gegabah. Elaina yakin jika ada alasan dibalik Brayan melakukan itu.
"Tentu saja membantu kalian," jawab Brayan santai.
"Yang tadi itu kau sebut membantu?" geram David.
"Tentu saja. Memangnya kau mau aku bagaimana membantumu?" Brayan kembali bertanya sambil memasukkan sepotong roti tawar ke dalam mulutnya.
David menatap tajam Brayan. Pria itu masih tidak mengerti dengan maksud Brayan. Jika sudah menyangkut Elaina, dia tidak akan segan-segan bertindak.
"Dave! Tenanglah!" bujuk Elaina.
"Ini," ucap Brigita sambil meyerahkan handphone android miliknya.
David segera meraih handphone yang diberikan oleh Brigita. Gambar video yang belum diputar tampil di layar ponsel Brigita yang hanya perlu satu sentuhan hingga video itu berputar.
__ADS_1
David terkejut saat melihat video yang berisi rekaman saat dia menghindari serangan dari Brayan.
"Bagaimana?" tanya Brayan sambil merangkul pundak David.
David menoleh, menatap Brayan dengan kebingungan.
"Sama-sama," ucap Brayan.
David semakin tajam menatap Brayan. Pemuda itu justru membalas tatapan David dengan tersenyum.
"Dia gila ya?" tanya David pada Brigita.
"Enak saja kau mengataiku gila. Aku itu menjawab ucapan terima kasih mu!" seru Brayan tak terima.
"Percaya diri sekali," ujar David.
"Setelah bereinkarnasi tubuhmu memiliki sedikit kekuatan dari Brayan tanpa sengaja," jelas Brigita. Dia tidak ingin melihat David dan Brayan berdebat lebih lama lagi. Telinganya sakit mendengar perdebatan mereka.
"Benar. Bukannya kau harus berterima kasih padaku?" Brayan masih menuntut ucapan terima kasih dari David.
"Untuk?" David membalas Brayan dengan pertanyaan.
"Untuk tidak membuatmu minder karena kami berlima memiliki bakat," jawab Brayan santai.
Ucapan Brayan ada benarnya. David sudah merasa resah saat mengetahui klan Black Meadow mulai memasuki negara ini. Dia bingung apa yang bisa dia lakukan untuk melindungi Elaina.
Namun, David tak ingin Brayan mendapat ucapan terima kasihnya secara cuma-cuma. Dia berniat untuk mempermainkan Brayan.
"Sayang, akhirnya aku bisa melindungi mu," ucap David.
"Saling melindungi," Elaina memperbaiki kalimat David sambil tersenyum.
David menatap Elaina bingung.
__ADS_1
"Perisai Elaina mulai berfungsi. Meski jangkauannya belum luas. Tapi cukup melindungi dalam radius lima ratus meter," jelas Bricia.
"Aku rasa dengan latihan yang lebih serius, dia bisa memperluas jangkauan perisainya," timpal Bree.
"Pantas saja aku tidak merasakan apa pun saat Brayan menyerang ku," jawab Elaina antusias.
"Kau yakin sayang?" tanya David khawatir.
"Aku sangat yakin. Rasanya seperti tersetrum dalam tegangan kecil saja," jawab Elaina.
"Aku rasa latihan hari ini cukup. Waktunya untuk berpatroli lagi," ucap Brigita.
Mereka segera berkumpul. Brigita meniup sesuatu di hadapannya. Asap perak bergerak perlahan hingga membentuk lingkaran. Mereka memasuki lingkaran asap perak satu persatu.
Sesampainya di mansion, David dan Elaina segera menuju ke ruang makan untuk makan malam. Mereka telat satu jam dari jadwal makan malam. Usai makan malam, Elaina segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan, David memilih ruang kerja. Biasanya David akan menghubungi Theo atau paman Jeff sekedar bertanya tentang perkembangan perusahaan.
Keadaan mansion masih sama. Para tokoh utama mansion masih berada di luar negeri dalam waktu yang Elaina sendiri tidak tahu sampai kapan. Dia masih belum sempat membahas kepergian penghuni mansion yang lain.
Elaina mengeringkan tubuh dan menutupinya dengan jubah handuk. Sebelum keluar dari kamar mandi, Elaina berhenti menatap ke cermin. Dia melihat wajahnya yang semakin berisi. Sangat berbeda jauh saat pertama kali dia tiba di mansion dan bekerja sebagai salah seorang maid.
Saat memegang wajah, Elaina baru menyadari sesuatu. David belum pernah menyentuhnya lagi setelah perselisihan mereka. Kurang lebih dua Minggu mereka tidak melakukan kontak fisik. Elaina merasa gelisah. Pikirannya mulai berkelana.
Apa David sudah tidak menginginkan aku lagi? Jika iya, tapi dia sangat posesif akhir-akhir ini. Jika tidak, mengapa dia tidak pernah menyentuhku? Elaina bermonolog di dalam hati sambil berjalan mondar-mandir.
Apa ada yang salah? tanya Elaina lagi dalam hati.
Elaina sangat paham dengan sifat mesum suaminya. Dia tidak percaya seorang yang mesum bisa berubah dalam waktu singkat. Tak ingin larut dalam pikirannya yang aneh. Elaina mengambil inisiatif sendiri.
Dia segera keluar dari kamar mandi. Berjalan menuju walk in closet. Elaina memilih sebuah lingerie yang paling minim bahan. Meski ragu, namun Elaina sudah bertekad untuk mengenakannya. David tidak tahan melihat Elaina mengenakan lingerie.
Junior suaminya pasti akan menuntut lebih. Elaina berteriak kecil saat melihat tubuhnya di depan cermin. Dia seolah tak percaya jika gadis yang berdiri di depan cermin itu adalah dirinya. Wajahnya langsung memerah. Elaina bahkan ragu dengan wanita yang berada di pantulan cermin apakah dirinya atau bukan.
Elaina menepis rasa malu yang menghantamnya. Dia sudah bertekad untuk menaklukan David malam ini.
__ADS_1