
"Aah! Merepotkan sekali." Bricia berteriak sambil mengubah posisinya dengan kepala berada di bawah. Dia berusaha mengejar dua tubuh yang meluncur turun dengan cepat.
"Besok-besok aku tidak akan mau menjadi pelatih bakat seseorang. Pantas saja Bree dengan senang hati menunjukku untuk melatih David." Gadis itu terbang turun sambil mengomeli saudari kembarnya.
Dia membayangkan pasti saudari kembarnya sedang duduk bersantai menikmati suasana sore. Semakin Bricia membayangkan kelakuan Bree, dia semakin kesal.
Di saat dirundung kekesalan, Bricia terkejut mendapati tubuh David dan Brayan terpisah. Tugasnya menjadi semakin repot. Dia harus memilih di antara dua pria itu, mana yang harus dia selamatkan lebih dulu.
"Mengapa jadi seperti ini?" Kesal Bricia.
Keadaan David tidak separah Brayan. Bricia masih bisa melihat jika kedua kelopak mata pria itu berkedip-kedip. Artinya, David tidak pingsan seperti Brayan. Anggap saja dia sedang jet lag.
"David!" Bricia berusaha memanggilnya melalui pikiran.
David tidak memberi respon sama sekali.
"Astaga David. Apa kau pikir sekarang waktu yang tepat untuk bermimpi in the Hoy dengan Elaina?" Bricia berhasil dibuat takjub oleh kelakuan David.
"David!" Bricia berusaha membangunkan pria itu. Bisa gawat jika terjadi pada David. Bisa-bisa dia dipecat menjadi kakak sepupu oleh Elaina.
__ADS_1
"DAVID!" Kali ini Bricia berteriak kencang.
Teriakannya kali ini berhasil membuat pria itu terbangun. Gerakan tangan dan kakinya yang gelagapan menandakan bahwa dia sudah sadar.
"Apa kau bisa perbaiki posisi tubuhmu?" tanya Bricia.
David melihat ke kanan dan ke kiri. Dia masih berada di udara. Gesekan angin yang kencang membuatnya sadar akan posisinya. "Apa yang terjadi padaku?" tanya David pada Bricia. Dia mulai terbiasa menggunakan pikiran untuk berkomunikasi.
"Nanti saja dijelaskan. Sekarang aku ingin kau mengubah posisi tubuhmu. Jika tidak, kau akan jatuh berkeping-keping!" Tegas Bricia.
"Kau pikir aku kaca." Kekesalan David pada dua bersaudara itu masih tersisa, saat dia teringat bagaimana dia bisa berada di posisi saat ini.
David segera memutar tubuhnya, dari telentang menghadap awan menjadi tiarap menghadap permukaan bumi. Dia bisa melihat titik-titik atau sederetan pulau. Dalam hitungan menit mereka pasti akan mendarat.
Pria itu bersusah payah mengubah posisi tubuhnya menjadi berdiri. Ini adalah kali pertama dia terbang setinggi ini. Tubuhnya belum terbiasa dengan perubahan. Sehingga sangat berat saat melakukannya di awal.
"Good job David." Bricia berkata sambil memberi dua jempol pada David.
David tidak habis pikir bisa-bisanya gadis itu sempat mengomentari dirinya. Sepertinya Bricia tidak memperhatikan tubuh Brayan yang terjun bebas ke bawah. Kecepatan turunnya semakin cepat dari yang tadi. David memberi arahan pada Bricia dengan menunjuk ke arah tubuh Brayan dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
Bricia mengikuti arah jari telunjuk David. Dia terkejut mendapati tubuh Brayan yang kini jaraknya cukup jauh dari posisinya. "Astaga, aku hampir melupakan Brayan." Bricia bergumam sambil mengubah posisi tubuhnya kembali dengan kepala menukik ke bawah.
"David. Bantu aku!" Sebelum menukik ke bawah, Bricia sempat meminta bantuan David untuk meraih tubuh adik bungsunya.
Jika saja mereka berada di daratan, sudah pasti David enggan membantu mereka. Siapa suruh mengerjainya seperti ini. Posisi Brayan semakin terlihat membahayakan tubuhnya. David segera mengikuti Bricia, dia menukik turun ke bawah.
Daratan sudah hampir terlihat. Namun, di antara David dan Bricia belum ada yang berhasil meriah tubuh Brayan. Bricia yang tadinya bersikap santai. Kini terlihat ketakutan.
Bersambung
* * *
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh. Yuks mampir! Ceritanya seru banget loh!
Judul: Tanpa Perpisahan
Penulis: Tie Tik
.
__ADS_1