336 Hours

336 Hours
Bab 33. Yes


__ADS_3

David berbisik di telinga Elaina. Tubuh gadis itu mematung seketika. David dapat merasakan Elaina diam. Dia mengurai pelukannya. Di raihnya wajah Elaina dan di belainya dengan lembut.


"I need your answer (aku butuh jawabanmu)," ucap David lembut.


Kedua mata Elaina terlihat berkaca-kaca. Dia tidak pernah menyangka akan jatuh cinta dengan seorang pria dengan cepat. Bahkan kecepatannya mengalahkan kecepatan kereta express. Di tambah saat ini dia di lamar dalam keadaan sedang menjalin hubungan yang masih seumur benih jagung.


Takdir. Ya, takdir tidak akan pernah bisa dielakkan. Jika takdir sudah berkata demikian, maka tetap akan terjadi. Hanya caranya saja yang berbeda hingga bisa sampai pada takdir.


Elaina membalas tatapan David. Dia mencoba mencari kebohongan di sana. Nihil. Elaina justru menemukan ketulusan, kejujuran, dan kasih sayang yang terpancar dari matanya.


Elaina kembali mengatur napasnya. Dia ingin memberikan jawaban yang jelas kepada David agar pria itu tidak memaksanya untuk mengulanginya lagi.


"Yes, Dave. Ya, aku bersedia menjadi istrimu seumur hidupku," jawab Elaina lantang dengan satu tarikan napas.


David tersentak mendengar jawaban Elaina. Jawaban yang sangat dinantikan olehnya dapat didengarnya dengan jelas. Dia kembali menyatukan kening mereka.


Air mata David tumpah. Dia tidak bisa membendung lajunya air mata yang keluar. Tadinya dia hanya bercanda. Sengaja mengerjai kekasihnya agar mau mengulangi ucapannya.


Dia juga berakting sedikit seperti orang yang sangat terpuruk. Agar aktingnya terlihat natural, David menambakan suara tangis yang dibuat-buat olehnya. Bahkan dia harus meletakkan kepala diantara kedua kaki agar Elaina tidak melihat wajahnya yang sedang berbohong.


Akhirnya, air mata asli berhasil menerobos benteng dan membasahi kedua pipinya. Air mata kebahagiaan yang pertama kali dia rasakan selama hidupnya.


"Aku akan menjagamu, menyayangimu, mencintaimu, selalu, selamanya, seumur hidupku," ucap David sambil mengecup pelan kening Elaina.


"Aku akan selalu setia mencintaimu, menyayangimu, dan menemanimu hingga akhir hayat ku," balas Elaina.


"Kau tahu, sayang. Baru kali ini aku menandai hari. aku tandai sebagai hari bersejarah dalam hidupku," ujar David.


Elaina masih terdiam. Dia masih menikmati momen saat ini. Momen yang sangat berarti di dalam hidupnya.


Beberapa saat kemudian, David mengurai pelukan. Dia ingin melihat wajah kekasihnya. Namun, Elaina masih tertunduk. David memegang dagu Elaina dan perlahan mengangkat wajah kekasihnya.


Akan tetapi, Elaina menolak. David dapat merasakan penolakan dari Elaina. Dia berusaha melakukan hal yang sama. Berniat ingin romantis, justru berujung tarik-menarik dagu Elaina.


"Sayang, ada apa? Aku ingin menatap wajahmu!" ucap David heran.

__ADS_1


"Sebaiknya jangan," balas Elaina.


"Apa kau menyesal sudah menerima lamaran ku?" tanya David penasaran.


"Tidak," jawab Elaina masih dengan menundukkan kepalanya.


"Jadi, mengapa?" tanya David lembut.


Kali ini dia tidak ingin memaksa Elaina seperti tadi. Dia yakin pasti ada sesuatu yang membuat Elaina seperti itu.


Elaina masih terdiam. Dia tidak memberi respon sama sekali.


"Oh, ayolah sayang! Jangan membuatku bingung seperti ini!" bujuk David.


"Kau pasti tertawa," jawab Elaina.


"Sayang, kau sangat aneh. Bagaimana mungkin aku tertawa. Apa yang harus ditertawakan?" tanya David bingung.


Elaina terdiam. Dia tidak ingin melanjutkan ucapannya yang nantinya akan berujung perdebatan kecil antara dia dan David.


Elaina masih setia dengan diamnya. David hanya bisa menghela napas kasar. Akan tetapi, David tidak kehilangan akal. Dia tahu kelemahan kekasihnya.


"Baiklah jika kau tidak mau berkata jujur. Apa nyonya Walker ingin memakan sesuatu? Kebetulan perutku ingin di isi," ucap David.


"Hah! Nyonya Walker!" teriak Elaina sambil mengangkat kepalanya.


Bingo. Elaina termakan jebakan David. Saat Elaina mengangkat kepala, dia dapat melihat wajah kekasihnya. David berusaha menahan rasa terkejutnya. Dia berusaha bersikap datar agar Elaina tetap merasa nyaman.


David menyibakkan rambut Elaina. Merapikan rambut yang keluar dari jalurnya.


"Tentu saja nyonya Walker. Sebentar lagi kau akan menjadi istriku," ucap David sambil mengecup kelopak mata kekasihnya yang membengkak seperti tersengat puluhan lebah.


Pantas saja Elaina tidak ingin mengangkat wajahnya. Dia tidak ingin David melihatnya dalam keadaan seperti itu.


"Ah, kau melihat wajahku!" teriak Elaina sambil menutup wajahnya dengan tangan.

__ADS_1


"A, a, jangan ditutup! Aku sudah melihatnya," perintah David sambil menghentikan gerakan tangan Elaina.


"Tapi aku Mali, Dave!" seru Elaina.


"Kau tidak perlu malu. Wajahmu masih cantik walaupun kelopak matamu ..." ucapan David terhenti.


"Kelopak mataku kenapa?" tanya Elaina.


"Terlihat sedikit lucu seperti gantungan lonceng di kalung Doraemon," ucap David sambil tersenyum menggoda Elaina.


Bibir Elaina terbuka. Bersiap untuk mencecar David. Akan tetapi, yang di dapatnya adalah sebuah ciuman lembut dari bibir David yang berhasil membungkam bibir mungilnya.


Kali ini David dapat menahan hasratnya. Dia mencium Elaina lembut tanpa ada unsur hasrat di sana. Beberapa saat kemudian, David menyudahi ciuman hangat mereka. Dia menjadikan dirinya sendiri sebagai alarm agar dapat menahan diri hingga hari H.


Elaina seutuhnya akan menjadi miliknya dalam hitungan jam. David tidak ingin menundanya lebih lama lagi. Bahkan jika perlu, dia ingin menyelenggarakan pernikahannya saat ini juga.


"ish, kau itu paling pandai mengalihkan sesuatu," oceh Elaina.


"Tapi kau suka kan, sayang?" goda David sambil memainkan kedua alisnya bergantian.


Elaina tidak menjawab David. Dia hanya Mengangkat kedua bahunya sambil berdiri. Saat dia berdiri, sudut matanya menangkap sesuatu di wajah David. Elaina menatap wajah David dengan seksama.


Bersambung ...


* * *


**Advertisement


Hai my lovely readers! Mampir ke karya temenku! Ceritanya bagus banget loh**!


...MENIKAHI PERAWAN TUA...


...(dtyas)...


__ADS_1


__ADS_2