
Suasana kamar menjadi hening. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Suatu pikiran yang tidak seharusnya terlontar keluar melalui suara.
"Ketua klan Black Meadow akan menyerap energi Elaina sampai tak bersisa. Elaina akan menjadi manusia biasa. Kalian bisa membayangkan sendiri Elaina akan menjadi seperti apa setelah energinya dihisap hingga tak bersisa." Bishop tidak tega mengatakan akhir dari hidup Elaina.
"Dia lebih baik mati." Gumaman Bree terdengar oleh David. Pria atletis itu menggeram.
"Daripada dia hidup bagai ma yat." Brigita segera menimpali ucapan Bree. Dia melihat David yang menggeram. Brigita tak ingin ada keributan saat ini.
David menatap Brigita dengan tatapan kosong. Dia terkejut mendengar penuturan Brigita. Bree bukan berharap Elaina mati. Akan tetapi, itu yang terbaik daripada Elaina hidup tanpa daya. David bangkit dan memilih untuk keluar kamar. Dia membutuhkan udara segar. Kepala dan hatinya sakit memikirkan kemungkinan terburuk yang akan menimpa Elaina.
"Aku akan menyusulnya." Brayan bersuara untuk menemani David.
Brigita mengangguk. Sedangkan Elaina masih larut dalam pikirannya. Dia berusaha menyusun setiap rangkaian peristiwa. Semua berakhir pada dirinya.
David memilih balkon sebagai tempat melepas kepenatannya. Mendengar akhir dari hidup Elaina sudah membuatnya frustasi. Dia tidak mampu membayangkan jika kejadian itu benar-benar terjadi.
"Pasti ada jalan keluarnya." Brayan menepuk pelan pundak David.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin ada jalan keluar. Ayah mertuaku tidak memberi pilihan yang menguntungkan." David menundukkan kepala sambil menarik napas dan menahannya sebentar kemudian dihembuskan melalui mulut. Dia melakukan itu agar bisa menahan air mata yang sudah ingin tumpah.
Tak ingin membayangkan tapi justru kepikiran. Bagaimana aku hidup tanpamu? Apa ini adalah harga yang harus aku bayar karena bereinkarnasi?
"Bukan kau saja yang terkejut dan tidak terima. Aku dan ketiga saudariku juga merasa demikian. Susah payah kami menyembunyikan diri selama ini. Sekarang semuanya bisa hilang hanya dengan sekali jentik." Brayan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Dia menatap lurus ke depan.
"Bagaimana jika aku membawa Elaina pergi jauh hingga tidak bisa ditemukan oleh siapa pun?" Brayan tercengang mendengar pertanyaan David. Dia yakin, David tidak bisa menerima kenyataan.
"Bukannya aku tidak setuju. Coba kau pikir! Jika Elaina bisa kau sembunyikan, apa kau yakin klan Black Meadow tetap tidak akan menemukannya." Brayan menjelaskan dengan perlahan agar David bisa menerima penjelasannya dengan baik.
David tersenyum tipis. Benar yang dikatakan Brayan. Menyembunyikan Elaina bukanlah solusi. Dia hanya memperlambatnya saja. Ibarat sedang menonton film, saat ingin ke kamar kecil film yang ditonton pasti di pause (diberhentikan sebentar) dulu.
"Aku memilih pilihan pertama." Ucap David sambil menepuk pelan pundak kanan Brayan.
"Memangnya paman memberi pilihan?" tanya Brayan sambil menoleh ke arah David.
David menggelengkan kepala. Baru saja dia memuji pemuda itu. Dalam hitungan detik sifatnya kembali seperti semula.
__ADS_1
"Mengapa kau menatapku seperti itu?" Brayan melontarkan pertanyaan sambil membalikkan tubuh dan bersenda di pinggiran pagar balkon.
"Brayan. Ayah mertuaku tadi sudah menjelaskan. Pertama dia mengatakan bahwa dia bisa membantu. Akan tetapi, akan ada efek dari bantuannya itu. Kita semua akan hilang ingatan dan aku masih belum jelas keberadaan ku akan berada di mana. Apakah tetap ada dan hilang ingatan atau tetap tewas?" David berkata dengan tatapan kosong.
Brayan menghembuskan napas kasar mendengar ucapan David. Jika dia menjadi David, bisa dipastikan tidak akan bersemangat lagi untuk melakukan hal lain. Dia membalikkan tubuh menghadap pagar balkon. Meletakkan kedua tangan di pagar.
David tersenyum kecut melihat reaksi Brayan. Dia saja yang hanya mendengar sampai susah bernapas.
"Pilihan kedua, kita semua tetap hidup. Tetap memiliki bakat. Dunia akan penuh dengan orang-orang yang memiliki bakat mendadak dan tidak terkontrol. Sudah dipastikan dunia akan kacau. Hanya saja tanpa Elaina di kehidupan kita." Bibir David sedikit bergetar saat mengucapkan kalimat terakhir.
"Oh sh it!" Brayan berteriak frustasi. Sekarang dia mengerti David terlihat frustasi. Dengan gampangnya dia mengatakan pada David pasti akan ada solusi nanti. Nyatanya nihil. Brayan mengutuk kebodohannya sendiri. Tidak bisa menangkap maksud sang paman dengan benar.
"Yup. It's sh it." David tertawa sinis mengulang umpatan Brayan.
"Aku sudah putuskan. Aku memilih yang pertama. Aku tidak bisa hidup tanpa Elaina. Lebih baik keberadaan ku yang tidak jelas daripada harus kehilangan Elaina." David yakin dengan yang diucapkan olehnya.
Baru saja selesai mengutarakan pendapatnya, David dikejutkan dengan suara sesuatu yang terjatuh sangat keras. David dan Brayan segera menoleh ke sumber suara.
__ADS_1