
Suara yang David dan Brayan cukup keras. Mereka langsung menoleh ke arah sumber suara. David terkejut mendapati Elaina yang jatuh pingsan. David segera berlari ke arah Elaina.
Dia segera meraih tubuh Elaina yang sudah terbaring di atas lantai. David mengangkat dan menggendong tubuh Elaina ala bridal menuju kamar di sebelah kamar ayah mertuanya.
Melihat Elaina terbaring pingsan membuat perasaan David tidak karuan. David memijat pelan kedua telapak tangan Elaina. Brayan mengikuti David masuk ke dalam kamar. Dia melihat yang dilakukan David pada adik sepupunya itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Brayan pada David.
"Aku berusaha menyadarkannya." David menjawab tanpa menoleh.
"Minggir sedikit!" Brayan melangkah maju mendekati David. Brayan meraih telapak tangan Elaina dan menekannya. Dalam hitungan detik, Elaina siuman.
"Sayang, ada apa denganmu?" tanya David khawatir.
"Kepalaku tiba-tiba pusing. Aku tadi ingin memanggilmu. Belum sampai di depan pintu. Pandangan mataku langsung gelap," ujar Elaina.
"Aku rasa kau terlalu lelah," sela Brayan.
"Aku rasa kau benar Brayan," balas Elaina.
David menatap sendu wajah istri tercintanya. Dia yakin jika Elaina menyembunyikan sesuatu darinya.
Untuk sekarang, David tidak ingin mendesak Elaina untuk membicarakannya. Elaina pasti butuh waktu untuk menata perasaannya, begitu pula dengan dirinya. Kenyataan yang baru saja mereka hadapi, membuat perasaan mereka tidak karuan.
"Apa kau ingin sesuatu?" tanya David lembut.
"Tidak," jawab Elaina sambil menggelengkan kepala.
David menggenggam tangan Elaina sepintas sebagai bentuk dukungan. Mereka semua yang berada di ruangan itu sedang dalam masa perundungan akan masa depan mereka.
Entah mereka akan lupa satu sama lain, tidak memiliki bakat lagi, bahkan tewas. Setiap detik kini sangat berarti bagi mereka.
__ADS_1
"Dave!" panggil Elaina saat suaminya berjalan ke arah pintu.
"Yes love (ya cinta)," jawab David sambil menoleh ke belakang.
"Apa kita akan menginap di sini?" tanya Elaina.
"Sesuai keinginanmu," David memberikan senyum terbaiknya untuk Elaina.
"Aku akan berpatroli sebentar. Kau istirahat lebih dulu, ok!" ucap David sebelum meninggalkan Elaina. Wanita itu mengangguk tanda setuju.
"Aku ikut!" seru Brayan yang langsung mengikuti David dari belakang.
Elaina menunggu hingga langkah kedua pria itu tidak terdengar. Setelah keadaan di luar kamar sunyi, Elaina langsung menekuk kaki dan memeluk kedua kakinya dengan erat.
Kepalanya tertunduk, air mata yang dari tadi ingin ditahannya, seketika runtuh. Elaina mendengar semua percakapan antara David dan Brayan di balkon tadi, hingga membuatnya pingsan.
"Menangis lah, jika itu bisa membuatmu lebih tenang!" Bree yang masih berada di dalam kamar, langsung merengkuh tubuh Elaina daat dia melihat punggung wanita itu bergerak turun naik secara tidak beraturan.
Dia sendiri saja sudah bersusah hati setelah mendengar penjelasan paman Bishop. Sungguh sebuah kenyataan yang sangat berat untuk dijalani.
"Apa yang harus aku lakukan Bree?" Elaina berkata sambil terisak.
"Sejujurnya, aku juga tidak tahu Elaina," jawab Bree jujur.
Elaina terus menangis. Tidak bisa dia bayangkan jika dia hidup di dunia tanpa David di sisinya.
"Aku tidak sanggup menjalankan hidup tanpa David. Lebih baik aku saja yang berkorban," ucap Elaina sambil menangis.
"Jangan berkata seperti itu! Ayolah Elaina! Kau harus optimis. Semua masalah pasti ada solusinya." Bree berusaha untuk membujuk Elaina.
Elaina hanya menggeleng. Dia tidak percaya dengan yang dikatakan oleh kakak sepupunya itu.
__ADS_1
"Pasti ada. Hanya saja kita belum menemukan jalan keluar untuk masalah saat ini," ucap Bree dengan bijak.
"Keduanya tidak menguntungkan bagiku. Aku sudah tidak bersemangat lagi."
"Oh, ayolah Elaina! Ini bukan seperti gayamu," Bree tidak ingin putus asa memberi semangat pada Elaina.
"Entahlah Bree. Duniaku seakan runtuh dengan sekali tepukan."
Bree hanya bisa terdiam mendengar keluhan Elaina. Bagaimana pun Elaina benar. Keheningan kembali hadir di antara mereka.
"Elaina!" teriak Bricia dari arah luar. Gadis itu terlihat terburu-buru masuk ke dalam kamar. Elaina langsung mendongak saat Bricia berada di dalam kamar.
"Gawat!" seru Bricia.
Bersambung ...
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Yukss mampir!
Judul: Pernikahan Penuh Luka
by: Uma_bhie
Catherine Zeta Jones, sosok gadis pekerja keras yang hanya hidup sebatang kara.
Pekerjaan sebagai buruh pemetik anggur di salah satu perkebunan anggur terbesar di desanya. Ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan untuk menyisihkan sebagian gajinya untuk bisa melanjutkan pendidikan di perguruan ke dokteran.
Nasih baik membawanya, pada keberuntungan, saat menyelamatkan nyawa seorang wanita setengah baya, yang ternyata nyonya besar dan pemilik perkebunan anggur tempatnya bekerja. Nyonya Margaretha, wanita yang ia tolong menjodohkan dirinya dengan putra semata wayangnya.
Siapa yang menduga, kalau putra nyonya Margaretha sudah memiliki seorang istri yang dalam keadaan koma. Bagaimana kah' nasib Catherine selanjutnya? Apakah kebahagiaan atau penderitaan yang ia dapat?
__ADS_1