336 Hours

336 Hours
Bab 45. Akhirnya ... 21+


__ADS_3

Hari H


Hari ini tepat tujuh hari tamu bulanan Elaina pergi. Hitungan David seperti itu. Akan tetapi, sebenarnya tamu bulanan Elaina sudah pergi dua hari yang lalu tanpa sepengetahuan David. Tepatnya di hari kelima.


Dua orang berbeda gender itu memiliki pemikiran masing-masing. Si pria atletis memikirkan malam ini akan menjadi malam yang panjang untuknya dan istri tercintanya. Sedangkan si gadis mungil memikirkan cara menghindari si pria atletis.


"Oh, ya ampun. Bagaimana ini?" ucap Elaina sambil menatap cermin.


Sudah hampir setengah jam dia berada di dalam kamar mandi. Berjalan mondar-mandir seperti mandor yang sedang di kejar tenggat waktu. Kadang dia berhenti sesaat menghadap cermin, menatap dirinya sendiri. Kemudian berkeluh kesah lagi.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya David sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Aku baik-baik saja!" teriak Elaina dari dalam kamar mandi.


"Oh, syukurlah! Aku pikir kau pingsan di dalam sana," ucap David sambil terkekeh.


"Senang sekali hatimu," ucap Elaina pelan.


"Apa yang kau katakan sayang? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


"Tidak, tidak ada. Aku hanya mengomeli keran air," jawab Elaina asal.


"Keran air salah apa padamu hingga kau omeli?" tanya David sambil terkekeh.


"Ya ampun, Dave! Kau banyak tanya sekali!" gerutu Elaina pelan.


"Tidak ada," jawab Elaina singkat.


"Cepatlah keluar! Aku sangat merindukanmu!" seru David.


"Sebentar lagi," jawab Elaina.

__ADS_1


Seharian ini David disibukkan dengan urusan perusahaan. Dia harus membimbing paman Jeff dan Theo tentang pekerjaan mereka. Sistem yang diterapkan pada perusahaan Benjamin jelas sangat jauh berbeda dengan perusahaan miliknya sendiri.


Pria itu sangat merindukan istrinya yang tidak di lihatnya seharian. Apalagi malam ini sangat spesial. Sudah tujuh hari David menahan diri. Kali ini dia berniat tidak akan melepaskan Elaina.


"Huh! Ok. Tarik napas, tahan, lepaskan!" perintah Elaina pada dirinya sendiri sambil melakukan gerakan yang disebutnya.


Elaina kembali menatap cermin. Dia melihat wajahnya. Di rasa baik, dia pun tersenyum. Selama ini Elaina tidak pernah memikirkan wajah. Entah ada apa pun di wajahnya, Elaina tidak akan perduli. Akan tetapi, karena malam ini akan berbeda. Dia sedikit memperhatikan wajah dan tubuhnya.


"Huh! Tidak akan bisa dielakkan lagi. Jika harus terjadi, maka terjadilah," ucap Elaina pada dirinya sendiri pasrah sambil menatap cermin.


Elaina menutup tubuhnya dengan jubah tidur yang transparan. Bukan dia sengaja memilih yang transparan, tapi di dalam lemari pakaiannya sendiri tidak ada jubah tidur yang tertutup. Semuanya di penuhi dengan lingerie. Piyama saja tidak ada. Entah siapa yang membereskan pakaian untuk dirinya.


Elaina sampai mendoakan siapa pun yang mengemasi lemari pakaiannya akan memiliki banyak anak.


Lingerie yang dikenakan Elaina saat ini lebih baik dari yang sebelumnya. Dia sempat protes pada David tentang selera lingirie pilihan David. Semuanya minim bahan. Sudah begitu harganya tidak main-main. Padahal tidak menggunakan banyak bahan.


Elaina berdiri di depan pintu kamar mandi. Tangannya memegang gagang pintu. Dia menahan napas sebelum membuka pintu.


"Dave!" panggil Elaina.


Kamar saat ini agak gelap. Pintu yang mengarah ke balkon dibiarkan terbuka. Elaina dapat melihat langit di luar sana sangat cerah. Bintang bertaburan hingga cahayanya memasuki kamar tanpa hambatan.


Selain cahaya dari bintang-bintang, aroma kamar kini beraroma menyenangkan. Beberapa lilin aroma terapi menyala redup, membuat suasana terasa romantis.


Siapa lagi pelakunya? Pasti David yang mempersiapkan ini semua. Elaina kembali memanggil David, tapi pria atletisnya itu tidak menyahut sama sekali.


Elaina berjalan lurus hingga hampir mencapai tempat tidur. Tiba-tiba sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang. Membelai lembut sekitar pinggang Elaina.


"Kau suka?" bisik David.


"Ya," jawab Elaina pelan.

__ADS_1


Elaina dapat merasakan sensasi lain yang menjalar perlahan merasuki tubuhnya. Belaian lembut tangan David membuat tubuh Elaina rileks, plus aroma terapi dari lilin membuat Elaina semakin terbuai.


David menyibak rambut Elaina ke samping agar lebih mudah menghujaninya dengan ci u man. Leher Elaina saat ini sudah tidak ada penghalang. David dengan bebas menghujani Elaina dengan kecupan lembut di berbagai titik yang berhasil membuat gadis itu men de dah.


Tangan David kembali turun ke pinggang. Membelai lembut di sekitar perut Elaina. Lagi-lagi gadis itu men de sah. Tubuhnya sedikit menggeliat nikmat.


David tersenyum puas saat melihat kekasih hatinya menikmati permainan kedua tangannya. Tak berhenti sampai di situ. Sebelah tangan David naik perlahan menjelajahi bukit kembar bergantian. Meremasnya perlahan.


Telunjuknya dengan lihai memainkan puncak bukit kembar Elaina. Sebelah tangan lainnya menuruni bagian bawah perut Elaina dan berhenti di bagian inti. Membelai lembut dan bermain cukup lama di sana hingga David merasakan sesuatu yang basah dari balik penutup Elaina.


Elaina sudah tidak bisa berpikir. Dia yang tadinya ingin mengelak dari David, justru saat ini menuntut lebih dari suaminya. De sa han demi de sa han meluncur bebas dari bibir mungil Elaina.


Dengan sekali tarikan, David menyambar bibir mungil istrinya. Menciumnya dengan lembut. Namun, kelembutan itu hanya sementara. David menerobos masuk menjelajahi bagian dalam mulut Elaina.


Junior David mulai protes menuntut untuk dikeluarkan karena boxer yang dikenakan David membuat junior David sesak.


Elaina dapat merasakan sesuatu yang keras dan besar menekan tubuh bagian belakangnya. Dia tidak peduli lagi, tubuhnya saat ini menuntut yang lebih dari ini.


Bersambung . . .


* * *


Advertisement


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh. Yukss mampir


...PESONA SANG DIVA...


...(Nezha Ageha)...


__ADS_1


__ADS_2