
David tidak habis pikir dengan kelakuan Brayan. Bagaimana bisa seorang laki-laki dewasa mengompol. Di siang hari pula. David melihat kedua telapak tangannya, pria itu langsung merasa geli mengingat tadi menggendong Brayan. Mana tahu jika air seninya merembes hingga ke celana bagian belakang.
Sedangkan Brayan yang menjadi korban, mengeluh sakit. Wajar saja dia kesakitan. David melepas kedua tangan yang menopang tubuh Brayan tanpa aba-aba. Pemuda itu tidak memiliki persiapan untuk berjaga-jaga. Alhasil, bokong Brayan menghantam permukaan tanah dengan bunyi yang sangat keras.
"Aduh! Kenapa kau melepas tanganmu?" Brayan mengeluh sambil memiringkan tubuhnya agar bisa menggosok bokongnya yang tadi terbentur.
"Hahaha..." Suara tawa Bricia masih menggema di tengah lapangan kecil yang di kelilingi pepohonan.
Bricia sampai berjongkok sambil menahan perut. Gadis itu tertawa hingga perutnya sakit dan otot di sekitar pipinya menjadi kaku.
"Sudah puas?" Brayan sengaja melontarkan pertanyaan dengan nada kesal pada kakaknya.
"Tentu saja belum. Hahaha," jawab Bricia sambil tertawa kembali.
David tak ingin menggubris tingkah kedua kakak beradik itu. Tidak jauh di balik pepohonan di sebelah barat, David bisa mendengar suara air yang mengalir. Dia segera melesat ke arah pepohonan itu.
Benar saja, ada air terjun di sana. Tingginya sekitar lima meter dari tempatnya berdiri. David kembali terpukau dengan keindahan air terjun yang baru saja ditemukannya. Dia kembali berandai. Seandainya saja Elaina berada di sisinya saat ini, dia pasti akan senang. David menepis khayalan yang tidak mungkin terwujud untuk saat ini.
Dengan satu tarikan napas, David terjun ke bawah dan mendarat dengan indah. Air terjun itu mengalir ke anak sungai. Airnya terasa sejuk dan jernih. David bisa melihat anak-anak ikan kecil berenang di sana. Dia membayangkan betapa nikmatnya hidup ikan-ikan itu tanpa harus terkungkung oleh apa pun.
Namun, pemikiran itu musnah saat David melihat seekor ikan yang ukurannya lebih besar lima kali lipat dari ikan kecil itu. Ikan besar itu memakan si ikan kecil tadi. Kedamaian sesaat yang dirasa David seperti gambar klise. Pada akhirnya, yang lemah yang selalu kalah.
__ADS_1
"Kalah." David bergumam sambil mengerutkan kening. Meski Black Meadow terdengar sangat kuat, David masih meragukan kekuatan mereka. Alasan sangat sederhana karena dia belum pernah sekali pun kontak langsung dengan klan Black Meadow.
Walaupun begitu, tidak ada alasan untuk kalah dari mereka. David bertekad, apa pun hasil akhirnya, dia akan berusaha sekuat tenaga melindungi Elaina dan keluarga kecil yang baru saja terbentuk.
"Tidak akan pernah kubiarkan ada kata kalah saat pertempuran nanti." David bergumam sambil membersihkan tangannya.
Selesai mencuci tangannya, David berniat langsung kembali ke tempat asal mereka mendarat tadi. Namun, dia terkejut saat melihat jarak tebing yang cukup tinggi. Tadi saat melompat dia tidak berpikir bagaimana caranya agar bisa naik kembali.
Setelah berada di bawah tebing, dia baru menyadari kebodohannya sendiri. Saat ini hanya ada dia sendiri di air terjun. Dua bersaudara B pasti masih sibuk dengan diri mereka sendiri. Tidak ada seorang pun yang bisa membantunya. Kecuali dirinya sendiri.
"Apa kita harus membantunya?" tanya Brayan pada Bricia.
"Biarkan saja dulu!"
"Baiklah. Kalau begitu aku masih bisa bersantai." Brayan menjawab sambil mengubah posisi tubuhnya dengan posisi tidur. Dahan pohon yang kokoh dijadikan sandaran untuknya merebahkan diri. Kedua tangannya dilipat ke belakang untuk menahan kepala.
"Ish, kau itu. Bisa-bisanya bersantai." Bricia kesal dengan kelakuan Brayan.
"Apalagi yang harus kulakukan saat ini, Brixie?"
"Hmm, aku mencium bau pesing yang mulai menyengat."
__ADS_1
"Kau!" Brayan berteriak sambil terduduk. Hampir saja dia terjatuh dari pohon karena keseimbangan tubuhnya sedikit goyah.
"Bukannya benar yang ku katakan." Bricia sangat senang menggoda adik bungsunya saat ini dan mungkin seterusnya.
"Kau menyebalkan." Brayan bersiap untuk kembali ke rumah untuk mengganti celana.
"Hei! Jangan lupa segera kembali jika tak ingin aku bocorkan yang menimpamu hari ini!"
Brayan langsung mengirim pesan pada Brigita untuk membukakan portal untuknya. Dalam hitungan detik, sebuah portal mulai terbuka dari lingkaran kecil hingga membesar. Saat David akan melangkah masuk ke dalam portal, kerah jaket bagian belakangnya seperti tersangkut sesuatu.
Bersambung
* * *
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh. Yukss mampir! Ceritanya seru banget loh.
Judul: Sisi Gelap Seorang Hakim
Penulis: Chika SSi
__ADS_1