
Satu Minggu Kemudian.
"Elaina, tahan!" seru Bree yang langsung menghantam Elaina dengan serangan.
"Ouch, Bree! Aku belum siap," gerutu Elaina.
"Kau harus siap kapan pun. Mereka bisa menyerang mu dari mana saja," timpal Bricia.
David hanya bisa menonton Elaina latihan bersama kakak-kakak sepupunya. Dia duduk di atas batu besar. Sangat mudah memperhatikan Elaina dari atas.
"Kau jangan senang dulu!" seru Brayan sambil menepuk pundak David dari belakang.
David hanya menoleh sebentar. Tatapan matanya kembali tertuju pada Elaina. Istri tercintanya sangat serius saat latihan. Dia tidak pernah mengeluh sedikit pun.
"Tahap latihan mu akan di mulai dalam waktu kurang lebih dalam waktu tiga detik," ucap Brayan sambil melayangkan sebuah pukulan ke arah David.
David langsung menghindari serangan Brayan. Tubuhnya melayang setinggi tiga meter dari atas batu dan mendarat dengan baik di tanah tepat di samping Elaina.
Elaina, Bree, dan Bricia terkejut melihat gerakan David yang super cepat. Pria atletis itu tidak sadar jika saat ini dia menjadi pusat perhatian. Brayan segera menyusul David. Dia tidak berhenti hanya dengan satu kali serangan.
Setelah mendarat di atas tanah, Brayan tak ingin membuang waktu. Dia kembali menyerang David. Dia berusaha menghindari serangan dari Brayan ke tempat yang jauh dari Elaina karena dia tidak ingin Elaina terluka.
__ADS_1
"Apa masalahmu?" tanya David sambil menghindari serangan Brayan.
Brayan memberikan senyum licik kepada David. Dia tidak berhenti menghujani David dengan serangan. Tanpa mereka sadari, tubuh mereka melayang di udara. Brigita segera menjentikkan jari membuat mereka bertiga tersadar.
"Bagaimana dia bisa melakukan itu?" tanya Bree terkejut.
"Bahkan bisa mengalahkan kecepatan aku saat berlari," Bricia menimpali.
Elaina masih terpukau dengan kehebatan David. Padahal David hanya menghindar dari serangan Brayan yang bertubi-tubi.
"Hanya segitu saja?" tanya Brayan sambil tersenyum licik.
Pemuda itu kembali tersenyum. Dia kembali menyerang David. Namun, serangan dari Bryan bukan lurus ke depan melainkan lurus ke bawah. Targetnya kini Elaina.
Kedua mata David membulat. Dia tak percaya jika Brayan menargetkan Elaina. David berusaha menghalangi serangan Brayan. Namun, kecepatan Brayan sangat luar biasa.
Elaina terkejut saat melihat Brayan yang menyerangnya dengan tiba-tiba. Dia bingung harus bagaimana. Menghindar atau menghadapi Brayan. Elaina dapat melihat dengan jelas, David berusaha mengejar Bryan.
Serangan panik menyerang Elaina lebih dulu. Apalagi melihat Brayan yang semakin mendekat ke arahnya. Sudah tidak ada waktu untuk menghindar. Dia harus berpikir cepat sebelum serangan Brayan mengenainya.
Tangan kiri David meraih lengan kaos Brayan. Dia dapat menyaingi kecepatan Bryan. David segera menarik lengan baju pemuda itu. Dia ingin menggagalkan serangan Brayan.
__ADS_1
Tubuh Brayan sedikit oleng ke kanan karena lengan kaosnya ditarik oleh David. Lagi-lagi Brayan tersenyum. Dengan sekali sentakan, Brayan kembali menstabilkan tubuhnya. Cengkraman David terlepas.
Bree dan Bricia yang ingin membantu Elaina ditahan oleh Brigita. Brigita memberi kode pada Bree agar tidak berbicara. Si kembar hanya bisa pasrah melihat apa yang akan terjadi pada Elaina.
David berusaha mengejar Brayan. Dia memusatkan seluruh tenaga agar bisa menyelamatkan Elaina. Kecepatan David semakin bertambah. Hanya saja dia terlambat.
Brayan telah melepaskan serangan pertama pada Elaina. Tidak hanya satu kali. Brayan yang tadinya sudah menyerang Elaina, terlihat tidak ingin berhenti menyerang gadis itu.
David tak ingin melihat ke bawah. Dia tidak ingin melihat Elaina yang diserang oleh Brayan tanpa henti. David berteriak saat Brayan menyerang Elaina dengan membabi buta.
Bree dan Brigita yang awalnya rakit terjadi apa-apa dengan Elaina. Kini, dapat bernapas lega. Hasil dari latihan mereka selama tiga hari terakhir, akhirnya membuahkan hasil. Elaina bisa menggunakan perisainya untuk melindungi dirinya sendiri.
Elaina sangat ketakutan saat melihat Brayan terbang dari atas dan mengarah kepada dirinya dengan cepat. Dia sudah pasrah dengan apa yang terjadi. Elaina hanya bisa menutup mata, menundukkan kepala, dan melindungi kepalanya dengan kedua tangan.
Setelah menunggu beberapa saat, serangan Brayan tidak mengenai dirinya. Elaina penasaran dengan apa yang terjadi. Dia mengangkat kepala dengan perlahan. Elaina dapat melihat dengan jelas bahwa Brayan masih menyerangnya bertubi-tubi.
Elaina melepas tangan yang tadi melindungi kepalanya. Kini, giliran Elaina yang tersenyum menatap Brayan. Tubuhnya tidak merasa sakit sedikit pun.
"Apa yang terjadi padaku?" tanya Elaina pada dirinya sendiri.
Ucapan Elaina tertangkap oleh ketiga saudari perempuan B. Mereka takjub dengan hasil yang diberikan oleh Elaina. Dalam tiga hari dia sudah menguasai perisainya. Meskipun belum cukup, akan tetapi usaha gadis itu sangat menakjubkan.
__ADS_1