
David dan ayah mertuanya terluka cukup parah. Mereka saling menguatkan satu sama lain hingga bisa kembali berkumpul di tempat penyerangan.
"Elaina," ucap David lirih. Tubuh pria itu penuh luka. Saat David jatuh dari langit, Bishop berusaha menangkap tubuh menantunya itu. Karena dia juga terluka cukup parah, membuatnya tidak berhasil menangkap tubuh menantunya itu. Akhirnya, mereka terguling di tanah sekitar seratus meter jauhnya.
Jika saja mereka manusia biasa, bisa dipastikan tubuh mereka sudah tidak akan berada di tempat semestinya. Bishop sempat mengeluarkan selubung untuk melindungi tubuh mereka agar tidak cidera terlalu parah.
"Habislah!" seru Bree sambil mendaratkan tubuhnya ke tanah.
"Bricia bantu aku mengobati paman!" Brigita meraih tubuh pamannya. Membantu pria paruh baya itu untuk duduk.
"Tidak!" Bishop memegang tangan Brigita. "Jangan sia-siakan tenaga mu! Sudah seharusnya seperti ini. Jangan mengubah takdir!"
"Paman, kau sudah tahu akan terjadi hal seperti ini?" Bree menyuarakan pikirannya.
Bishop hanya mengangguk. "Takdirku memang tidak akan bersama dengan putriku."
David mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Dia memanggil Brayan agar mendekatinya. Pemuda itu langsung saja mendekatinya. "Brayan," ucap David sambil batuk. Pria itu mengeluarkan cairan merah dari mulutnya.
"Hei, Jangan banyak bicara!" Brayan terlihat panik melihat keadaan David seperti itu. Dia membantu David untuk duduk.
"Lakukan sekarang!" perintah David.
Brayan terkejut mendengar permintaan David. Tugas terakhir yang harus dia lakukan akhirnya meluncur dari mulut David sendiri.
"Ini perintah bukan permintaan," David berusaha berkata dengan tegas. Dia pernah merasakan rasa sakit seperti ini saat dia meregang nyawa di tepi danau Ray Hubbard. Pria itu tersenyum getir saat mengingat kejadian itu. Kejadian yang hampir sama. Bedanya dulu dia tewas meninggalkan dendam dan hidup tanpa cinta.
Sekarang dia rela melepaskan nyawanya demi wanita yang dicintainya. Setidaknya dia tewas dalam keadaan penuh kasih sayang. "Aku tidak ingin mengulangi perkataan ku. Lakukan sekarang!" perintah David sambil mencengkram kerah Brayan.
Tanpa pemuda itu sadari, dia meneteskan air mata. "Jadi ini akhirnya?" tanya Brayan untuk meyakinkan diri.
"Begini akhirnya," jawab David. Pria itu langsung tidak sadarkan diri. Doughlas segera menahan kepala David sebelum kepala pria itu terhempas ke tanah.
"Lakukan sesuai permintaannya!" kali ini pamannya sendiri yang mengatakannya.
__ADS_1
Brayan berdiri dengan gontai. Biasanya dia akan melakukan lari super cepatnya dengan senang hati. Kali ini berbeda. Brayan tidak ingin melakukan bakat larinya. Entah apa yang akan terjadi setelah ini? Pemuda itu menatap ke sekeliling. Mengingat wajah-wajah yang ikut bertarung mempertahankan keberadaan manusia spesial yang memiliki bakat murni.
"Kita tidak punya banyak waktu. Cahaya biru itu mulai menghilang," ucap Bricia.
Brayan menatap langit tempat cahaya biru itu terpancar samar. Meski berada di sana, bukan berarti Elaina berada di sana. Bisa saja itu pengalihan. Pemuda itu menguatkan hati. Dia mulai mengambil ancang-ancang untuk melakukan lari supernya. "Sampai jumpa," ucap Brayan sambil tersenyum. Pemuda itu berlari sambil meneteskan air mata. Aku harap ada keajaiban untuk kita semua. Brayan memanjatkan doanya dalam hati.
Setengah dari kekuatan Elaina terserap oleh Billy. Tenaga Elaina hampir habis. Namun, Elaina merasakan sesuatu di bagian perutnya. Sesuatu yang bergerak lembut. Tanpa wanita itu sadari, dia memegang perutnya. Air mata Elaina kembali mengalir deras saat menyadari sesuatu. Janin itu memberi sinyal pada Elaina. Memberitahu Elaina akan keberadaan dirinya.
Elaina bukanlah gadis biasa. Dia spesial karena memiliki bakat. Begitu pula ayah janinnya. Seorang pria yang terlahir kembali dengan kekuatan yang cukup hebat. Wajar jika janinnya berbeda dengan janin manusia biasa.
"Maafkan mommy yang terlambat mengetahui kehadiranmu," ucap Elaina dalam hati. "Daddy pasti akan senang jika mengetahui kau hadir di antara kami."
Billy merasakan tubuhnya memanas. Seharusnya tidak seperti ini. Dia menatap lekat Elaina. "Kau hamil!" teriak Billy. Pria itu terlihat murka. Janin yang berada di dalam perut Elaina dapat meruntuhkan mantra di dadanya dan menjadi senjata yang akan menyerang dirinya sendiri.
"Elaina! Elaina!" Elaina dapet mendengar suara Brayan memanggil dirinya melalui pikiran.
"Aku di sini," jawab Elaina.
"Dengarlah! Ini kekuatanku yang terakhir. David selamat namun keadaanya cukup parah. Begitu pula dengan ayahmu. Aku sedang melakukan putaran terakhir dari lari super. Ini adalah perintah David dan ayahmu. Aku tidak ingin melakukan ini," ucapan Brayan terhenti. Dia tidak sanggup lagi untuk melanjutkan ucapannya.
"Aku hanya ingin tahu keadaanmu sebelum kita terpisah."
Teriakan Billy menggema saat seluruh tubuhnya bercahaya. Elaina melihat dengan jelas tubuh pria itu perlahan berubah menua. Bahkan lebih tua dari ayahnya dan menghilang.
"Billy tewas," ucap Elaina.
"Bagus. Setidaknya aku tidak terlalu merasa bersalah melakukan ini," ucap Brayan sambil tertawa getir.
"Hei uncle B! Kau sudah melakukan yang terbaik."
"Uncle? Apa aku akan menjadi paman?" tanya Brayan tak percaya.
"Ya, setidaknya kau tahu tentang janinku," jawab Elaina sedih.
__ADS_1
"David belum tahu?"
"Belum."
"Aku akan memberimu hadiah perpisahan. Tak ada salahnya menghabiskan seluruh tenaga dan bakat yang tersisa."
"Apa yang akan kau lakukan?" Elaina khawatir dengan yang akan dilakukan oleh Brayan. Pemuda itu terkenal bertindak lebih dulu daripada berpikir.
"Tenang saja," jawab Brayan.
Beberapa saat kemudian, suara David menggema di pikiran Elaina. "Sayang," ucap David dengan napas terputus-putus.
"Dave!"
"Ya, ini aku."
"Dave! Aku hamil," ucap Elaina tanpa ragu.
"Benarkah? Aku akan menjadi seorang Daddy yang hebat untuknya," ucap David lemah. Tenaga pria itu telah terkuras. Yang tersisa hanyalah kekuatan pikiran. Meski raganya telah diam, David masih bisa menggunakan kekuatan terakhirnya.
"Ya," jawab Elaina lirih.
Cukup lama Elaian terdiam. Pikirannya sunyi tidak ada suara David lagi di sana. "Dave! Dave!" wanita itu memanggil David. Namun, tidak ada jawaban sama sekali.
"Maaf adikku tersayang. Kekuatanku hampir habis," Brayan sengaja berbohong pada Elaina. Dia tahu keadaan David saat ini sedang kritis. Pemuda itu terpaksa melakukannya karena dia tidak ingin David tiada dalam keadaan tidak mengetahui kehamilan Elaina.
"It's okay," jawab Elaina terisak.
"Elaina, putaran terakhirku hampir mencapai garis finish. Berpegangan lah dengan sesuatu!" perintah Brayan. "Sayonara Elaina."
Cahaya yang sangat menyilaukan menyelimuti Elaina. Potongan-potongan gambar seperti puzzle berterbangan dan saling membentur satu sama lain seperti film yang diputar berulang-ulang. Cahaya itu menyelimuti seluruh yang berada di dalam dua dimensi berbeda. Detik berikutnya kedua mata Elaina tertutup rapat.
~Tamat~
__ADS_1
"Sesuatu yang semestinya tidak terjadi harus kembali ke asalnya. Namun, aku tidak pernah menyesali kelahiran ku kembali hingga aku menemukanmu" ~David 336 Hours~