
Bricia tidak menyangka jika tubuh Brayan akan melesat secepat itu. Ekspresi santainya seketika berubah menjadi takut. Dia takut jika di antara David dan dia tidak ada yang berhasil menangkap tubuh Brayan tepat waktu.
Kurang lebih sepuluh meter lagi, tubuh David akan menghantam permukaan tanah. Jarak antara Bricia dan Brayan masih cukup jauh. Bricia melirik ke samping. Dia melihat David dan mengukur jarak antara David dan Brayan. Jarak David justru lebih jauh darinya.
Pria itu terlihat sangat fokus menatap arah Brayan. Dia tahu jika Bricia mulai khawatir. "Siapa suruh kalian mengerjai aku?" David berkata dalam hati. Senyum licik terukir di sudut bibir pria itu.
David bisa mengukur kekuatannya sendiri. Dia bisa saja langsung melesat turun. Akan tetapi, dia sengaja mengerjai dua saudara itu. Jika saja David tidak memberi informasi tentang keselamatan adik-adiknya, sudah tentu dia akan menghabiskan malam yang panas dengan istri tercintanya.
Pria itu masih saja kesal karena telah dipisahkan dari Elaina secara sengaja oleh B bersaudara. Padahal mereka tahu waktu yang tersisa tidak sampai satu Minggu.
Jarak antara tubuh Brayan dan daratan semakin menipis. Kesadaran Brayan mulai kembali saat memasuki jarak enam meter dari permukaan tanah. Namun, dia sengaja tidak membuka mata. Dia ingin melihat seberapa jauh kepedulian keluarganya.
"Apa mereka berdua berniat untuk menghabisi nyawaku?" Brayan bertanya dalam hati. Dia mulai takut jika salah satu di antara David dan Bricia tidak berhasil menangkap tubuhnya.
"Aduh! Apa aku harus sadar sekarang!" Brayan semakin takut. Takut jika saja tubuhnya terhempas ke daratan. Sudah dipastikan bukan hanya mendarat di atas permukaan tanah. Akan tetapi, tubuhnya pasti akan masuk ke dalam tanah dengan jarak yang sulit ditentukan. Tapi yang pasti, nyawanya melayang.
__ADS_1
Wajah Bricia semakin menyiratkan ketakutan yang teramat sangat. David tahu, pasti Bricia tidak bisa menggapai tubuh Brayan. Lagipula saat ini jarak tubuh David dengan permukaan tanah tinggal tiga meter lagi.
Senyum licik kembali terukir di sudut bibir pria tampan itu. Dia merasa cukup puas dengan pembalasannya. "Ok. Sudah waktunya." David berkata dalam hati.
David menambah kecepatan. Tubuhnya melesat cepat seperti angin badai. Tubuh Bricia saja sampai oleng saat terkena dampak angin yang dihasilkan oleh David saat pria itu melesat turun.
Brayan yang hampir menyerah dengan keadaan merasa lega saat merasakan ada sesuatu yang kuat dari atas tubuhnya melesat turun. Tepat di ketinggian setengah meter, David berhasil menggapai tubuh Brayan. Kini posisi mereka dengan Brayan berada di gendongan David seperti pengantin baru.
Bricia yang tadinya takut dan khawatir, langsung tersenyum saat melihat posisi mereka. "Wah, David. Aku tidak tahu jika kau sedikit belok." Goda Bricia sambil tertawa.
Bricia tersenyum sambil menunjuk ke arah Brayan yang terlihat nyaman dalam gendongan ala bridal. David mengikuti arah yang dimaksud Bricia. Dia menatap wajah Brayan kemudian turun ke tubuh pemuda itu. Dia sedikit mengerti yang dimaksud 'belok' oleh Bricia.
Akan tetapi, pandangan David terhenti saat melihat sesuatu yang basah pada bagian depan celana Brayan. Di berusaha mencerna mengapa celana bagian depan pemuda itu basah. David menengadah ke atas. Langit di Paris pagi ini sangat cerah. Tidak ada setetes air hujan yang jatuh.
David menatap tajam Bricia. Dia tidak ingin mendengar atau melihat respon dari gadis itu jika yang dipikirkannya saat ini benar.
__ADS_1
Bricia yang bisa membaca pikiran David, memberikan dua jempol pada pria itu sambil mengangguk.
"What? Dia mengompol!" David berteriak terkejut sambil melepaskan kedua tangannya hingga tubuh Brayan mendarat sempurna di permukaan tanah dengan bunyi yang cukup keras.
"Hahaha..." Bricia sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Kelakuan David berhasil membuat perutnya sakit. Belum lagi dia melihat tubuh Brayan yang terhempas ke tanah.
Bersambung
* * *
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh. Yuksss mampir! Ceritanya dijamin seru banget loh!
Judul: My Two Annoying Brothers
Penulis: Liliani
__ADS_1