336 Hours

336 Hours
Bab 28. Eksekusi


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Paman Jeff dan Theo telah tiba di Indonesia kemarin. David telah meminta pengurus mansion untuk melayani mereka dengan baik selama David tidak berada di mansion. Dia akan kembali ke mansion besok.


Elaina sudah mulai terbiasa dengan kehidupan dan status barunya. Tapi, kebiasaannya masih tidak berubah. Dia tidak seperti gadis kebanyakan yang suka berbelanja barang-barang mahal. Setiap kali David mengajaknya ke sebuah mall, Elaina pasti akan meminta David untuk berbelanja di pasar tradisional saja.


Menurut Elaina lebih baik memberi keuntungan untuk pedagang kecil daripada membeli barang mewah di mall. Apalagi mall yang di pilih David adalah sebuah mall terbesar dan terkenal di Jakarta. Awalnya David merasa sulit menerimanya. Akan tetapi, kepribadian Elaina yang seperti ini sangat disukai oleh David. Dia merasa semakin jatuh cinta pada Elaina.


"Hari ini aku ada sedikit pekerjaan. Apa kau ingin aku antar ke mall atau salon?" David bertanya sambil merapikan kaos hitam lengan panjang yang sedang dikenakannya.


"Apa tidak sesak memakai pakaian seperti itu?" Elaina menatap penasaran saat melihat David mengenakan pakaian yang menurutnya sangat ketat.


"Tentu saja tidak. Baju ini berbahan Grafena."


"Grafena? Laki-laki atau perempuan?" Elaina penasaran tentang siapa Grafena.


"Nama bahan, sayang. Seperti spandek, wol, sutra," jelas David.


"Oh! Aku pikir siapa. Aku baru tahu jika ada nama bahan seperti itu."


David telah berpakaian. Dia hanya perlu mengenakan sentuhan terakhir. Blazer dan sarung tangan hitam.


"Tawaran terakhir?" tanya David sambil menatap wajah Elaina.


"Tidak. Aku di sini saja," Elaina meyakinkan David bahwa dia akan baik-baik saja di kamar hotel.


"Ok. Aku pergi sekarang," ucap David melirik jam tangannya.


"Setengah jam lagi aku kembali," tutur David.


Elaina segera berdiri menghampiri David. Baru dua hari terakhir, Elaina terbiasa mencium kening David, begitu pula sebaliknya saat pasangan mereka akan pergi.


Cup

__ADS_1


Elaina mengecup kening David lembut. Meskipun David sudah menundukkan kepalanya, tetap saja Elaina harus berjinjit sedikit.


I love you. Ucap Elaina dalam hati. Dia tidak pernah ingin terlalu mengekspos perasaannya terang-terangan. Apalagi dengan sifat David yang senang menggodanya. Cukup dilafalkan dalam hati saja.


David membalas kecupan Elaina dengan mengecup kening, pipi kanan, pipi kiri, ujung dagu, ujung hidung, dan terakhir kecupan singkat di bibir ranum Elaina.


"Manis," ungkap David sambil tersenyum.


Tuh kan! Baru saja aku bilang dia selalu menggodaku. Baru hitungan detik sudah terlihat. Gerutu Elaina di dalam hati.


"Memangnya kau belum tahu ya?" pancing Elaina.


"Tahu apa?"


"Jika keluargaku memiliki pabrik gula," ucap Elaina sambil tersenyum.


"Benarkah! Mengapa hal sepenting itu aku tidak tahu ya. Di mana pabriknya berada? Tanya David penasaran.


"Sudah tahu? Makanya bibirku manis," timpal Elaina.


"Kau itu ada-ada saja," tutur David sambil tersenyum.


David mencubit pelan ujung hidung Elaina dan mengacak pelan rambutnya. Elaina sangat tidak suka saat seseorang memainkan rambutnya. Akan tetapi, sentuhan David sangat berbeda.


Dia bahkan merindukan setiap kali David mengacak atau membelai rambutnya. Tersirat rasa nyaman dan tenang di sana.


*


*


Gedung J.


Target David tepat berada di gedung Z. Namun David mengarahkan kakinya menuju bagian belakang gedung J. David memilih gedung J karena bangunannya lebih tinggi dari pada gedung Z. David keluar hotel melalui lift rahasia yang terletak di ujung kamar.

__ADS_1


Desainnya saja yang berbentuk lemari. Tapi saat di buka, isi dalam lemari bukan pakaian melainkan kotak segi empat yang hanya muat di isi oleh dua orang saja. Dia sengaja meminta sahabatnya, Samuel untuk merenovasi sedikit kamar yang selalu ditempatinya. Mau tidak mau Samuel harus menuruti keinginannya. Jika tidak, bagaimanapun caranya hotel yang sudah lama di rintis olehnya pasti akan berpindah tangan pada David.


David memasuki gedung J dari belakang. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian dengan pakaian serba hitam. Dia memilih menaiki anak tangga itu untuk mencapai lantai tujuannya.


Gedung J lebih besar daripada gedung Z. Hanya saja biaya sewa yang selalu naik tiap tahunnya membuat penyewa ruangan kantor tidak mampu untuk membayar. Lantai yang efektif digunakan hanya sampai lantai sebelas. Sedangkan lantai dua belas sampai dua puluh satu kosong. Tapi tidak terbengkalai. Setiap lantainya masih tampak sangat terawat.


David melirik jam tangan di tangan kanannya. Sepuluh menit lagi. Waktu yang sangat cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya.


David memilih lantai dua belas. Lantai yang tidak berpenghuni. Tempat yang sangat cocok untuk menembak. Target diperkirakan tiga menit lagi akan hadir di sana. David segera memposisikan senjata SPR-2. Beruntung terdapat kaca pecah. Sehingga David tidak perlu memecahkan kaca jendela.


Setelah semua pas, David segera menelungkup kan tubuhnya di atas permukaan lantai. Dari teleskop mini, David dapat melihat saat ini targetnya sedang berdiri sambil berbincang-bincang. David melihat jam tangan. Kurang lebih dua menit lagi waktu eksekusi.


David memberi tanda bulatan merah di paha kiri target dari kejauhan. Pria separuh baya itu hanya melakukan sedikit kesalahan. Dia baru terjun dalam dunia korupsi yang tanpa disengaja telah membawanya ke David untuk di adili.


David kembali melirik jam tangannya. tepat pukul setengah empat sore. Dia segera menekan SPR-2. Terlihat pria paruh baya di gedung seberang langsung jatuh ke belakang. Beberapa orang pria segera berlari ke arah pria itu. Beberapa dari mereka bahkan mengeluarkan pistol dari balik jas.


David bisa menebak, saat ini para pengawal pria itu sedang sibuk mencari posisi si penembak jitu.


David meraih ponsel jadulnya dan memberi pesan pada si pelanggan bahwa misinya berhasil. Benar saja, setelah si penerima pesan membaca pesan dari David. Sebuah notifikasi terdengar di ponsel android miliknya. Sejumlah uang yang fantastis telah mendarat di rekening pribadinya.


David mengeluarkan kartu SIM dan menghancurkan ponsel dengan menginjaknya hingga tak berbentuk. Dia segera meninggalkan gedung setelah membersihkan sisa bang kai ponsel.


Saat akan turun ke lantai dua belas, David kembali menekan sebuah tombol yang terdapat di samping jam tangannya. Cctv yang mengarah di setiap jalan yang dilaluinya pasti akan mati sesaat.


Jika operator melihatnya, hanya terlihat seperti kesalahan teknis saja. David melangkahkan kedua kakinya dengan sangat cepat. Karena waktu yang diperlukan untuk kembali tidak banyak. Apalagi harus mengelabui CCTV di setiap gedung dan jalan raya.


David menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia ingin memastikan bahwa dia aman sebelum memasuki gedung hotel. Kurang lebih sepuluh langkah lagi dia akan segera tiba di bagian belakang gedung hotel.


David segera masuk melalui pintu belakang. Dia berjalan mengarah ke dapur. Setibanya di dapur, David segera menekan sebuah tombol yang terletak di belakang pintu. Suara pintu lift yang terbuka tidak membuat para koki hotel terganggu.


Setelah memasuki lift pribadinya, David segera menekan tombol di mana kamarnya berada.


"Kau hebat sekali!" ucap seseorang yang berhasil membuat David terkejut.

__ADS_1


__ADS_2