336 Hours

336 Hours
Bab. 14 Maid Sitter not Baby Sitter.


__ADS_3

Seluruh karyawan mansion sudah berdiri rapi di depan meja makan tuan mereka. Elaina yang melihat teman-teman maid nya sudah berbaris rapi, segera berdiri hendak ikut serta disana. Tapi gerakannya terhenti karena di tahan oleh David. David menyuruhnya untuk duduk kembali dan bersikap tenang.


"Maaf tuan, seluruh karyawan mansion sudah berada disini. Jika ada yang ingin ada sampaikan, silahkan tuan," lapor pak Griffin.


"Terima kasih kalian semua sudah mau meninggalkan pekerjaan kalian sebentar. Aku hanya ingin mengumumkan sesuatu yang penting untuk kalian. Aku hanya menyampaikannya satu kali. Jadi aku harap kalian semua dapat mendengarnya dengan baik. Apa kalian mengerti?" tanya David pada seluruh maid.


"Mengerti tuan," jawab seluruh maid termasuk Elaina.


"Mengapa kau ikut-ikutan menjawab?" tanya David.


"Kan aku termasuk karyawan mansion juga tuan," jawab Elaina polos sambil menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuk kanannya.


"Terserah kau saja," balas David dengan malas.


"Dengarkan aku! Mulai hari ini Elaina adalah nona di mansion ini. Perlakukan dia seperti kalian melayaniku. Panggil dia dengan sebutan nona Elaina. Kalian paham?" tanya David.


"Baik tuan," jawab seluruh karyawan.


Lagi-lagi Elaina ikut menjawab dengan suara yang paling kencang diantara mereka. Semua mata menatap padanya. Mendapat tatapan dari semua orang membuat Elaina kebingungan.


"Apa aku salah?" tanya Elaina sambil menatap David.


"Kau tanya saja mereka?" David balik bertanya padanya.


Pak Griffin yang mengerti akan kebingungan Elaina mulai bersuara.


"Apa ada yang bisa saya bantu, nona?" tanya pak Griffin sopan sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.


Elaina bukannya menjawab. Dia justru melirik kesana kemari mencari sosok nona yang disapa oleh pak Griffin. Beberapa maid tampak menahan senyum dan tawa melihat kelakuan Elaina.


"Tuan, siapa yang dimaksud pak Griffin?" tanya Elaina sambil menyikut lengan David.


David hanya sekedar meliriknya saja. Gadis di sampingnya ini sudah ceroboh, otaknya juga lambat. Untung saja wajahnya cantik.


"Coba kau ulangi kalimatku barusan!" perintah David.


"Yang mana tuan?" tanya Elaina.


"Bukannya tadi kau berteriak paling kencang. Artinya kau sangat paham dengan apa yang ku maksud," jelas David.


"Sebentar tuan. Aku pikir dulu," jawab Elaina. Kedua alisnya tertekuk. Tangan kirinya dia lipat, dan jari telunjuk tangan kanannya membuat gerakan seperti menusuk kening.


"Ah, yang kedua?" tanya Elaina.


David hanya menjawab dengan sekali anggukan.


"Baiklah. Aku akan mengulanginya. Dengarkan aku! Mulai hari ini Elaina adalah nona di mansion ini. Perlakukan dia seperti kalian melayaniku. Panggil dia dengan sebutan nona Ela-i-na," suara Elaina yang tadinya lantang berubah menjadi gugup saat menyebut namanya sendiri.


Kedua matanya membulat. Mulutnya berhasil membentuk huruf o dengan sempurna. Dia langsung berdiri dari kursi karena terkejut. David menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah Elaina yang menurutnya sangat lucu.


"Ba-bagaimana bisa, tuan?" tanya Elaina.


"Aku tuannya. Jadi pasti bisa," jawab David santai.


"Ta-ta-pi," Elaina berkata dengan gugup.


David memberinya kode untuk diam. Dia akan melanjutkan ucapannya.


"Pak Griffin," panggil David.

__ADS_1


"Iya, tuan," jawabnya sopan.


"Tolong siapkan semua keperluan nona Elaina!" pinta David.


"Baik tuan," jawab pria paruh baya itu dengan sopan.


"Tunggu pak!" cegah David.


"Siapkan semuanya di kamarku!" perintah David.


"A-pa? Tidak, tidak, tidak," ucap Elaina sambil menggelengkan kepalanya.


"Mengapa tidak?" tanya David penasaran.


"Tu-an. Bagaimana bisa kita tinggal di dalam kamar yang sama. Kau dan aku tidak ada hubungan. Sangat tidak baik menurutku," jawab Elaina.


"Tumben otakmu bagus!" seru David.


"ish, tuan. Aku ini serius," rajuk Elaina.


Ekspresi gadis itu selalu berubah dengan cepat. Itulah sebabnya David sangat senang menggodanya.


"Apa aku yang sedang bercanda?" David kembali melontarkan pertanyaan pada Elaina.


"Tidak, tuan," jawab Elaina sambil menggelengkan kepalanya.


"Bagus jika kau paham. Kemari lah!" perintah David pada Elaina sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.


Elaina spontan mengikuti perintah tuannya itu.


"Kau pasti masih ingin bekerja disini bukan?" tanya David.


"Kalau begitu kau menurut saja. Jika tidak, pilihannya hanya satu. Keluar dari mansion ku!" ancam David.


"Baik. Tidak tuan," jawab Elaina bersamaan.


"Maksudmu?" tanya David.


"Baik aku menuruti perintah tuan. Tidak, jangan tendang aku keluar dari mansion ini, tuan," jawab Elaina.


"Bagus. Gadis baik," ucap David sambil mengelus pucuk kepala Elaina tanpa sadar.


Semua karyawan yang melihat hanya bisa mengulum senyum mereka. Setidaknya kebingungan mereka terjawab. Tuan David menyukai Elaina. Jadi wajar saja Elaina diperlakukan seperti nona muda di mansion. Sedangkan Elaina masih tidak menyadari perasaan tuan David. Kesimpulan yang sangat mudah mereka tarik saat ini.


"Eh, tuan. Bisa berhenti mengelus kepalaku. Aku bukan anak TK tuan," pinta Elaina.


David yang tidak sadar telah mengusap kepala Elaina langsung menurunkan tangannya.


"Bodoh. Apa yang telah aku lakukan padanya," umpat David didalam hatinya. Tak ingin Elaina dan seluruh karyawannya melihat kecanggungan dirinya. David segera memberi perintah kepada pak Griffin.


"Apa bisa dilakukan sekarang, pak?" tanya David sopan.


"Baik tuan. Sesuai dengan permintaan anda," jawab pak Griffin sambil membungkukkan tubuhnya. Dia berbalik kemudian memberi isyarat kepada seluruh karyawan untuk segera kembali pada tugas mereka masing-masing.


Seluruh karyawan telah kembali menjalankan tugas mereka yang tadi mereka tinggalkan sebentar. Kini hanya tersisa David dan Elaina di rumah makan. David segera melancarkan aksinya. Dia mengambil nasi beserta lauk pauknya dalam porsi jumbo.


Elaina terkejut melihat porsi makan tuannya itu. Sudah seperti porsi makan orang yang bekerja tiada henti. Mungkin saja. Mengingat kekayaan yang dimiliki oleh tuan David. Pasti dia sangat bekerja keras meraihnya.


"Kau tidak mau makan?" tanya David.

__ADS_1


Kepala Elaina menggeleng tapi mulutnya berkata iya.


David terkekeh melihat ekspresi Elaina yang lucu menurutnya.


"Jika kau tidak cepat. Aku akan menghabiskan semuanya," ancam David.


Mendengar ancaman yang dilontarkan oleh David, membuat Elaina langsung meraih piring dan mengisinya dengan nasi beserta teman-temannya.


David dan Elaina makan malam dalam keheningan. Suatu kesamaan dari keduanya yaitu sama-sama tidak berbicara saat makan.


Selesai dengan ritual makan malam mereka, David segera meminta Elaina untuk mengikutinya ke kamar. Elaina merasa ragu untuk mengikutinya. Setelah mendapat tatapan tajam dari pemilik mansion. Dia langsung bergegas mengikuti langkah kaki tuannya.


David duduk di sebuah sofa di dalam kamarnya. Sedangkan Elaina berdiri di hadapannya.


"Dengar! Mukai saat ini kau tidur disini bersamaku!" perintah David.


"Ta-,"


"Tidak ada sanggahan. Lagipula aku tidak tertarik dengan tubuhmu," ucap David penuh penekanan.


"Hmmm ... baiklah. Aku pegang kata-kata anda, tuan. Tapi beri aku alasan agar aku percaya kepadamu!" tantang Elaina.


Dia sangat tidak suka jika seseorang meremehkan bentuk tubuhnya yang jelas-jelas sangat proporsional. Emosinya akan langsung keluar jalur jika sudah disinggung tentang tubuhnya.


"Aku menjagamu dari kecerobohan mu," jawab David.


"Maksud anda tuan?" tanya Elaina bingung.


"Apa kau ingin seluruh mansion tahu jika kau memiliki sesuatu yang aneh?" tanya David.


"Aah, itu," jawab Elaina. Dia baru teringat dengan kemampuan yang dimilikinya.


"Ya, itu. Apa kau mau dijauhi oleh orang dan dimasukkan kedalam rumah sakit gila?" tanya David.


"Tidak tuan," jawab Elaina cepat sambil menggelengkan kepalanya.


"Jadi kau harus menurutku. Mengerti?" tanya David.


"Iya tuan," jawab Elaina.


"Satu lagi. Berhenti memanggilku tuan!" perintah David.


"Baik tuan. Yos, kelepasan tuan. Hehehe ..." kekeh Elaina.


David hanya menatapnya saja tanpa berniat untuk membalasnya.


"Jadi aku harus panggil apa?" tanya Elaina.


"Terserah kau saja. Sebaiknya kau mandi. Kau bau," perintah David.


Elaina mencium tubuhnya sendiri. Dia mencari bau yang dimaksud oleh David.


"Tidak kok. Masih wangi," jawab Elaina sambil mengendus tubuhnya.


"Aku bilang mandi!" perintah David.


"I-iya," jawab Elaina sambil berlari menuju kamar mandi.


"Hah, aku sudah seperti baby sitter saja. Lebih tepatnya maid sitter," desah David sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

__ADS_1


__ADS_2