A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
First Trip With You


__ADS_3

Yogyakarta


Genta


Perjalanan mereka hari ini akan memakan waktu sekitar 5 - 6 jam dan mereka semua memutuskan untuk berangkat subuh.


"Mas, sudah dicek semua mobilnya?" tanya bapaknya yang juga ikut bangun sebelum dirinya berangkat.


Kepalanya pun mengangguk sembari meminum susu hangat yang telah disiapkan ibunya.


"Kamu tanggungjawab bawa Prisha, jangan sampai kenapa-kenapa dan jangan macam-macam." ucap ibunya sembari duduk di sebelahnya.


Bibirnya langsung tersenyum dan tertawa pelan,


"Emang mau macam-macam apa sih bu? Ibu ini ada-ada aja." jawabnya sambil terkekeh.


"Ya jangan macam-macam sama Prisha, dia anaknya ibu juga. Kalau sampai lecet, kamu yang ibu marahin." ancam ibunya dengan mata melotot ke arahnya, namun malah semakin membuatnya tergelak.


Bapaknya yang mendengarkan perdebatan mereka pun ikut terkekeh,


"Contohlah bapak ini, pas pertama kali ngajak ibu kamu pergi bareng-bareng sama yang lain, bapak masih bisa menahan diri."


"Walaupun susah.." bisik bapaknya yang membuatnya semakin tergelak.


"Bapaknya ini malah ngajarin yang nggak-nggak sama anaknya." Ibunya kembali melancarkan aksi protes.


"Lhoh, mengajarkan nggak-nggak gimana? Kan mengajarkan hal yang benar, kalau harus bisa menahan diri gitu kok!" Giliran bapaknya yang kembali angkat suara kali ini.


Dirinya memilih diam menikmati sarapannya di waktu subuh sembari mendengarkan perdebatan suami istri di hadapannya sekarang ini.


"Genta itu udah besar, udah 22 tahun. Udah remaja yang menginjak dewasa, udah bukan anak kecil lagi. Aku seusia Genta, kamu seusia Prisha udah merasakan asam garam kehidupan dan percintaan apa aja coba? Ya kan? Hayoo..." ucap bapaknya seraya menunjuk ibunya yang hanya mencibir dan tersenyum tipis.


"Bapak aja kali ahh, aku seusia Prisha kan masih polos.." cibir ibunya kemudian terkekeh.


"Ya makanya, jangan rusak kepolosan Prisha. Seperti bapak dulu, menjaga kepolosan ibumu sampai saatnya tiba ibumu benar-benar polos tanpa apapun di depan bapak."


Seketika dirinya terbahak dan langsung membuatnya tersedak, setelah mendengar ucapan bapaknya yang memang selalu vulgar kalau membicarakan hal dewasa di depannya.


Tangannya langsung meraih gelas dan meminumnya, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Ini pagi-pagi pada ngomongin apa sih? Udah ahh, Genta mau berangkat dulu. Siapa tahu bisa melihat suatu kepolosan saat pergi." ucapnya sambil beranjak berdiri dari kursinya sambil tertawa.


Prisha


"Mas, titip Prisha ya.." ucap mamanya sembari mengantarkan mereka berjalan menuju ke luar rumah.


Dirinya pun mengangguk,


"Iya tante, siap..!" jawab Genta sambil tersenyum lebar.


"Anak ini soalnya sering grasak grusuk, kamu tahu sendiri kan gimana Prisha dari kecil." ayahnya pun ikut bersuara sambil merangkul bahunya dan juga bahu Genta.

__ADS_1


"Kamu yang manut, jangan ngeyel sama Mas Genta.." ucap ayahnya lagi, kali ini sambil menatapnya lekat.


Dirinya langsung melirik malas ke arah ayahnya,


"Iya..iya ayah..Prisha bakalan hati-hati dan nurut sama Mas Genta."


"Yaudah, pamit dulu om..tante.." ucap Genta berpamitan sembari mencium tangan orangtuanya.


"Iya..hati-hati ya..selalu kabarin.." ucap ayahnya kembali seraya memeluk pinggang mamanya.


Ia dan Genta sudah masuk ke dalam mobil lalu melaju menuju ke kos sahabat-sahabat Genta yang berada di sekitataran kampus.


Mulutnya kembali menguap, entah ini sudah kali ke berapa dirinya menguap di dalam mobil.


"Masih ngantuk banget neng..? Lebar banget nguapnya.." ucap Genta sambil tertawa pelan dengan sesekali melempar pandangan ke arahnya.


"Sebenarnya ngantuk sih nggak, tapi nguap terus aja." jawabnya sambil terkekeh yang kemudian disambut tawa oleh Genta seraya mengelus puncak kepalanya, lebih tepatnya mengacak-acak rambut lurusnya.


"Iiihhh mas, berantakan nihh.." protesnya dengan wajah cemberut.


"Nggak apa-apa, masih tetap cantik kok.." ucap Genta sambil menatapnya dan tersenyum manis.


Deg...


Seketika ada yang tidak beres dengan jantungnya saat ini, tatapan dan senyuman Genta kali ini benar-benar membuatnya pening. Namun, ia membalas senyuman itu, walaupun jantungnya masih berdebar.


Ini adalah perjalanan kedua dirinya tanpa keluarganya, setelah masuk ke dunia perkuliahan. Dan ini juga pertama kalinya ia pergi bersama Genta tanpa orangtuanya ataupun orangtua Genta.


................


Matahari sudah mulai bersinar sangat terang dan sudah dua jam perjalanan mereka.


"Ta, biar gantian aku aja sini yang nyetir. Berhenti di rest area depan, sekalian Ganis mau pipis katanya." pintanya ke Genta yang sedang menyeruput kopi.


"Oke.."


"Prisha tetap di depan aja gimana? Temanin aku nyetir." godanya sambil menatap Prisha yang menengok ke arahnya.


Seketika Genta langsung menatapnya tajam,


"Colok nih ya mata! Nggak ada, kalau aku di belakang ya Prisha di belakang." protes Genta yang membuat seisi mobil tergelak.


Namun, perempuan cantik berusia empat tahun di bawahnya itu malah ikut menggoda Genta yang mulai sewot.


"Emang kenapa aku harus ikut ke belakang? Kan nggak masalah kalau aku temanin Mas Anjas, masalahnya dimana coba?"


Genta kembali menoleh dan menatap tajam Prisha,


"Masalahnya di aku! Nggak rela aku, kamu dilirik terus sama buaya macam dia.." protes Genta sambil meliriknya tajam.


"Yee, enak aja buaya..! Aku ini lelaki penuh kasih dan nggak tegaan. Aku nggak tega kalau lihat cewek sendirian, makanya aku temanin. Aku nggak tega kalau cewek nangis, makanya aku peluk. Aku nggak tega kalau cewek makan sendirian, makanya aku temanin." jelasnya tanpa dosa.

__ADS_1


"Nggak tegaan juga cewek di kos sendirian,makanya kamu temanin. Nggak tegaan juga cewek tidur sendirian, makanya kamu temanin tidur." sahut Genta cepat dengan nada sinis.


"Iihh itu pinter kamu! Kamu memang sahabat yang paling mengerti aku..! I love you Mas Genta..!" ucapnya kemudian bergaya mencium udara.


"Terserah kamu mau gitu, asalkan nggak sama Prisha. Colok nih mata !" protes Genta lagi yang kembali membuat mereka tergelak.


Rengganis


Setelah menuntaskan hasratnya buang air kecil,ia kembali ke mobil.


"Aku di depan ya Mar?" pintanya ke Damar yang sedang menenggak air mineral dan bersandar pada mobil.


"Iyaa..! Prisha di tengah aja berarti kalau di belakang." kali ini giliran Damar yang mencoba memancing emosi Genta, yang membuatnya terkekeh kembali.


"Bangun udah pagi! Masih ngimpi aja kamu!" jawab Genta sambil menatap wajah Damar secara dekat.


"Apa aku aja deh yang nyetir, kalau semuanya pada ribut.." ucap Prisha yang langsung membuat Genta menoleh ke arah perempuan cantik itu.


"Nggak usah macam-macam, udah duduk manis, ngemil sama aku aja di belakang. Biarin si Anjas tampan itu aja yang nyetir ya.." jawab Genta sambil tersenyum.


"Emang kenapa? Gini-gini aku jago nyetir lho!" timpal Prisha.


"Percaya..percaya..percaya banget kok ! Tapi kali ini nggak usah dulu aja ya, baik-baik duduk manis aja sama aku.." sahut Genta lagi sembari merangkul Prisha.


Dirinya pun yang melihat hal itu langsung tertawa, karena dirinya sangat mengerti kalau sahabatnya itu jatuh cinta dengan perempuan bernama Prisha sejak kecil.


Kemudian ia ikut masuk ke mobil dan duduk di samping Anjas,


"Bentar, cowok aku telepon! Sabar bentar ya.." cengirnya.


"Iya sayang, baru sampai Sragen ini. Iya, nanti aku kabarin kalau udah sampai."


"I love you !" ucapnya seraya mengakhiri panggilan dan ternyata sahabat-sahabatnya sudah menatap dirinya saat ini.


"Apa sih?" tanyanya sambil ikut menatap balik mereka semua.


"Gilaa..! Awet juga ya kamu sama dia, pacaran jarak jauh beda benua gitu." ucap Damar sambil menggelengkan kepala.


"Udah berapa lama kalian nggak ciuman? Bisa gitu pacaran nggak ada kontak fisik? Kalau aku mah nggak.." ucap sang buaya darat yang membuatnya langsung melirik tajam ke arah Anjas.


"Otak pikirannya sem pak mulu nih anak !" timpalnya sambil menoyor kepala Anjas.


"Mbak nggak kangen gitu sama Mas Bintang? Kalau kangen terus gimana?" giliran Prisha yang angkat suara.


"Kalau Ganis kangen pacarnya itu peluknya ke kita-kita ini. Kita ini yang jadi sasaran. Jangan ditiru ya tapi. Untung kita laki-laki beriman kuat." jelas Genta yang membuatnya terbahak.


"Kampret ya kalian! Ya kalau kangen, ya telepon atau vcall dek, mau gimana lagi. Bentar lagi juga udah kelar kuliahnya. Tenang!" jelasnya sambil terkekeh.


Memang benar Bintang yang merupakan kakak tingkatnya, saat ini sedang menempuh studi fellow nya di negara Paman Sam.


"Asiikk berarti bentar lagi ada yang bisa enak-enak ini." timpal Anjas yang membuatnya kembali mendengus kesal dan memukul lengan lelaki itu.

__ADS_1


......................


__ADS_2