
Battersea, London
Prisha
Tenggorokannya terasa kering malam itu, ia bangun dan hendak mencari minum. Namun saat akan bangun, Genta tak ada di sampingnya.
Matanya mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan, namun tak mendapati kekasihnya itu.
Keinginannya untuk mencari air minum, beralih mencari handphone nya terlebih dahulu.
02.47 angka itu menunjukkan jam saat ini. Ia mendengus pelan, namun seketika bibirnya tersenyum.
Mas Sayang ❤
Aku ke rumah sakit sebentar, ada 2 operasi dadakan, aku harus ikut. Maaf ya, bobok lagi aja kalau habis baca ini.
Pesan itu ternyata dikirimkan oleh Genta jam setengah 11 tadi. Berarti ia sudah tertidur sebelum jam itu.
Saat hendak beranjak dari ranjang, pintu pun terbuka. Kepalanya sedikit melongok untuk melihat ke arah pintu. Genta tampak melepas coat nya dengan napas sedikit terengah-engah.
"Lhoh sayang..kok bangun?" ucap Genta saat mendapati dirinya berdiri dan berjalan ke arah meja untuk mengambil minum.
"Haus.." jawabnya pelan.
"Aku mandi dulu ya.." Kemudian Genta masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badan sebelum menaiki ranjang.
5 menit ia menunggu di atas ranjang, matanya kembali sulit terpejam. Genta tampak keluar dengan bertelanjang dada dan hanya melilitkan handuk di pinggang.
Seketika membuat matanya tak berkedip dengan pemandangan pahatan indah ciptaan Tuhan yang saat ini ada di depannya. Padahal bukan hal baru, melihat Genta bertelanjang dada, namun entah kenapa malam ini hatinya meronta-ronta.
"Biasa aja lihatnya, harus dibiasakan. Ini juga punya kamu." gumam Genta tanpa menatap ke arahnya, namun berhasil memberikan efek panas pada wajahnya.
Dengan santainya kekasihnya itu melepas handuk dan memakai celana jogger panjang, lalu memakai kaos lengan panjang. Matanya semakin tak berkedip dan hanya mampu menelan salivanya.
Walaupun kamar mereka sudah dilengkapi heater, tapi tetap saja lebih nyaman tidur memakai baju hangat saat musim dingin seperti ini.
Genta kemudian merangkak naik, lalu mengecup keningnya.
"Lain kali kedip dong, kalau lihat aku pakai baju. Baru lihat gitu, udah nggak kedip. Apalagi kalau aku lepas semua."
Kerlingan mata Genta langsung membuat efek panas yang menjalar cepat ke wajahnya yang pasti telah berubah menjadi merah merekah.
Namun, ia berusaha menetralisir semuanya dengan membelokkan tema perbincangan.
__ADS_1
"Mas, sering tengah malam tiba-tiba ke rumah sakit gini?" tanyanya sambil membenamkan kepala di dada bidang Genta.
"Ya kalau ada operasi dadakan, kurang personil atau mengharuskan residen ikut buat tambah ilmu, ya mau nggak mau ikut. Ini tadi ada kecelakaan beruntun, 8 korban. Sebenarnya sih tugas seperti ini, lebih ke senior residen, tapi ini kan libur natal banyak yang pulang." Genta mengelus rambutnya.
"Tapi kelihatannya aku mesti beli mobil aja deh habis ini, remuk badanku kalau tahun-tahun berikutnya dapat jaga malam atau dapat rotasi ke rumah sakit lain." imbuh Genta sambil menghela napas.
Kepalanya pun mengangguk mengerti, kemudian mengecup rahang Genta sekilas, lalu kembali membenamkan kepala di dada Genta.
"Lain kali jangan cium situ, apalagi kalau suasananya lagi seperti ini.." gumam Genta yang membuat napasnya berhenti seketika.
"Besok aja ya aku kasih tahu titik mana aja yang jangan dipancing, malam ini aku capek banget. Jangan dibuat tambah capek." sambung kekasihnya itu dengan cepat membuat dirinya mendaratkam cubitan di perut rata Genta.
"Iihhh mas.."
Hanya butuh beberapa menit, napas Genta sudah teratur, menandakan sudah tertidur lelap. Ia memindahkan kepalanya di bantal, lalu menatap dan mengelus wajah kekasihnya itu.
Ehh..kekasih yang juga sudah akan menjadi calon suaminya kan?
Pikirannya sekarang melayang ke setiap langkah hidupnya yang ia lewatkan bersama Genta. Dari dirinya masih balita hingga sekarang.
"Aku cuma mau sama mas Genta..! Aku nggak mau sama Abimanyu..!" rengeknya saat ia berkumpul dengan sepupu-sepupunya saat itu.
Ia kembali mengingat satu momen di mana Genta berantem menonjok wajah salah satu pengunjung club yang tiba-tiba memeluk dirinya.
"Emang elo siapa? Berani nonjok gue?!" salak lelaki yang tubuhnya juga sepadan dengan tubuh Genta.
Dirinya hanya diam mematung, syok dengan perlakuan lelaki itu dan juga syok dengan pertengkaran itu. Lelaki itu ternyata salah satu anak kampus yang juga pernah bertengkar dengan Wisnu.
"Dia cewek gue, breng sek! Seenaknya aja lo peluk-peluk cewek! Berani lo pegang sedikit aja, habis lo..!" Ancam Genta sambil menarik kerah kemeja lelaki itu.
Terlalu banyak cerita remajanya hingga saat ini bersama Genta. Kekasihnya itu selalu melindunginya, menghiburnya, bahkan rela dengan sabar mengajari dirinya belajar motor dan mobil.
"Bisa..kamu bisa..yakin aja! Tenang dulu, injak dulu koplingnya, masukin 1, rem tangannya lepas..terus lepas pelan-pelan koplingnya...Nahh gitu..! Bagus..!Tenang..yang penting tenang.."
"Mas, tapi habis ini belok...gimana ini..mas..mas.."
"Ya belokin aja dong setirnya sayang, sambil lihat gantian spion kanan kiri, tengah. Naahh..itu bisa..!"
Ia kembali memandang lekat wajah Genta yang tampak sudah tertidur pulas dengan sedikit mendengkur halus, mungkin karena terlalu lelah
"Terimakasih mas, udah selalu sayang sama aku.." gumamnya pelan kemudian mencium pipi Genta, yang membuat lelaki itu sedikit terganggu namun tidak sampai terbangun.
................
__ADS_1
Genta
Pagi ini terass berbeda, ada sesosok perempuan yang masih tidur di sampingnya saat ia membuka matanya.
Wajah Prisha yang putih mulus, hidung yang mancung, dan anak-anakan rambut yang cukup banyak menghiasi wajah cantik itu.
Prisha termasuk salah satu wanita yang memiliki bulu-bulu tipis halus di bagian kumis, tangan, dan tengkuk. Namun, itu lah yang membuat perempuan itu semakin terlihat mempesona dan menguji jiwa laki-lakinya.
Diusapnya wajah Prisha dengan buku-buku jarinya, namun perempuan itu tetap bergeming, tidak menunjukkan respon apapun.
Bibirnya tertawa kecil melihat Prisha yang tidur dengan mulut setengah menganga. Tanpa berpikir panjang ia langsung menyatukan wajah mereka. Awalnya ia hanya bermain sendiri, namun tak ada satu menit perempuan itu telah membalas pagutannya.
Tangan Prisha yang sudah mengusap tengkuk dan punggungnya semakin memacu hasratnya untuk menginginkan lebih.
"You're so seductive..i'm hooked on you already, baby..! (Kamu sangat menggoda..aku sudah kecanduan kamu, sayang..!)" desisnya dengan napas yang meniup-niup di telinga Prisha.
Damn..!
Sekarang bersentuhan dengan Prisha bagaikan candu baginya, apalagi setelah menahan hasrat satu tahun lebih tidak bertemu.
Tanpa perempuan itu bersusah payah menggoda atau berpenampilan lebih pun, hanya dengan menatap Prisha saja sudah membuat dirinya kalang kabut tak terarah.
Imannya tak sekuat itu saat bersama Prisha? Ya ia akui imannya sangat lemah saat bersama Prisha, jiwa kelakian-lakiannya yang selalu membara.
Prisha sudah menggeliat tak beraturan saat ia memberikan sentuhan-sentuhan di setiap titik yang ternyata itu titik-titik sensitif Prisha.
"Maa..aassss..." desis Prisha dengan napas satu-satu dan sedikit tersengal saat ia menenggelamkan sentuhan pada titik sensitif Prisha.
Walaupun saat ini ia sedang menggila, namun ia masih sepenuhnya sadar tidak meminta Prisha untuk menyerahkan hal satu itu hingga waktunya tiba.
"Udah..maaasss...stooo..pppp.." desis Prisha memelas sambil menangkup kedua pipinya dengan tangan halus itu.
Ia langsung mendongakkan kepala dan menatap wajah Prisha yang sudah terlihat sayu dan napas terengah-engah. Lalu ia menjatuhkan dirinya ke dalam dekapan kekasih cantiknya itu.
"I Love you sayang...sorry.." bisiknya sambil terus mengatur napasnya yang masih memburu.
"It's okay.. i know you..! I see.." jawab Prisha masih sambil memeluknya erat mencoba menetralkan panas di dalam dirinya.
Kemudian ia berpìndah kembali ke samping Prisha dan saling bertatapan.
"Aku ngerti mas kok, nggak masalah aku orangnya selagi aku bisa kasih, aku kasih. Tapi, kalau untuk yang satu itu nggak dulu ya mas. Aku belum bisa.." jelas Prisha pelan sambil mengelus wajahnya.
Dirinya pun tersenyum dan menganggukkan kepala perlahan.
__ADS_1
......................