A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Menghabiskan Malam Yang Panjang


__ADS_3

Yogyakarta


Prisha


Ia mulai menggeliat, meregangkan otot-ototnya. Badannya saat ini terasa remuk redam, tulang-tulangnya seakan lepas. Dirinya tak menyangka suaminya memiliki tenaga ekstra untuk urusan ranjang.


Entah berapa kali, Genta selalu berhasil membawanya terlena hanya dengan sebuah sentuhan yang membuatnya pasrah.


Ditatapnya wajah suaminya yang masih terlelap. Bagaimana tidak? Mereka memulai kegiatan panas sekitar subuh dan benar-benar berakhir sekitar jam 8. Ia yang merasa baru beristirahat sebentar, tangan suaminya kembali membelai tubuhnya. Apakah semua laki-laki seperti itu saat pengantin baru? Dengusnya pelan.


Namun bibirnya melengkung ke atas, wajahnya merona mengingat apa yang telah mereka lakukan pagi tadi. Ia hampir tak mengenal dirinya lagi yang berubah menjadi liar dan agresif saat bisikan dan sentuhan suaminya menyapu tubuhnya.


"Ngapain senyum-senyum? Mukanya merah gitu?" suara berat Genta membuyarkan lamunannya.


"Bayangin apa hayo..? Kok senyum-senyum gitu?" tatapan Genta membuat badannya semakin lemas.


Dirinya menggelengkan kepalanya,


"Mas, nggak laper? Kita nggak sarapan? Udah jam 11 lho." tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Sarapan di kamar aja, aku pengin meghabiskan waktu di kamar." jawab suaminya sambil mendekapnya erat.


"Capek ya mas?" tanyanya polos.


"Nggak, justru aku pengin di kamar seharian biar bikin capek." jawab Genta sambil mengerlingkan mata yang membuatnya melirik malas.


"Nggak ahh..! Capek aku mas, kamu nggak ngasih aku istirahat. Remuk nih badanku." dengusnya melepaskan dekapan itu, kemudian beranjak untuk mengambil baju yang berserakan di lantai kamar.


Matanya menyapu seluruh penjuru kamarnya, hanya satu kata yang menggambarkan semuanya, Berantakan!


Bukan hanya ranjang mereka, tapi sofa yang bantalnya tadinya tertata rapi, sekarang sudah tampak mengenaskan karena menjadi sasaran aksi suaminya.


Apa kabar kalau sampai ada orang yang masuk ke kamar mereka saat ini? Oh my...!


"Kok pakai baju?" Seketika wajahnya melongo mendengar pertanyaan suaminya itu. Pertanyaan macam apa itu?


"Mas, pakai baju dulu. Ini diberesin dulu kamarnya. Lihat dong, udah macam kapal pecah gini. Nanti kalau ada yang masuk gimana?" jawabnya sambil memberikan celana suaminya.


Genta mengerlingkan mata kembali,


"Pakein dong sayang. Kamu sukanya ngelepas, nggak mau pasangin lagi."


"Iiissshhh..! Banyak mau dehh.." protesnya dengan memanyunkan bibir sambil berdiri di samping ranjang. Suaminya malah menenggelamkan wajah di dadanya yang membuat bibirnya kembali mendesis.

__ADS_1


Lalu bibir Genta turun mengecup perutnya.


"Anak bapak berenangnya sampai mana? Yang kuat ya nak, sehat. Baik-baik di perut ibu. Habis ini bapak kasih teman lagi yang banyak, tapi bapak mau makan dulu. Kasihan ibu juga capek, sama mau beresin kamar yang katanya berantakan. Salah sendiri siapa suruh ibu terlalu hot dan sexy, kan bapak jadi ikutan panas." gumam suaminya yang membuatnya mencebik sambil tertawa kecil.


Entah ia mendapat ide darimana,


"Nanti habis makan, pasti bakal lebih hot lagi. Tapi sabar dulu ya, makan yang banyak dulu." bisiknya lalu mencium sensual telinga Genta yang langsung mampu membuat suaminya itu menggeram.


Akhirnya kamar dan penampilan mereka sudah layak untuk dipandang orang. Saat ini ia memilih memakai dress dengan model potongan paling sederhana. Sedangkan suaminya masih setia dengan celana pendek dan kaos.


Bagaimanapun penampilan mereka harus tetap rapi terlebih dulu hingga keluarga dan sahabat-sahabat mereka check-out dari hotel ini. Dan setidaknya hal itu bisa memberinya napas sejenak agar tidak terus menerus diterkam suaminya.


tinggg..tongg...


"Mbak, ditunggu keluarga besar di kamar bapak. Udah pada mau check-out." ucap Naras saat kepalanya menyembul keluar pintu.


"Iya tunggu sebentar ya. Mas Genta baru selesai makan.."


Setelah keluarga besar dan sahabat-sahabat mereka pulang satu per satu. Masih tinggal Harsa yang baru check out malam ini, lalu langsung tolak ke Semarang mengantar kekasihnya pulang sejenak.


Genta


Sebelum kepergian Harsa nanti malam jam 8. Mereka memilih mengobrol empat mata terlebih dahulu, karena memang sudah sangat lama mereka tidak bertemu.


"Berarti lo di London masih berapa tahun lagi Ta?" tanya sahabatnya yang duduk di hadapannya.


"That's why..aku dulu nggak mau hidup di sana apa di New York. Bisa hidup sih bisa, cuma mesti berhitung banget. Belum biaya cewek di sana, haduuhhh..."


Penjelasan Harsa semakin membuatnya terbahak, memang sahabatnya yang satu ini tidak pernah jauh dari kata wanita. Harsa sebenarnya kakak kelasnya sewaktu SMA, jadi usia mereka terpaut 2 tahun.


"Terus kapan renacan lo mau nikahin Sekar?"


Harsa malah menjawabnya dengan tertawa keras,


"Not now Ta, lo tahu dia umur berapa?"


Dia pun menggeleng sambil mengernyitkan wajah.


"Di bawah gue 9 tahun Ta, dia masih 19 tahun." ucap Harsa sambil terkekeh.


"Whaaattt??!! Waahh gila..benar-benar jauh dari biasanya. Bukannya lo dari dulu nggak pernah mau terpaut jauh? Berarti Sekar memang benar-benar berbeda dari yang lain, buktinya sampai lo bertekuk lutut gitu.."


Harsa terkekeh-kekeh sambil menunjuk dirinya,

__ADS_1


"You know me lah gimana..."


"By the way, gimana nih rencana bisnis kita? Lo balik London lagi kapan? Via Cengkareng kan?"


Harsa dan dirinya ingin mengembangkan resto milik Prisha untuk di beberapa kota dan ada satu binis lagi yang rencana akan mereka jalankan.


"Iya, tiga minggu lagi lah. Minggu depan si Arsya kan nikah. Ntar gue obrolin sama istri dulu, kan yang punya resto dia, ntar sebelum ke London kita ketemuan di Jakarta."


"Oke..oke..anjrit istri coyy sekarang..! Gue nggak diundang dong sama Arsya, kasihan kan gue dilupain gitu aja. Tapi, tadi malam sih masih disapa, masih inget sama gue berarti. Arsya..Arsya, my sweet memories.." ucapan Harsa kali ini sukses membuatnya tertawa ngakak.


..........


Genta


Setelah kepergian Harsa dan juga seluruh keluarganya, akhirnya malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi dirinya dan Prisha sebelum pulang sementara ke rumah orangtua mereka.


Kamarnya tampak sepi saat ini, namun ada suara Prisha bernyanyi dari kamar mandi yang menandakan istrinya ada di dalam sana.


Diputarnya handle pintu kamar mandi, tidak dikunci. Bibirnya lamgsung menyeringai saat menatap Prisha sedang berada di depan kaca wastafel dengan kimono berwarna merah menyala.


"Mas?!" teriak Prisha sambil membulatkan mata.


"Mau mandi? Sebentar ya, aku habis ini selesai." ucap istrinya sambil menaruh benda pemanas rambut yang berbentuk seperti sisir biasa, entah apalah itu.


Bukannya keluar, ia malah masuk ke kamar mandi dan membuka semua bajunya, lalu mengguyur badannya di bawah shower.


Ia memang sengaja memancing gairah Prisha saat ini dengan membiarkan istrinya itu menatap tubuh polosnya saat mandi.


Prisha


Saat ini ia tahu suaminya sedang mencoba menggodanya, namun ia tidak akan menyerah dengan cepat untuk malam ini.


Setelah selesai dengan rambutnya, ia mencoba menggoda balik hasrat suaminya. Saat suaminya menatapnya dari balik kaca pembatas, ia sengaja melepaskan kimono merahnya yang di dalamnya sudah ada lingerie merah yang bahannya paling menyedihkan menurutnya. Karena sejujurnya lingerie itu tidak bisa menutupi apapun dari bagian tubuhnya.


Ia tahu suaminya mematung menatap dirinya yang ternyata sudah siap menggoda lelaki itu. Namun, ia tetap berusaha seperti tidak memperdulikan suaminya yang sudah kelimpungan.


Disemprotkannya parfum di beberapa titik, lalu dengan sengaja ia membawa semua rambutnya menjadi satu untuk dikuncir sehingga memperlihatkan lehernya. Semua ia lakukan dengan gerakan sensual, kemudian sesekali melempar lirikan ke arah suaminya yang sudah berdiri di depan kaca siap untuk menerkamnya.


"Jadi gini cara mainnya sekarang?" Genta sudah memeluknya dari belakang dengan tangan yang sudah berjalan ke sana kemari yang membuatnya menggeliat.


Dengan gerakan cepat Genta memutar badannya dan langsung menyatukan wajah mereka. Kilatan gelora cinta yang membara telah mengganti dinginnya kamar mandi dengan desahan panas mereka. Bahkan, lingerie merah itu pun sudah teronggok mengenaskan di lantai kamar mandi.


"Kita coba di sini.." bisik suaminya yang semakin membuat dirinya lemas.

__ADS_1


"Nice baby..! I like it..!"


......................


__ADS_2