A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Melepas Rindu


__ADS_3

Battersea, London


Prisha


Setelah menaiki kereta bawah tanah dan sambung dengan taxi karena banyaknya barang bawaannya, akhirnya ia dan juga Genta sampai di sebuah ruangan berukuran 8×5m.


Kamar didominasi dengan warna putih dan biru tua itu tampak rapi dan bersih. Genta memang termasuk laki-laki yang rapi, tidak menaruh barang di sembarang tempat.


Ruangan itu layaknya apartemen studio pada umumnya,berisikan satu ranjang berukuran besar, meja kerja, kursi, wardrobe, dan mini kitchen yang dilengkapi dengan kompor, kulkas, dan microwave.


Yahh..cukup lengkap menurutnya..!


Namun ia sangat paham, harga sewa apartemen studio seperti itu di London pasti tidaklah murah dibanding dengan apartemen dengan beberapa kamar yang dibagi bersama teman-teman, seperti saat masih tinggal bersama Bang Rastra.


Ia menaruh mini sling bag nya di atas meja, menggantungkan coat nya di gantungan yang telah tersedia di kamar itu.


Genta masih menata kopernya di ujung dekat meja kerja.


Tangannya menyibak tirai yang menutupi jendela untuk melihat pemandangan luar. Tidak terlalu tampak pemandangan apapun, hanya jalanan depan. Karena apartemen Genta juga bukan merupakan apartemen mewah yang memiliki lantai sangat tinggi.


Bulan ini adalah bulan Desember, di mana salju mulai turun menghiasi kota London.


Tangan Genta kembali memeluknya dari belakang dan ujung hidung mancung itu menyusuri lekuk bahunya yang seketika membuatnya meremang.


"Dingin nggak? Aku belum nyalain heater." desis Genta di telinganya.


Ia pun menggelengkan kepalanya,


"Dingin sih, tapi masih bisa ditoleransi." jawabnya sambil tertawa kecil.


Genta masih sibuk mengecupi bahu, leher, dan telinganya yang membuatnya semakin memanas.


"Kangen nggak?" bisik Genta langi sambil mengeratkan pelukannya dan beralih mencium pipinya.


Ia menoleh dan memandang wajah Genta yang masih tepat di sampingnya. Bibirnya mengecup singkat bibir Genta.


"Gitu aja ciumnya? Setahun lebih nggak ketemu, ciumnya cuma gitu aja?" protes Genta sambil menekuk wajah.


Ia langsung memutar badannya, berhadapan dengan Genta, dan mengalungkan tangannya ke leher kekasihnya itu.


Dengan sedikit berjinjit, ia memilih memulai menyatukan wajah mereka. Pelan, hangat, dalam, dan semakin memanas. Mereka berdua mengambil jeda sebentar untuk mengambil napas yang mulai tersengal.


Namun Genta tampak tak ingin menyudahi ciuman hangat itu, justru membawanya semakin panas.


Mata Genta sudah tampak sayu dengan napas mulai memburu, begitu pula dirinya.


"Mas kangen banget sama kamu.." suara Genta sudah terdengar parau dan berat.


Lengan Genta langsung menggendongnya bak anak koala yang menempel dengan induknya dan membawanya ke atas ranjang. Mulai merebahkannya dan mengungkungnya di bawah permainan kekasihnya itu.


Ia membiarkan Genta melakukan apa yang kekasih itu mau, asalkan tidak melanggar batas yang sudah ia tetapkan.


Permainan mulai semakin memanas dengan napas yang semakin menderu.

__ADS_1


drrrttt...drttt...drrrttt..


drrrtt..drrtt..drrttt..


"Mas..ada yang telepon itu.." bisiknya saat Genta mulai menggila dengan hasratnya.


Namun kekasihnya itu masih belum mau menyudahi semuanya sepadan dengan suara handphone yang juga enggan untuk berhenti.


"Maaasss..." desisnya sambil menyisir kasar rambut Genta dan mengelus pipi kekasihnya itu dengan lembut.


Akhirnya Genta memilih menghentikan semuanya dan merangkak menyambar handphone yang daritadi tergeletak di nakas.


Om Narendra is calling..


"Ayah kamu yang.." suara Genta langsung membuatnya bangkit dari posisinya secepat kilat dan merapikan penampilannya yang sudah berantakan karena ulah Genta.


"Halo ayah..." sapanya saat melihat wajah ayahnya yang sudah memenuhi layar.


"Udah sampai? Kok nggak langsung kabari ayah sih.."


Ayahnya sudah tampak melancarkan aksi protes kepadanya dan juga Genta.


"Sabar dong..barusan juga sampai, barusan naruh koper." dustanya sambil mengarahkan kamera ke arah Genta yang berdiri di depan meja kerja padahal untuk menetralkan hawa panas dalam diri kekasihnya itu.


"Ayah mau ngomong sama Genta.."


Akhirnya Genta berjalan ke arahnya dan ikut duduk di tepi ranjang.


"Om titip Prisha ya. Kalian jangan macam-macam! Om percaya sama kalian berdua..!" tegas ayahnya memasang wajah serius.


"Iya om, tenang..siap..!" balas Genta sambil tersenyum lebar.


Dia hanya memilih diam dan mengulum senyum, seandainya ayahnya tahu yang barusan terjadi, entah apalah jadinya. Tapi menurutnya asal mereka tetap tidak melanggar batas terpenting itu, orangtua mereka juga tidak akan mempermasalahkan.


"Ya bener kalian mau nikah, keluarga juga udah saling dekat, tapi sebisa mungkin dijaga dulu. Prisha juga masih kuliah. Ngerti?"


Mereka berdua menganggukkan kepala bersamaan,


"Iya ayah..tenang.." ucapnya meyakinkan ayahnya yang berubah menjadi khawatir semenjak mengetahui hubungan mereka adalah sepasang kekasih.


"Yaudah hati-hati..."


"Iya..bye ayah.."


"Bye om..." ucap mereka bersamaan, kemudian kembali menaruh handphone nya di nakas.


Ia kembali bergelayut manja di bahu Genta.


"Mas, aku pengin mandi. Biar seger."


"Yaudah mandi sana, atau pengin dimandiin?" goda Genta sambil mengerlingkan mata.


"Iissshhh...ngarep!" cibirnya yang membuat genta tergelak.

__ADS_1


"Halah, ngatain orang ngarep, tadi aja menikmati.."


Ia langsung melempar tatapan tajam ke arah Genta karena mulut yang terlalu vulgar itu. Namun, seketika wajahnya pun berubah merona yang membuat Genta terkekeh.


"Kamu mau makan apa yang? Makan di sini dulu aja ya, besok baru jalan-jalan. Kan aku libur juga."


Dirinya pun mengangguk,


"Apa aja boleh, aku mau mandi dulu yang penting."


"Jadi ikut nggak?" godanya sambil melenggang menuju ke kamar mandi dengan tangan membawa handuk dan baju ganti.


Genta bergerak cepat mendekat ke arahnya yang membuat jantungnya berdegup cepat.


"Besok aja aku ikut.." bisik Genta ke telinganya sambil mengulum senyum dan berjalan melewati dirinya menuju ke mini kitchen.


Genta


Sambil menunggu kekasihnya mandi, ia memilih sibuk menyiapkan makanan.


Ceklek


Wangi tubuh Prisha menusuk hidungnya sekilas kemudian kembali terganti dengan aroma masakan.


"Waaahh, tumben. Aku dimasakin nih ceritanya?" ucap Prisha sambil merangkul pinggangnya.


"Kalau cuma urusan dapur sih aku juga bisa. Nggak cuma urusan ranjang sama rumah sakit." gumamnya sambil tertawa kecil.


Prisha langsung mencubit pinggangnya,


"Me..sum..dehh sekarang.." protes Prisha sembari memelototkan mata ke arahnya.


Ia kembali tergelak,


"Makanya aku ajak nikah secepatnya. Nggak enak tahu jauhan gini, ketemu setahun sekali, mau cium peluk aja susah. Bikin frustasi."


"Sabar..orang sabar disayang pacar." Prisha mengelus dadanya dengan tatapan menggoda yang malah membuatnya tidak fokus dengan daging yang dimasaknya.


"Nggak usah mancing..! Ini aku berusaha pegang ucapan aku ke ayah kamu. Jangan dibuat khilaf." ocehnya yang menbuat Prisha gantian tergelak.


"Ini, kamu mau yang mana?" tanyanya sambil menatap dan menunjuk steak yang sudah ia masak untuk mereka berdua.


Prisha menunjuk piring sebelah kanan, lalu menunjuk dirinya.


"Aku mau ini, terus habis itu aku mau ini.."


Bibirnya langsung menyeringai sambil melirik Prisha penuh makna.


Kekasihnya ini memang lebih berbahaya dari perempuan lain yang selama ini berusaha mendekatinya, karena Prisha selalu menguji jiwa laki-lakinya yang selalu memanas saat berdekatan dengan kekasihnya itu.


Apalagi setelah lama tidak bertemu. Haduh, tahan Genta..tahan..satu setengah tahun lagi..! Gumamnya dalam hati kemudian mengusap wajahnya kasar.


......................

__ADS_1


__ADS_2