A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Malam Yang Panjang


__ADS_3

Battersea, London


Prisha


Matanya kembali menatap ke pintu kamar apartemen mertua dan orangtuanya saat hendak memasuki lift.


"Udah..tenang aja, eyangnya ada empat, tantenya ada satu. Stok asi aman juga. Bisma aman.." suara suaminya memecah kegalauan hatinya untuk pertama kalinya berpisah dengan putranya di malam hari.


Padahal mertua dan orangtuanya pun sudah menyuruhnya tenang.


"Kalau ninggal anak itu tenang aja, jangan kepikiran terus, malah anaknya rewel nanti. Percaya sama kita semua, stok asi juga udah aman." ucap ibu mertuanya sembari menaruh Bisma di atas ranjang yang tengah tertidur.


"Santai aja sih mbak, kalau Bisma nyari ibunya ya tinggal turun satu lantai udah sampai." gantian ayahnya yang mencoba menenangkannya.


"Udah sana..ini malam buat kalian berdua. Kalau besok mau berdua lagi, silahkan..! Selama kami masih ada di sini, puas-puasin sana.." pungkas mamanya sembari mendorong mereka berdua keluar dari apa.


Tangan suaminya merangkul pundaknya, wajah suaminya tampak kontras dengan dirinya. Genta terlihat sumringah tanpa beban meninggalkan putranya tidur bersama orangtua mereka.


Wajahnya sudah cemberut dan melirik ke arah suaminya yang terlihat tersenyum lebar,


"Bahagia banget kelihatannya anaknya nggak tidur sekamar.." sindirnya dengan setengah mencebik.


Suaminya hanya menjawab dengan senyuman. Tapi memang bukankah suaminya sudah terbiasa meninggalkan Genta di malam hari untuk bekerja? Jadi sama sekali bukan hal baru bagi Genta pastinya. Pantas suaminya terlihat sumringah, apalagi malam ini pasti akan ada-ada saja hal yang Genta minta pada dirinya.


Baru melangkahkan kaki memasuki apartemen mereka, tangan suaminya sudah memeluk pinggangnya dari belakang. Tengkuk dan lekuk lehernya yang putih pun menjadi sasaran aksi kecupan maut suaminya.


"Tenang, Bisma pasti nggak rewel, dia anak baik dan pengertian. Malam ini akan jadi malam yang panjang buat kita." gumam suaminya sambil sesekali mengecup telinganya.


Genta mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas meja makan.


"Tunggu di sini sebentar.."


Ia menatap suaminya yang sedang mengambil sesuatu di dalam tas, lalu berjalan kembali ke arahnya.


Gift box berwarna biru berada di hadapannya saat ini. Jari-jarinya membuka kotak itu, matanya menatap apa yang ada di dalam kotak itu, lalu kembali menatap mata suaminya.

__ADS_1


"Suka nggak?"


Saat ini ia hanya mampu menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Ia tahu ini anniversary mereka, tapi tak terbesit sedikit pun untuk memberi hadiah ke suaminya, selain ucapan dan ciuman atau berakhir dengan panasnya ranjang.


Tangan Genta mengambil benda itu dan menyematkannya di lehernya.


"Terimakasih sudah berhasil membuatku jatuh cinta dari belasan tahun yang lalu hingga saat ini dan selamanya. Happy anniversary sayang.."


Bibirnya tersenyum dan langsung mengecup bibir suaminya.


"Happy anniversary mas sayang, i love you. Makasih sudah menjadi lelaki yang luar biasa buat aku sama Bisma." ungkapnya dengan tangan yang melingkar di leher suaminya.


Suaminya mulai saling menenggelamkan wajah hingga mulai membawa mereka semakin menggelora.


Meja makan yang tadinya terlihat masih ada beberapa barang di atasnya, berhasil di dorong oleh tangan suaminya ke sisi paling ujung.


"Malam ini aku berikan yang terbaik buat mas.." bisiknya di telinga Genta yang tampak menyeringai dengan mata yang berkabut hasrat.


Suara-suara yang menggelora tengah menggema di ruangan mereka. Entah berapa kali mereka mereguk kenikmatan, yang jelas tak hanya suaminya yang terlihat menggebu dengan malam panjang mereka.


Hingga akhirnya mereka berdua pulas tertidur di atas ranjang tanpa sempat saling mengucapkan apapun, hanya kecupan dan pelukan yang Genta berikan.


Bahkan hatinya yang semula galau dengan keadaan putranya, sekarang seakan sudah lupa dengan keberadaan putra kecil mereka yang entah sedang rewel atau tenang-tenang saja.


"Good morning wife.." Genta mengecup keningnya dan mengeratkan pelukan, semakin membuat badan polos mereka menempel.


Dirinya menggeliat dan membuka perlahan matanya, lalu tersenyum melihat wajah suaminya yang aura ketampanannya semakin memancar semenjak menyandang gelar seorang bapak.


"Pagi mas sayang.." giliran dirinya yang mengecup bibir suaminya.


"Jam berapa ini? Mas masuk malam kan?" tanyanya dengan posisi setengah bangun dan melirik jam, namun lengan suaminya masih menahannya.


"Jam 6, bentar.. gini dulu, enak.." goda suaminya yang semakin mengikis jarak antara mereka.


Bibirnya mencebik,

__ADS_1


"Nanti kalau ada yang pengin lagi, bahaya lho."


"Bagus dong kalau ada yang pengin lagi, kerasa kan pasti udah ada yang mau minta lagi kelihatannya." goda suaminya sembari mengulum senyum.


"Capek mas..emang mas nggak capek udah semalaman buka puasa dengan berbagai macam menu dan tempat?"


Suaminya malah tergelak mendengar ucapannya sambil menggeleng,


"Menunya enak semua, tempatnya juga bikin semakin enak. Jadi pengin balik sama nambah lagi. Tapi sayangnya yang nyiapin menunya udah capek kelihatannya."


"Mandi bareng aja yukk kalau gitu, mumpung nggak ada Bisma, jadi mandinya bisa lama.." bisik suaminya yang mulai menyusuri telinga, pipi, hingga lehernya. Dan tentunya tangan yang biasanya lihai dengan peralatan bedah itu, sekarang juga tak kalah lihai membelai setiap titik tubuhnya.


Gila..suaminya ini benar-benar mampu membuat kepalanya pening hanya dengan sebuah sentuhan dan bisikan mautnya.


"Eeummhhh..." lenguhnya saat Genta berhasil membawanya kembali ke alam bawah sadarnya. Namun, seketika ia tersadar dari rayuan maut yang memabukkan itu.


"Mas iihh...ayo sih..katanya mau mandi.." sewotnya sambil terus mencoba menahan gairah yang telah menyeruak.


"Ya ayoo sih..kamu sendiri yang malah mendesah. Baru digituin aja, udah mendesah..enak kan berarti?"


Kali ini ia hanya membalas dengan lirikan tajam, lalu beranjak berdiri dengan tubuh polosnya yang selalu menggoda iman suaminya itu. Dulu sewaktu belum menikah, ia sangat malu untuk berganti baju di depan Genta, sedangkan sekarang tak ada kata malu lagi untuk memamerkan tubuhnya di depan suaminya.


Maklum, banyak wanita nekat yang pastinya akan dengan senang hati bertelanjang di depan lelaki yang berwajah tampan dengan materi yang mapan. Dan masalahnya, Genta adalah salah satu dari sekian banyak lelaki itu.


Cerita-cerita dari mamanya, ibu mertuanya dan juga tantenya akan selalu berada di dalam ingatannya. Bagaimana mereka semua berusaha mempertahankan rumahtangga mereka dengan berbagai macam wanita penggoda di sekeliling suami mereka.


Ia berjalan sesensual mungkin dengan lirikan ke arah suaminya yang masih berbaring di kasur.


"Ayo..jadi nggak? Katanya mau lama.." ajaknya sembari masuk ke dalam kamar mandi.


Sedangkan suaminya?


Tentu saja langsung beranjak secepat kilat menyusul dirinya.


"I'm coming baby..!"

__ADS_1


......................


__ADS_2