A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Happy Birthday !


__ADS_3

5 TAHUN BERIKUTNYA..


Yogyakarta


Prisha


Kakinya mengendap-endap masuk ke dalam sebuah kamar, diikuti oleh Naras yang ada di belakangnya.


Buukkk...


Seketika ia menoleh ke belakang dan disambut cengiran oleh Naras.


"Soorrryy mbak.." ucap Naras pelan sambil mengembalikan buku tebal bertuliskan Ilmu Bedah.


Dibukanya guling yang menutupi wajah lelaki itu, kemudian ia meniup-niup wajah lelaki berhidung mancung, beralis tebal, dan berbulu mata lentik itu.


Lelaki itu tampak merespon tiupannya dengan mengernyitkan wajah, lalu membuka mata perlahan.


"Baaaa....!!! Happy birthday mas Genta tak uuk..!" ucapnya dengan lantang tepat di depan wajah Genta, yang sontak membuat Genta langsung terbangun.


"Happy birthday to you..!" ucapnya sekali lagi sambil bernyanyi.


Genta yang masih duduk mengumpulkan nyawa, masih mencoba mencerna semuanya.


"Ayo tiup dong mas!" sekarang gantian Naras yang berucap.


Kemudian Genta mengibaskan tangannya tepat di atas angka 22 sambil tersenyum.


Cupp..


Ia mengecup pipi lelaki yang sudah dianggap kakaknya sendiri.


Genta


Setelah pipinya dicium oleh Prisha, ia malah hanya mampu mematung memandangi gadis kecilnya yang sudah tumbuh dewasa itu. Padahal sudah bukan pertama kali mereka saling bercipika-cipiki.


"Makasih ya..kalian ini.." ucapnya seraya memeluk kedua gadis kecilnya itu.

__ADS_1


"Iihhh mas kan belum mandi..bau..!" protes Naras yang langsung meronta dari pelukannya.


Namun berbeda dengan Prisha yang masih bersandar di pundaknya.


"Ahh nggak, mas Genta wangi gini walaupun belum mandi." ucap Prisha seraya mengendus-endus pundaknya, malah semakin membuatnya terkekeh.


"Iidiihh mbak Prisha, amit-amit..udah yukk makan kue ini mbak! Mas cepetan mandi, habis ini traktir kita !"


Naras langsung menarik Prisha dari dirinya dan mengajak keluar dari kamarnya.


Setelah selesai mandi dan bersiap, ia keluar kamar menuju ruang makan yang sudah penuh dengan orang ternyata.


Ada bapak ibunya, om Rendra dan tante Asa, om Ardhana dan tante Greesa, Prisha dan juga Naras.


"Waaahh, selamat ulang tahun anak ganteng! Tuhan selalu memberkati." ucap mereka bersamaan, lalu bergantian mencium dan memeluk dirinya.


"Genta lama-lama mirip Arya ya. Persis, cuma nggak gondrong.." ucap tante Greesa sambil terkekeh.


"Dan nggak separah bapaknya kelihatannya kalau masalah cewek. Iya mas? Siapa cewekmu sekarang mas?" tanya om Rendra sambil tergelak.


Dirinya pun menggeleng, lalu duduk di kursi yang masih kosong.


"Sama dong sama om kalau gitu, dulu jaman Koas males urusan sama yang namanya pacaran." sambung om Rendra.


"Tapi cewek banyak yang nempel, cuma nggak ada status." seloroh bapaknya kali ini yang membuatnya ikut tertawa.


"Mana ada? Itu om kamu yang ini nih, yang seperti itu tingkahnya." sahut om Rendra sambil menunjuk om Ardhana yang masih mengunyah roti dan hanya disambut senyuman sambil menaik turunkan alis.


"Halah, jamannya sekarang juga sama aja. Pacaran sama nggak juga sama aja, itu cuma status." timpal Prisha sambil menyendok potongan kue ulang tahunnya.


"Gitu? Kamu juga gitu berarti? Nggak macem-macem kamu ya sama cowok-cowok teman-teman kamu itu." timpalnya sambil mencondongkan wajahnya ke arah depan mendekati Prisha.


"Ya nggak terus gitu juga mas. Tapi kan di kampus juga banyak yang gitu." elak Prisha sambil menekuk wajah.


"Ya terserah itu mereka. Awas aja kalau dari teman cowok-cowok kamu itu ada yang kurang ajar sama kamu, tinggal minta matanya apa hidungnya yang aku congkel sini." timpalnya dengan nada ketus, namun malah mengundang tawa para orangtua di situ.


"Iihh mas, udah macam ayah aja posesifnya..!"

__ADS_1


"Lhoh, harus! Kalau nggak ayah kamu, ya pasti aku lah. Dan itu bukan posesif Prisha, tapi protektif! Iya kan om?" ucapnya sambil memandang om Rendra meminta pembelaan.


"Betul ! Om setuju sama kamu!"


Dirinya pun tersenyum menang yang justru membuat Prisha semakin manyun.


"Aku itu cowok, aku lebih ngerti otak mereka seperti apa. Jadi jangan ngeyel kalau dikasih tahu..!"


"Ya tapi, mas kan juga banyak cewek-cewek yang nempel. Pacaran udah berapa kali, yang nggak ada status juga berapa. Emang aku nggak tahu?"


Ia kembali menelan rotinya,


"Aku pacaran baru dua kali, dekat sama cewek-cewek ya okelah, tapi aku nggak pernah kurang ajar sama mereka. Selain dua sahabat aku itu, mana pernah aku peluk-peluk cewek."


"Kecuali mereka duluan yang nyosor duluan ya. Pastiin itu beda !" sambungnya cepat searaya mengacungkan jari telunjuknya.


Seketika om Ardhana memberikan tepuk tangan setelah mendengar perdebatan mereka di meja makan. Dan matanya menangkap tante Asa tersenyum memandang dirinya dan Prisha, seakan mengerti ada sesuatu hal yang ia pendam selama ini.


"Genta kamu hebat ! Top! Ajaran bapak kamu kan itu?" ucap om Ardhana sambil melirik ke arah bapaknya yang malah mencibir.


Tapi memang bapaknya selalu mengajarkan dirinya menjadi lelaki yang menghargai perempuan dan tentunya bertanggungjawab.


"Kamu sudah dewasa dan kamu hidup di jaman sekarang, makanya udah waktunya bapak ngobrol apa adanya sama kamu. Jadilah laki-laki yang menghargai perempuan dan bertanggungjawab. Jangan pernah ambil kesucian anak orang, habis itu kamu tinggal, apalagi sampai kamu menghamili dan kamu lari. Bisa babak belur itu wajah kamu di tangan bapak sendiri."


"Jadi laki-laki yang ditempelin banyak cewek itu harus bisa jaga nafsu. Segila-gilanya bapakmu ini waktu masih muda, nggak pernah asal peluk cium cewek kalau belum ada sinyal hati yang menyambut apapun dari ceweknya, bisa-bisa dianggap pelecehan kamu nanti. Hati-hati sama itu sekarang. Kalau pacaran nggak usah record-record apapun saat kalian bermesraan, bisa jadi boomerang buat kamu sendiri, kalau sananya nggak terima sampai kalian putus."


"Hargain cewek, senakal atau seburuk apapun masa lalu cewek yang ada di kehidupan kamu. Hormati dia layaknya cewek lain. Nggak akan ada cewek rusak, kalau nggak ada yang ngerusak. Jadi anggap semua cewek sama baiknya, tapi harus hati-hati jangan lengah. Nama baikmu bisa hancur, kalau kamu salah melangkah."


Nasehat-nasehat bapaknya itu akan selalu ia ingat selamanya. Bapaknya adalah tipe bapak yang sangat dekat anak-anaknya. Bukan tipe orangtua yang selalu penuh larangan, tapi selalu mengajak anak-anaknya berdiskusi tentang kehidupan.


Kehidupan di luar sana yang penuh ketidak sempurnaan, namun harus dijejaki. Mengajarkan untuk tetap menjadi diri sendiri dan bertanggungjawab dengan apa yang sudah diperbuat. Berpikir sebelum melangkah itu yang selalu bapaknya ingatkan kepadanya.


"Carilah wanita yang berpikiran terbuka, bijaksana, dan mampu diajak berdiskusi untuk masa depanmu, walaupun mungkin masa lalu dia tidak sempurna, tapi setidaknya ia mau belajar menjadi lebih baik untuk ke depannya. Dan juga yang kuat menghadapi kerasnya hidup. Itu penting untuk pondasi rumah tanggamu kelak. Ingat, karena yang baik-baik saja saat ini belum tentu bisa bijaksana dan berpikiran terbuka untuk suatu masalah yang akan menghampiri kalian nantinya."


"Percayalah, bapak nggak salah pilih ibumu. Lihatlah om Rendra, sama sekali nggak salah pilih tante Asa. Begitu juga dengan om Ardhana. Karena kamu punya modal kuat yang bisa membahayakan sebuah hubungan rumah tanggamu nantinya, kalau kamu nggak punya pasangan yang berpikiran terbuka."


"Wajahmu itu mas modalmu untuk didekati wanita tapi juga membahayakan kalau kamu lepas kendali, karena bapak pernah jadi kamu."

__ADS_1


Bibirnya tersenyum mengingat semua ucapan bapaknya saat ia menginjak usia 21 tahun.


......................


__ADS_2