A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Finally, You Are Mine


__ADS_3

Yogyakarta


Genta


Matanya terbuka perlahan, sesekali masih menahan pening di kepalanya. Kamarnya masih sangat gelap, ia melirik jam digital di nakas samping, jam masih menunjukkan pukul 4 pagi.


Istrinya pun masih tidur di sampingnya, perasaan bersalah muncul dalam dirinya. Seharusnya tadi malam, ia tidak menuruti menenggak minuman dari sahabat-sahabatnya, karena sebelumnya bapaknya dan mertuanya pun telah mengajaknya minum di meja keluarga.


Ia beranjak dari ranjang dan memilih membersihkan dirinya, agar badannya terasa lebih segar dan kepalanya tidak sepening ini.


Cukup lama ia mengguyur kepala dan badannya dengan air hangat. Kemudian ia membuat meminum air putih hangat dan memakan beberapa keping biskuit untuk menetralkan dirinya kembali setelah hangover.


Untung kemarin ia beberapa kali meminum air putih setelah menenggak alkohol dan sebenarnya hangover nya saat ini tidak parah, karena ia pernah merasakan jauh lebih parah dari ini.


Saat badannya sudah terasa kembali normal, ia kembali ke atas ranjang dan mulai membelai rambut istrinya, lalu membelai wajah mulus Prisha.


Prisha terlihat sangat pulas, karena istrinya itu sama sekali tidak terganggu dengan kegiatannya setelah sadar tadi.


Bibirnya mengecup kening Prisha, namun ternyata hal itu malah membuat istrinya terusik dan membuka perlahan mata menatapnya.


"Mas? Udah bangun? Ini jam berapa?" tanya Prisha dengan suara serak.


"Setengah lima, udah kalau masih ngantuk, tidur lagi aja.." jawabnya lembut sambil membelai rambut Prisha.


Prisha membenamkan kepala di pelukannya,


"Mas udah mandi?"


"Kok tahu?" tanyanya heran.


"Udah wangi sabun.." istrinya semakin mengeratkan pelukan ke tubuhnya.


"Maaf ya..." ucapnya dengan tangan masih mengelus rambut lurus istrinya.


Prisha langsung mendongakkan kepala menatapnya.


"Buat apa?"


Bibirnya tersenyum,


"Harusnya aku nggak minum sebanyak itu pas sama anak-anak, kan pas sama keluarga juga udah minum."


Istrinya malah tersenyum menatapnya dan mengelus rahangnya.


"Nggak apa-apa kalau sekali-sekali dan harus ada aku. Ngerti?"

__ADS_1


"Iya Nyonya Genta.."


Bibirnya langsung menyambar bibir ranum istrinya dengan lembut, namun semakin lama berubah menuntut. Tapi ia memilih berhenti dan membangun suasana nyaman dulu untuk istrinya.


"Capek nggak?" tanyanya sambil mengelus pipi istrinya yang merona dan gelengan kepala Prisha bagaikan angin segar untuk dirinya.


Bibirnya tersenyum penuh makna,


"Lagi masa subur nggak kamu?"


Istrinya pun mengangguk. Ia tahu selama ini Prisha mencatat kapan haid pertama dan kapan berakhir di aplikasi handphone yang tersedia.


"Udah siap kalau jadi?" tanyanya lagi untuk memastikan permainannya pagi ini akan memakai pengaman atau tidak.


"Iya mas, aku udah siap kalau langsung dipercaya menjadi seorang ibu." jawaban Prisha membuatnya tersenyum.


Ia langsung kembali menyatukan wajah mereka. Bibirnya menelusuri setiap jengkal wajah, leher, hingga ujung kaki istrinya.


Istrinya sudah menggeliat, bahkan bergetar hebat dengan setiap sentuhan yang ia berikan. Saat ia merasa Prisha sudah siap menerima penuh dirinya, ia mencoba memulai permainan utama yang selama ini selalu ia tahan dengan beberapa wanita termasuk istrinya.


"Sekarang ya..Rileks aja.."ucapnya sambil menatap Prisha dengan lembut.


Prisha menganggukkan kepala dan tersenyum malu,


"Pelan-pelan mas, aku takut.."


"Iya..kalau sakit boleh lampiasin ke aku.."


Ia kembali membangun suasana, sebelum benar-benar menuju ke permainan inti, mencoba membuat Prisha sedikit terlena.


"Aaakkhh..sakit mas..! Pelan-pelan.." desahan dengan sedikit teriakan Prisha membuatnya merasa kasihan, padahal belum sepenuhnya istrinya menerima dirinya.


Namun, ia tidak akan mungkin berhenti setengah jalan seperti ini, yang ada akan membuat dirinya dan istrinya frustasi.


Dengan gerakan lembut ia meneruskan semuanya dengan segala sentuhan yang membuat Prisha tidak lagi mecakar dan meremas kuat bahu, punggung ataupun lengannya.


Desahan dan lenguhan istrinya membuatnya mengerti, istrinya mulai menikmati dan masuk dalam pusara kenikmatan itu.


"I love u baby.."


"Good girl.." ucapnya setiap Prisha sudah mampu mengimbangi permainan panas mereka saat ini.


"Makasih sayang.." ucapnya sambil mengecup kening Prisha dan menghempaskan tubuh di atas istrinya yang membuatnya sangat kecanduan.


Mereka membenarkan posisi untuk bersandar pada tumpukan bantal. Istrinya bergerak menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Namun ia melihat istrinya malah menyingkap-nyingkap selimut tebal itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Cari apa?" tanyanya bingung.


"Mas..mas yakin tadi udah bener masukinnya?"


Pertanyaan Prisha malah langsung membuatnya tergelak. Pertanyaan macam apa itu? Bukannya istrinya itu dari teriak hingga mendesah.


"Iihh mas...seriusan..!" wajah istrinya sudah tampak kebingungan lagi dan sesekali meringis karena menahan rasa tidak nyaman di pusat tubuh itu.


"Emang kenapa?" tanyanya santai.


"Yakin? Kok nggak ada bercak darah seperti yang orang-orang bilang atau yang aku lihat di film-film?" tanya Prisha dengan polosnya, sepolos tubuh mereka saat ini.


Pandangannya tertegun saat mendengar pertanyaan Prisha.


"Seriously, kamu tanya hal seperti itu?"


Prisha malah mengernyitka wajah ke arahnya. Sedangkan dirinya menarik tangan istrinya untuk bersandar di pelukannya dan menarik selimut itu.


"Mas, aku belum pernah lho sama orang lain." gumam istrinya lirih, saat tangannya mengelus kepala Prisha.


"Kalau kamu lihat di film sama cerita orang lain tetang virginity harus berdarah, berarti kamu masih kurang banyak cerita lainnya lagi. Atau orang-orang yang bikin film sama cerita ke kamu itu juga masih butuh ilmu lainnya."


"Perawan atau tidak itu bukan ditentukan dari kapan selaput dara itu sobek. Tapi kapan orang itu melakukan senggama pertama kali." jelasnya membuat Prisha tertegun menatapnya.


Bibirnya tersenyum,


"Mas percaya sama kamu, percaya banget sama kamu. Walaupun kamu udah jalan sama beberap cowok, tapi mas yakin kamu bisa jaga diri."


"Seyakin itu mas sama aku? Kalau sampai ternyata aku bohong dan aku pernah ngapa-ngapain sama orang lain?" tanya Prisha dengan tatapan sendu yang sangat sulit diartikan.


"Kalau mas nggak yakin, mas nggak akan nunggu kamu belasan tahun buat bisa seperti sekarang. Kalau sampai kamu udah ngapa-ngapain sama orang lain, aku marah.." jawabannya membuat Prisha melongo.


"Marah sama kebohongan kamu, bukan marah sama apa yang udah kamu lakuin sama orang lain. Ngerti?" sambungnya membuat Prisha mengangguk.


"Tapi mas yakin, baru mas yang masuk ke sana.." imbuhnya sambil mengerlingkan mata.


Prisha menepuk dadanya dan tersipu malu.


"Nggak usah malu..! Sakit awalnya, tapi habis itu gimana? Hmm..?" godanya dengan tangan yang sudah kembali bermain nakal membelai tubuh istrinya.


"Mas..aahhh...ssshhhh.." bukannya protes, istrinya malah kembali mendesah dan melenguh membuat tubuhnya kembali memanas.


Bahkan sekarang jari-jari Prisha tak tinggal diam degan tubuh atletisnya, membelai dada bidangnya dan perut ratanya bergerak semakin ke bawah.


Istrinya yang sudah tampak hanyut dengan semuanya, memberikan tatapan memohon kepadanya.

__ADS_1


"Please..!" desis Prisha dengan tatapan sayu.


......................


__ADS_2