
Chelsea, London
Genta
Kakinya saat ini terasa sangat lemas, ia memilih duduk menenangkan diri sembari menunggu Prisha siuman.
"Haloo...." sapa orangtuanya, mertuanya, dan juga Om Ardhana.
"Kamu kenapa nangis? Ada apa Genta? Prisha kenapa?" pertanyaan beruntutan keluar dari ayah Rendra.
Matanya yang merah dan sembap, serta masih meneteskan air mata sangat tampak terlihat menghiasi layar handphone. Bibirnya seakan kelu untuk menceritakan kejadian ini.
"Genta..! Ada apa?!" suara ayah Rendra mulai meninggi.
Ia mencoba mengatur napasnya dan mencoba menjelaskan semua kejadian yang terjadi.
"Hari ini mama coba cari tiket ke sana kalau gitu, tapi mungkin baru bisa berangkat lusa. Kita kemarin kan udah selesai ngurus visa." ucap mama Asa yang terlihat tidak terlalu panik.
"Iya ma, tapi kalau mama nggak bisa, nggak apa-apa juga kok ma. Genta berusaha lakukan yang terbaik."
"Udah, kamu nurut aja, nggak apa-apa. Biar ini mama Asa aja yang ke sana dulu. Nanti habis itu biar gantian ibu." sahut ibunya yang mencoba menenangkan dirinya.
"Iya mas, kamu tenang aja. Nanti kalau nggak biar tante juga ikut gantian ke sana nggak apa-apa. Soalnya kalau ayah, bapak, atau om kamu kan kerjanya susah ditinggal. Udah kamu tenang aja, banyak berdoa." giliran tante Greesa yang ikut bersuara, sedangkan dirinya hanya mengangguukan kepalanya.
"Kamu juga jaga kesehatan, jangan sampai tumbang." titah ayah Rendra yang mulai tampak tenang.
"Genta, ingat..kita manusia cuma bisa berusaha. Selanjutnya serahkan sama Tuhan. Ngerti mas?" mama Asa kembali menenangkan dirinya.
"Ya, kita hanya bisa berusaha yang terbaik, tapi kita juga harus dengan kenyataan yang terburuk. Bapak yakin kamu pasti berusaha menyelamatkan keduanya. Tapi ingat, kalau hal terburuk harus dipilih, selamatkan istrimu."
Ucapan bapaknya membuatnya kembali meneteskan air mata, dadanya terasa sesak saat ini, ia pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Om tahu, posisi kamu sangat sulit, sebagai dokter sekaligus sebagai ayah dan suami. Ingat Genta, kalau bisa memilih keduanya pasti sangat mudah. Tapi, kalau memang dihadapkan hanya pada satu pilihan, istrimu adalah prioritas utama. Kamu harus kuat! Om yakin kamu bisa!" semangat Om Ardhana semakin membuatnya terisak.
Dalam keadaan sulit, ia sangat membutuhkan dukungan orang-orang yang disayanginya. Istrinya yang biasanya menenangkan dirinya, sekarang terbaring lemah. Keluarganya pun jauh dari dirinya.
Tangannya meraih telapak tangan istrinya yang saat ini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap setelah siuman. Namun saat ini Prisha sudah kembali tertidur.
Otaknya kembali berputar mengingat kejadian saat dirinya melihat Prisha bleeding di kamar mandi.Darah yang keluar pun cukup banyak.
__ADS_1
Saat itu dirinya harus memecah konsentrasi untuk menyetir dan menolong istrinya. Sesampainya di Emergency di rumah sakit ia menjalankan residen seniornya saat ini, ia langsung menerima diagnosis dokter yang sesuai dengan pemikirannya.
Keadaan Prisha akan terus dipantau untuk beberapa hari ke depan. Kalau masih ada bleeding ataupun detak jantung janin melemah, ia harus membuat sebuah keputusan tersulit di dalam hidupnya.
................
Prisha
Ia membuka matanya perlahan, melihat suaminya tertidur di sampingnya sambil duduk di kursi dengan kepala berada di tepi ranjang.
"Mas...mas..." ucapnya lirih sembari mengelus rambut suaminya.
Genta langsung bergerak dan bangun menatapnya.
"Yang..mau minum?" tawar suaminya sambil menatapnya lekat.
Kepalanya pun mengangguk dan tersenyum, kemudian meminum beberapa tegukan air putih itu.
Matanya sekarang berganti menatap lekat wajah suaminya yang terlihat sembap.
"Mas, aku kenapa? Apa kata dokter?"
Suaminya pun tersenyum,
Jawaban suaminya tidak serta merta langsung membuat dirinya puas.
"Mas, jujur sama aku. Kenapa?" cercanya lagi sambil menatap lekat mata suaminya.
Suaminya tampak mengalihkan pandangan darinya yang semakin membuatnya yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.
"Bukankah mas yang bilang kalau kita harus jujur dan terbuka?" gumamnya lagi.
Ia menangkup wajah suaminya dengan kedua telapak tangannya.
"Ceritakan semuanya mas, karena aku bukan tipe wanita yang gampang dibohongi. Mas mau cerita atau tidak, sama aja pikiranku bekerja. Dengan mas cerita, justru aku merasa lebih bisa berpikir jernih. Aku siap apapun itu." jelasnya sambil tersenyum mencoba meyakinkan Genta.
Suaminya pun menganggukkan kepala dan menggenggam tangannya.
"Kamu kan tahu kehamilan kamu beresiko tinggi kan. Adanya tumor yang juga membesar seiring pertumbuhan janin, itu yang menbuat kamu sering kram perut dan pendarahan."
__ADS_1
"Dokter masih memantau perkembangan kamu sampai beberapa hari ke depan. Kalau tidak ada masalah di kamu dan janin ini, berarti kita masih bisa meneruskan kehamilan ini. Tapi..."
Suara suaminya tampak tercekat dan mata itu mulai berkaca-kaca.
"Kalau sampai tidak, mas harus pilih salah satu dari kalian. Dan maaf, mas akan pilih kamu." jawab suaminya dengan air mata yang sudah lolos membasahi wajah tampan suaminya.
Ia mencoba menghela napasnya dan mengatur perasaannya yang campur aduk saat ini. Namun, ia memilih untuk tidak panik dan tetap bersikap tenang.
Perjalanan hidupnya dari kecil yang kehilangan ibu kandungnya dengan cara bunuh diri, membuatnya menjadikan banyak pelajaran berharga.
Bibirnya ia coba untuk tersenyum,
"Aku percaya sama mas dan aku percaya sama Tuhan yang memberi kita kehidupan. Bukankah kita hanya bisa berusaha kan?" ucapnya berusaha meneduhkan hati suaminya yang saat ini terlihat sangat terbebani.
Ia merengkuh dan membawa suaminya ke dalam dekapannya.
"Kita berjuang bersama ya mas, kalau sampai kemungkinan terburuk terjadi. Kita harus siap. Kita sudah lakukan yang terbaik." ucapnya sembari mengelus punggung suaminya yang mendekap erat dirinya.
"Senyum dong, semangat..! Kamu bilang aku nggak boleh stres, tapi kalau kamu gini, aku malah jadi stres." ucapnya sambil mendongakkan kepala Genta untuk menatap dirinya.
Suaminya yang mulai tersenyum langsung mengecup bibirnya dan beralih mengecup perutnya.
"Kuat ya nak..bantu ibu.." gumam suaminya pelan ke arah perutnya.
"Oh iya, mama lusa katanya mau ke sini."
Ucapan suaminya membuatnya terperanjat,
"Haa? Ngapain? Nggak usah lah mas, kita bisa baik-baik di sini. Kasihan Nendra sama ayah kalau ditinggal."
"Lha mereka sendiri yang minta seperti itu. Aku bisa apa?"
"Mereka?" selidiknya kali ini, berarti bukan hanya mamanya yang akan datang.
"Iya, mama dulu. Habis itu gantian ibu, terus gantian tante Greesa."
Matanya langsung membulat seketika.
"Mas, ngapain pakai gantian? Udah ahh, nanti aku mau telepon sendiri. Nggak usah datang. Lagian kalau aku di rumah sakit gini kan ada perawat. Kamu juga praktek di sini. Jadi aman lah."
__ADS_1
Ia tetap enggan merepotkan orangtua, mertuanya, ataupun tante Greesa. Dirinya sadar, kalau London bukanlah tempat yang dekat dengan Yogya. Butuh perjalanan lama menuju ke sini dan itu pastinya akan melelahkan. Lagian ia merasa mampu mengatasi masalah ini berdua dengan suaminya.
......................