
Yogyakarta
Rendra
Matanya menatap lekat wajah putrinya yang masih belum menjawab pertanyaannya.
"Mbak Prisha?" tanyanya sekali lagi.
Putrinya pun akhirnya mengangguk dan dirinya pun menghela napasnya.
"Sejak kapan? Kenapa nggak jujur sama ayah? Kenapa cuma cerita sama mama, nggak cerita sama ayah?" ia pun langsung memberondong putrinya dengan beberapa pertanyaan.
Prisha tampak menelan saliva dan terlihat gugup.
"Maaf ayah, bukannya Prisha nggak jujur, tapi Prisha cuma menunggu waktu yang tepat buat bilang ke ayah. Karena Prisha takut ayah nggak setuju." jelas putrinya lirih dengan setengah menunduk.
Wajahnya langsung mengernyit,
"Terus udah dari kapan kalian pacaran? Dan terus menurut kamu, kalau waktunya udah tepat, ayah terus akan menyetujui hubungan kalian gitu?"
Nyali Prisha langsung tampak menciut mendengar ucapannya.
"Udah dua tahun, sejak mas Genta masih internsip.."
Jawaban putrinya seketika membelalakan matanya.
"Dua tahun kamu bilang baru saja? Udah ngapain aja kalian selama ini?" selidiknya yang malah membuat putrinya mengernyitkan kening.
"Maksud ayah 'ngapain aja' itu apa?" tanya putrinya balik kepadanya.
Ingin rasanya ia tertawa saat itu juga, tapi berusaha ia tahan. Kemudian ia berdehem pelan untuk mentralisir hasrat tawanya.
"Yaudah, terus Om Arya dan Tante Ara tahu?" selidiknya lagi ingin mengerti apakah kedua sahabatnya itu selama ini juga menyembunyikan hal ini.
Dan ternyata benar, karena putrinya menganggukkan kepala lagi.
Dasar dua orang itu, bisa-bisa menyembunyikan hal ini darinya. Arya, Clara, dan Asa sama saja atau bahkan mungkin Ardhana dan Greesa juga mengetahui semua ini?
Aaaahhh...benar-benar sahabat-sahabat lak nat..batinnya.
"Oke kalau gitu.." ucapnya kemudian beranjak berdiri dari ranjang putrinya. Namun, tangan putrinya menghentikan gerakannya.
"Ayah? Ayah marah?" tanya Prisha dengan wajah memelas.
__ADS_1
Ia kembali duduk dan menatap putrinya.
"Kenapa ayah harus marah?" tanyanya sambil menautkan alis tapi masih tanpa senyum.
"Ayah nggak suka? Ayah nggak setuju?"
"Ayah nggak suka karena kamu nggak jujur sama ayah selama ini dan ayah nggak setuju kalau sampai kamu nggak jujur lagi sama ayah." tegasnya kali ini.
Prisha pun menganggukkan kepalanya.
"Iya ayah, maaf. Tapi terus gimana sama hubungan Prisha dan Mas Genta? Ayah setuju nggak? Kalau ayah setuju, Mas Genta mau minta aku ke ayah buat nikahin aku setelah aku lulus kuliah."
Ucapan putrinya sontak semakin membuat kepalanya pening dan jujur terkejut. Baru saja ia tahu kalau putrinya berpacaran dengan Genta selama dua tahun ini. Sekarang ia mendengar Genta akan menikahi putrinya setelah lulus kuliah?
Kenyataan macam apa lagi ini ya Tuhan?
Seketika ia mengusap wajahnya dengan kasar dan memijat pangkal hidungnya.
"Genta bilang gitu sama kamu? Kalian tahu nggak hubungan kalian ada kerumitan di masalah apa?"
"Tahu ayah, makanya selama ini Prisha takut jujur karena itu. Karena keyakinan kami berbeda." jelas putrinya dengan lembut.
"Terus kalian nekat maju? Sudah yakin mampu tetap berusaha berdiri masing-masing? Ayah nggak mau lho, kalau ada salah satu dari kalian yang ngalah cuma karena cinta. Ayah nggak suka seperti itu." terangnya dengan lembut, tapi tetap berusaha tegas.
Ia pun menghela napasnya kembali,
"Nanti ayah ketemu dulu sama Genta, baru ayah bisa tahu jawabannya." ucapnya sambil menatap putrinya.
"Tapi Mas Genta nggak bisa pulang dua tahun ini. Setelah Mas Genta pulang dari Boston, aku mau ke London ya ayah. Nyamperin Mas Genta. Udah setahun lebih nggak ketemu." pinta putrinya lagi dengan wajah memelas.
"Sendirian? Berapa lama? Tidur di mana?" dirinya kembali memberondong pertanyaan ke putrinya.
"Iya sendirian, dua minggu mungkin." jawab putrinya, tanpa menjelaskan menginap di mana. Namun,sebagai manusia yang pernah mengalami masa muda yang berwarna, dirinya sudah mengerti hal itu.
"Ayah mau bicara dulu sama Om Arya nanti, baru kamu boleh ke sana. Dan ingat kalian jangan pernah macam-macam. Walaupun ayah tahu Genta dan keluarga Genta, tapi bukan berarti kalian seenaknya aja melakukan hal itu sebelum waktunya. Jaga kepercayaan ayah." tegasnya masih tanpa tersenyum.
Kemudian ia berdiri lagi dari ranjang, mengelus puncak kepala putrinya.
"Prisha..Genta..kenapa harus kalian sih?" gumamnya seraya keluar dari kamar putrinya.
................
Asa
__ADS_1
Ia mendengar pembicaraan suaminya dengan putrinya dari luar kamar.
"Jangan terlalu keras dan ketus. Sabar.." ucapnya pelan sambil merangkul pinggang suaminya yang sudah keluar dari kamar putrinya.
"Kamu juga kenapa harus merahasiakan ini?" tanya Rendra sambil membalas merangkulnya dan berjalan menuju kamar mereka.
"Bukannya aku merahasiakan. Aku cuma pengin tahu, kamu selama ini peka apa nggak sama anak kamu. Kamu beneran nggak bisa lihat gestur Prisha sama Genta dari dulu?" selidiknya sambil menutup pintu kamar.
"Ya sempat aku mikir begitu, tapi ya aku pikir nggak mungkin lah secara mereka kakak adik. Tapi ternyata.."jelas suaminya sambil duduk di sofa kamar mereka.
"Besanan sama Arya? Ya Tuhan...sumpah demi apa..karma apa aku besanan sama dia. Semoga Genta nggak separah ayahnya ya kalau masalah nafsu pacaran. Bisa gila aku bayangin Genta kalau ternyata sama seperti Arya. Aaaaggghhh....!" keluh suaminya lagi yang malah membuatnya tegelak.
"Nggak kelihatannya, Genta lebih alim dari bapak dan calon ayah mertuanya ini.." godanya sambil mengelus rambut suaminya yang masih sangat terlihat tampan walaupun sudah mulai berumur 50 tahun.
Suaminya pun tergelak,
"Tapi bukannya mas dulu nggak bisa sama mbak Clara karena keyakinan?" selidiknya sambil bergelut manja di pelukan suaminya.
Rendra pun menatapnya dengan mengernyit,
"Hee? Siapa bilang?"
Dirinya pun hanya mengangkat bahunya.
Suaminya kembali tergelak,
"Itu bukan alasan utama. Sebenarnya ya karena aku ditolak sama Clara secara halus. Karena dia sukanya sama si gondrong itu." jelas Rendra sambil terkekeh.
"Lhah, jadi bukan karena keyakinan?" tanyanyq lagi.
"Bukan mutlak itu, aku dulu sama Clara udah nyoba 6 bulan lah pas Arya masih jalan sama orang lain. Kita saling menemani ke gereja masing-masing. Dan nggak bermasalah sih setahu aku, cuma yang bermasalah ya hatinya Clara itu." gelak suaminya lagi.
"Clara itu wanita pertama dan terakhir yang berani menolak aku." gumam Rendra sambil terkekeh.
"Makanya aku mau menekankan masalah perbedaan ini sama dua anak muda itu, sama calob besan aku yang satu itu." imbuh Rendra sambil mengelus lengannya.
Dirinya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"I see..i see..(aku paham..paham..) Kasihan setampan ini ada yang nolak. Kalau gini nolak juga nggak?" godanya sambil naik ke pangkuan suaminya dan membelai wajah suaminya.
"Let's play baby..!" bisik Rendra yang sudah menulusuri ceruk lehernya.
......................
__ADS_1