
Yogyakarta
Asa
Setelah putrinya pergi dijemput oleh salah satu temannya, ia menatap suaminya tengah duduk di ruang keluarga sambil menatap televisi, namun dengan pikiran melayang entah kemana.
Ia membawakan semangkok salad untuk cemilan sore, lalu duduk di sebelah suaminya.
"Mas kenapa?" tanyanya pelan sambil menyerahkan magkok berisi salad sayur dan potongan ayam dengan salad dressing wijen sangrai.
Rendra kemudian menatapnya,
"Kamu tahu siapa pacar Prisha sekarang? Setelah putus sama Wisnu?"
Bibirnya pun tersenyum,
"Emang Prisha bilang mereka udah pacaran?" ia malah bergantian melontarkan pertanyaan ke Rendra.
"Jadi kamu tahu dia siapa dong? Emang siapa sih?"
Ia mencomot salad dari mangkok Rendra dan memasukkan ke dalam mulutnya sendiri.
"Ya Prisha tadi bilang apa dulu, baru aku cerita nanti.." jawabnya santai.
Suaminya langsung mendelik dan mendengus pelan,
"Ya katanya baru jadian, pacarnya jauh, dan aku udah kenal lama bahkan sebelum ada dia. Terus masa' jam segini baru sarapan, kan ini udah sore. Emang dia di mana coba?" cerocos suaminya.
Ia melipat bibirnya menahan tawa. Bagaimanapun masa lalu Rendra yang berganti-ganti cewek, membuat suaminya itu terkadang terlalu khawatir dengan putrinya.
Suaminya tipe ayah yang harus mengenal semua teman anak-anaknya, tanpa memandang gender. Bahkan ia tidak masalah kalau sampai rumahnya menjadi basecamp teman-teman anak-anaknya, karena justru mereka menjadi lebih tahu siapa saja teman-teman anak-anaknya.
"Mas ihh, cari tahu dong di internet. Kalau jam segini baru sarapan, berarti dia lagi tinggal di belahan dunia bagian mana?"
"Mas instingnya tentang kayak gitu kok jadi melemah sihh, nggak segesit jaman muda." cibirnya ke arah suaminya yang melirik ke arah dirinya.
"Kalau sini sore di sana pagi, berarti lagi di US dong. Tapi siapa yang lagi di sana? Katanya aku udah kenal lama sama dia. Nggak ada yang lagi di US. Ngaco tuh pasti anak." gumam Rendra dengan pandangan menerawang mencoba mengingat siapa saja yang ada di ingatannya.
Bibirnya pun mengulum senyum,
"Ya aku juga baru tahu kalau anak itu sekarang lagi di US dari Prisha. Baru dua minggu ini kelihatannya di sana. Dulunya nggak di sana." jelasnya sambil menyuapi suaminya, karena salad yang dibawakannya tidak segera disendok suaminya.
"Dulunya di mana?" tanya suaminya cepat.
"Nanti mas bakal tahu kok. Percaya deh! Cuma kelihatannya hubungan mereka nggak bakalan semulus yang aku pikirkan." jelasnya sambil terus tersenyum.
"Kenapa emang?" tanya Rendra sambil mengerutkan dahi.
"Ada lah, mas bakalan tahu kenapa alasannya. Tapi semoga bisa lancar, aku sih mendukung banget." jawabnya sembari terkekeh, lebih tepatnya tertawa karena membuat suaminya bingung.
"Ihh kamu, bukannya kasih tahu malah bikin aku tambah pusing.." gerutu Rendra sambil memalingkan wajah.
"Udahlah mas, anaknya baik banget, sayang sama Prisha banget, keluarganya juga baik banget cuma ada halangan yang nggak bikin mulus. Tapi aku yakin bisa. Pelan-pelan.., mas nanti pasti tahu jawabannya. Sabar." jelasnya pelan sambil mengelus punggung Rendra.
Namun, suaminya hanya menjawab dengan lirikan tajam dan wajah ditekuk, sedangkan dirinya hanya memberikan cengiran.
..........
Rendra
Jam menunjukkan pukul 11 malam, namun ia dan istrinya masih asyik menonton film di kamarnya.
tiinggg...tiinggg..tinggg..
__ADS_1
Bibirnya tersenyum, ketika ada pesan masuk dari group Hore Fams. Clara tampak lagi mengirimkan sebuah foto di dalam pesawat bersama Arya
Ardhana
Mau kemana dek?
Clara
Mau ke Boston mas..
Bibirnya tersenyum semakin lebar dan mencoba mengetikkan sesuatu, namun tiba-tiba pikirannya melayang ke kejadian tadi sore.
Boston?
Massachusetts?
USA?
What the hell..?!
Dengan cepat jari-jarinya mengetikkan sesuatu di layar pesan itu.
Rendra
Mau ngapain ke Boston? Liburan?
Namun Clara ataupun Arya tak kunjung membalas pesan darinya. Sudah dua menit ia menunggu sambil mengetukkan handphone ke pahanya.
tingg...
Arya
Nyamperin anak lanang Ndra..Kalau ada yang mau nitip apa, kabari aja..
Ardhana
Lhoh, bukannya Genta di London?
Ia kembali menghela napasnya, karena memang benar setahunya Genta mendapatkan beasiswa spesialis di salah satu universitas di London, setelah program koasnya selesai.
Arya
Iya, baru dua minggu pindah Boston. Dia kena semacam pertukaran pelajar gitu setengah tahun paling lama. Tapi udah setahun ini dia nggak bisa pulang, kasihan makanya kita yang ke sana.
Ardhana
Oalah,, ya..ya..ya.. hebat, cerdas itu anak. Semoga besok jadi penerusku yang pastinya lebih handal dari aku ya. 😁
Saat ini ia tidak tahu harus bagaimana, bahagia atau apa entahlah.
Apakah benar itu Genta?
"Yang.." ucapnya ke istrinya yang sudah meringkuk di dekatnya dengan tangan merangkul pinggangnya.
"Iyaa...apa?" jawab Asa sambil mendongakkan kepala menatapnya.
"Baca ini.." pintanya sambil menyodorkan handphone nya.
Asa menuruti perintahnya dan membaca isi perbincangan para orangtua yang selalu tidak mau dianggap tua.
Bibir Asa tampak tersenyum,
"Terus? Emang kenapa?"
__ADS_1
Ia pun menautkan alisnya sambil memandang mata Asa.
"Ini kan? Genta kan anaknya?" selidiknya sambil terus menatap mata istrinya.
Istrinya tersenyum kembali,
"Tanya sama Prisha dong, jangan sama aku. Kan yang pacaran anaknya, aku nggak tahu benar apa nggak nya? Dia apa nggak anaknya, tanya sendiri sama Prisha."
"Yang, please deh..! Kenapa sih? Nggak mungkin Prisha nggak cerita sama kamu. Kamu lebih tahu segalanya tentang anak-anak daripada aku." ucapnya memohon agar istrinya membuka rahasia itu.
"Ya tapi kan Prisha juga selalu jujur sama ayahnya. Tanya sendiri, ajak ngobrol sana." Asa masih tetap pada pendirian untuk tidak membuka suara, yang benar-benar membuat kepalanya pening.
Anak-anak itu, kenapa saling jatuh cinta sih?
Sejak kapan mereka jatuh cinta?
Dan kenapa harus Prisha, bukan Arsya atau Arletta?
Beneran besanan sama Arya?
Tapi kenapa tadi Asa bilang tidak semulus yang dibayangkan, apa kendalanya?
Kendala jarak?
Keluarga?
Atau apa?
Banyak sekali pertanyaan yang ada di otaknya saat ini dan harus cepat ia utarakan ke putrinya yang sudah tumbuh dewasa menjadi gadis yang cantik.
Prisha termasuk gadis yang selalu dikelilingi banyak lelaki, persis seperti Asa di jaman muda atau Clara. Hampir 80% temannya pria, kadang itu yang membuat dirinya tidak tenang.
Namun sangat berbeda dengan istrinya yang tampak santai dengan pergaulan Prisha, pasalnya sudah sangat mengenal semua teman-teman Prisha walaupun lawan jenis.
................
Prisha
tookkk..tookk..tokkk..
"Iya masuk..." teriaknya seraya mengeringkan rambut sambil sesekali bernyanyi sesuai dengan lagu yang sedang ia putar.
Dari cermin ia dapat melihat ayahnya sudah masuk dan duduk di tepi ranjang sambil menatapnya.
"Pagi ayah..." sapanya sambil tersenyum dan masih sibuk dengan rambut panjangnya.
"Duduk dulu sini, ayah mau ngomong.." pinta ayahnya sembari menepuk ranjangnya.
Ia pun menuruti permintaan ayahnya dan menatap lekat wajah ayahnya. Namun, ayahnya malah menyodorkan handphone dengan layar yang berisikan group chat Hore Fams, yang ia ketahui itu adalah nama group tante-tante dan om-omnya.
Ia mengernyitkan wajah dan menatap ayahnya dulu.
"Baca aja, nggak apa-apa.." pinta ayahnya lagi yang membuatnya semakin bingung, namun tetap menuruti perintah itu.
Bibirnya tersenyum, tapi jujur jantungnya juga berdegup kencang saat ini.
"Sejak kapan kalian pacaran?" selidik ayahnya sambil menatapnya lekat.
Matanya membalas tatapan ayahnya yang mulai serius.
"Anak itu Genta kan?" tanya ayahnya lagi.
......................
__ADS_1