A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Perbincangan Orang Tua


__ADS_3

Haloo kakak-kakak pembaca,


Apa kabarnya? Selalu diberi kesehatan, keselamatan, dan kelancaran rejeki untuk kita semua ya..


Jangan pada bingung ya dengan cerita ini? Karena bakal akan banyak rahasia yang selama ini tidak terungkap.


😁😁


Selalu patuhi Protokol Kesehatan, jangan lupa pakai masker, cuci tangan, dan jangan berkerumun walaupun itu saat antrian vaksin ya..


Kasihan dokter Rendra sama dokter Ardhana juga ikut piket jaga pasien covid ini..


Sehat selalu ya,


Jangan lupa, selalu bahagia..


❤💋


......................................


......................................


Yogyakarta


Ardhana


Sore ini ia berkunjung ke rumah adiknya bersama dengan istrinya. Rumah yang cukup besar, walaupun tidak sebesar rumah Arya yang di Bali itu tampak sepi.


"Kok sepi dek? Bocah-bocah ning ndi? (Anak-anak pada kemana?)" tanyanya sambil mendudukan diri di ruang makan.


"Naras lagi pergi ke rumah temannya, kalau Genta lagi ke Probolinggo." jawab Clara seraya mencepol rambut ke atas.


"Lhoh, Prisha juga ke Probolinggo kata Rendra." gumamnya sambil mengunyah tahu isi sayur yang sudah tersedia di meja makan.


Arya yang tampak keluar dari ruang kerja langsung menyahut ucapannya,


"Ya emang sama Prisha ke Probolinggo."


"Berdua aja?" giliran istrinya yang bertanya.


"Nggak, sama gank nya Genta itu, refreshing sekalian njenguk Berlian yang lagi internsip di sana." jelas Clara yang sudah duduk di hadapannya kali ini.


"Oalah..enak ini tahu isinya, buat sendiri?" tanyanya sambil kembali mencomot tahu yang masih tersaji di piring.

__ADS_1


Clara pun mengangguk,


"Senengane bapake kui, tahu isi. (Kesukaannya bapaknya itu, tahu isi.)"


"Entekno mas, tak gorengke meneh. Ijek ono kok ning kulkas. (Habisin mas, nanti aku goreng lagi. Masih ada di kulkas.)" gumam Clara sembari berjalan menuju ke kulkas.


Setelah berbincang panjang lebar, menceritakan tentang pekerjaan hingga keinginan Naras yang akhirnya minat ke dunia arsitek. Akhirnya ia menceritakan tentang Arsya, anak sulungnya.


"Lhah? Baru mau 21 tahun kan mas, wes meh dilamar (udah mau dilamar)? " Clara tampak terkejut dengan ceritanya sembari masih berkutat di depan kompor.


"Makanya itu, aku bilang. Kalau dua tahun lagi nggak masalah. Biar Arsya merasakan dunia kerja yang sebenarnya dulu."


"Aku juga kasih pengertian ke Arsya, yakin kamu mau menikah di usia sekarang atau di usia muda? Jaman sekarang lho ya maksudku, di saat teman-temanmu masih mengejar mimpi, kamu yakin mau menjadi seorang istri. Ya aku bilang gitu kan?" ceritanya sambil menatap Arya dan adiknya bergantian.


Arya pun tampak mengangguk masih sambil menikmati masakan sang istri.


"Tapi aku dulu juga nikahnya umur 24 mas, dilamar sama si gondrong itu umur 23." ucap adiknya seraya menoleh ke arahnya, lalu menunjuk Arya dengan dagu.


Arya tampak terkekeh,


"Asline sebelum kui ya wes meh tak lamar ya mas? Ra ngerti wae de'e. (Sebenarnya sebelum itu udah mau tak lamar ya mas? Nggak ngerti aja dia.)"


Ucapan Arya membuatnya ikut tergelak.


"Ya tapi, kan aku juga bilang. Semua harus dibicarakan sama pacar kamu itu dulu. Menikah nggak terus asal menikah. Kamu punya mimpi apa, dia punya mimpi apa. Bisa nggak dijalankan bersama? Karena menikah itu nantinya kamu akan punya kewajiban bertambah sebagai seorang istri dan juga seorang ibu." sambungnya melanjutkan ceritanya.


Clara yang sudah duduk di depannya sambil membawa sepiring tahu isi, ikut menganggukkan kepala.


"Apalagi kalau langsung hamil macam aku ini." timpal Clara.


"Karena semua wanita kan juga punya mimpi dalam sebuah pencapaian dirinya kan, nggak cuma seorang pria aja yang pengin berhasil. Apalagi usia masih muda, kita aja begitu anak udah mulai bisa ditinggal-tinggal, kita mulai produktif lagi mencapai yang belum tercapai. Iya kan?" Greesa pun juga ikut bersuara.


"Iya dong, selagi masih bisa kenapa tidak." sahut Clara.


Arya mengangguk-anggukkan kepala lagi.


"Koe kie mung monthak-manthuk wae, ngomong kek! (Kamu kie cuma angguk-angguk aja, ngomong kek!)" ucapnya jengah karena hanya Arya yang daritadi tak bersuara.


Arya pun langsung tampak memberikan cengiran lebar,


"Ya aku setuju sama semuanya tadi, mau ngomong apa lagi? Aku mendukung sepenuhnya wanita untuk tetap produktif dan berkarya untuk pencapaian dirinya sendiri."


"Ya bicarain dulu lah, kalau cinta itu pasti mau mengerti, nggak egois. Arsen umur berapa sih?" tanya Arya kali ini.

__ADS_1


"Tahun ini 27, ya secara finansial udah mapan lah dia. Udah bisa menanggung keluarga kecilnya nanti, secara kan jabatannya juga udah bagus. Tapi ya itu tadi, menikah kan tidak sesederhana yang mereka pikirkan." jelasnya lagi.


"Masih bisa lah nunggu 2 tahun lagi. Sabar dulu aja, ditahan dulu arah pemikirannya ke sesuatu itu." gumaman Arya malah membuatnya terkekeh.


"Iya kali ya, wes raisoh ngempet mungkin ya? (udah nggak bisa nahan mungkin ya?) Haduh..!" jawabnya dengan penuh kewaspadaan, memikirkan anaknya.


Arya dan Greesa langsung mencibir ke arahnya,


"Ingat jaman mudamu gimana? Nggak usah sok suci.." cibir istrinya yang membuatnya langsung melirik ke arah istrinya.


"Ya tapi kan nggak semua lelaki seperti saya." sahutnya masih sambil melirik tajam.


"Iya, nggak semua lelaki buaya seperti anda! Buktinya saya ini dan Arsen kelihatannya lebih alim daripada calon mertuanya ini." timpal Arya yang membuatnya tergelak.


"Kampret !" umpatnya tampa bisa berkata apa-apa lagi. Memang kenyataannya, walaupun Arya digandrungi banyak wanita, tapi sebenarnya Arya lebih setia daripada dirinya saat masih muda, saat masih belum bertemu dengan Greesa.


"Dek, kok aku berpikir sesuatu tentang Genta sama Prisha ya dek." ucapnya yang langsung membuat Arya menatap dirinya.


"Genta suka sama Prisha gitu kan maksud mas?" tanya Clara dengan santainya dengan mulut yang sudah beralih menikmati jeruk bali.


Greesa dan dirinya malah terperanjat dengan pertanyaan Clara,


"Kalian juga ngerasa?"


Arya tampak terkekeh,


"Udah dari jaman Genta SMA aku nyadarnya, pas dia bersikeras banget masuk kedokteran. Saat itu aku sadar alasan Genta selama ini berarti karena Prisha."


"Karena Prisha pernah luka operasi di perut itu kan?" selidik istrinya yang disambut anggukkan oleh Arya.


"Bisa gitu ya, jatuh cinta dari masih kecil." gumam Clara masih sambil mengunyah jeruk bali. Adiknya itu memang hobinya makan, tapi badannya tetap saja segitu.


"Terus kamu setuju?" selidiknya sambil menatap Clara lebih dalam.


Clara tersenyum dan menaikkan alis,


"Kenapa aku harus nggak setuju?"


Pernyataan Clara yang tampak santai dan tak ada masalah justru membuatnya cukup kaget, pasalnya adiknya adalah salah satu yang menentang hubungan beda keyakinan.


"Bukannya kamu paling nggak bisa kalau sesuatu yang udah beda. Bukannya kamu nggak bisa sama Rendra dulu karena beda keyakinan?" tanyanya seperti orang bodoh yang seakan tak mengerti apapun saat ini.


Clara langsung tertawa keras, tergelak mendengar pertanyaannya, hal itu semakin membuatnya mengernyit bingung.

__ADS_1


......................


__ADS_2