
Yogyakarta
Prisha
Mulutnya menganga, dirinya tercengang saat melihat sesosok orang yang sudah hampir 5 tahun tidak berjumpa.
"Mas Dhava?! Ya ampun, apa kabar?"
Ya, lelaki itu adalah seseorang yang sempat membuatnya jatuh cinta saat mulai masuk dunia perkuliahan di hari pertama.
Namun sayang, rasa cintanya hanya mampu ia pendam karena Dhava saat itu telah memiliki kekasih.
"Baik, kamu apa kabar? Sendirian aja?" suara Dhava membuyarkan lamunannya. Lelaki yang sebenarnya tak kalah tampan dengan suaminya, berperawakan tinggi dan juga memiliki senyum yang memabukkan.
Kepalanya menggeleng sambil tersenyum,
"Sama mereka..." tunjuknya ke meja yang berisikan suaminya bersama sahabat-sahabatnya.
"Oh...ya..ya..ya.. sekarang masih di Yogya kamu?"
"Iya mas, barusan balik dari London. Mas masih di sini? Bukannya udah di Jakarta ya kemarin?" tanyaya balik, ia merasa tidak enak kalau terkesan Mas Dhava yang menanyakan terus tentang dirinya.
"Aku masih di Jakarta sih, cuma ini lagi dinas aja di sini. Tapi ya masih sering sih ke Yogya, nostalgia."
Ia mendengarkan cerita Dhava sembari menatap wajah lelaki itu, masih sama, masih tampan, nggk ada yang berubah. Bahkan bisa dibilang semakin terihat dewasa dan tampan.
"Ehhmmm..." deheman suaminya seketika membuyarkan pikirannya yang berkeana.
"Eh..oh iya mas, ini kenalin suamiku. Mas Genta kenalin ini Mas Dhava, dulu anak Arsitektur." jelasnya agar tidak membuat kesalahpahaman, walaupun wajah suaminya sudah penuh tanda tanya.
"Ohh, udah nikah ya kamu, maaf ya mas Genta ngajak ngobrol istrinya." ucap Dhava sambil tersenyum ke arah Genta.
Ya, sosok Dhava yang selalu sopan dan perhatian, itulah yang membuatnya pernah jatuh cinta dan menyimpan rasa itu selama satu tahun lebih.
"Kamu beneran masih kuat? Kalau nggak, minggir dulu aja, jangan dipaksain dek." ucap Dhava sembari merengkuh bahunya saat wajahnya mulai pucat serta lemas, lalu memberinya sebotol air mineral saat panas matahari tak bersahabat dengan para peserta ospek di lapangan.
"Halo Prisha, semangat ya mewakili kampus di Singapura." sapa lelaki itu saat mereka berpapasan di perpus pusat.
Namun, kenangan-kenangan manis itu menjadi pilu saat lelaki itu mengenalkan seorang perempuan padanya saat mereka kembali bertemu.
"Eh Prisha, sendirian aja?"
"Iya mas, mau balik ke kampus lagi. Mas sendirian juga?" saat itu hatinya sangat bahagia bertemu dengan lelaki yang membuatnya jatuh cinta.
"Sayang.." namun tak disangka tautan tangan perempuan di lengan Dhava saat itu seakan tanda untuk menyuruhnya berhenti bahkan mundur.
"Eh, ini kenalin Prisha, adik tingkat beda fakultas. Prisha, ini Bulan."
__ADS_1
"Halo, aku Bulan pacarnya mas Dhava." perempuan itu tampak menyiratkan senyuman penuh kemenangan, bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa di mata Dhava.
Pacar? Ya baiklah Prisha, mundurlah dan lupakan semua obsesimu tentang Mas Dhava.
Semua kenangan di masa lalu itu berputar cepat, seakan menolak untuk pergi dari ingatannya saat ini.
"Iya santai aja.." balas Genta dengan senyum manisnya, namun dirinya tahu akan ada pertengkaran setelah ini antara dirinya dan suaminya yang pencemburu itu.
Walaupun ia paham, cemburu suaminya sebenarnya memiliki alasan yang sangat tepat.
"Mas..dengarin dulu dong. Jangan marah dulu." ucapnya sembari menyusul Genta masuk ke daam kamar.
Tebakannya sangat tepat, sepulang dari tempat itu, mood Genta langsung berubah drastis, bahkan di jalan pun mereka sama sekali tidak mengobrol.
Suaminya berputar dan menatap dirinya,
"Apa? Aku nggak marah kok, kenapa harus marah? Dia kan masa lalu kamu, sebelum si Wisnu."
Ucapan Genta membuatnya tercengang, dari mana suaminya bisa tahu hal itu?
"Kenapa kaget? Kaget darimana aku tahu hal itu?"
Ia hanya mampu menelan salivanya saat ini.
"Aku kenal kamu dari kamu masih balita, semua tentang kamu, aku tahu. Dia cinta terpendam kamu kan?"
"Karena kamu alasan Dhava dan Bulan putus."
Jawaban suaminya sontak membuat matanya membulat sempurna. Sungguh ini di luar dari pemikirannya.
"Maksudnya?"
"Kamu nggak sadar kalau Dhava suka sama kamu dari pertama kalian ketemu? Saat itu dia udah punya Bulan. Dan setelah mereka putus, dia mau dekatin kamu lagi, kamu udah jalan sama Wisnu."
"Darimana mas tahu tentang Bulan?" ia mengernyitkan wajahnya sembari menatap wajah ganteng suaminya.
Bibir suaminya tersenyum dengan sesuatu yang sangat sulit diartikan.
"Bulan pernah jalan sama Anjas.." ucap suaminya lirih sambil mengusap pipinya dengan lembut, lalu menyatukan wajah mereka kali ini dengan gerakan sedikit kasar.
"Aku tahu semua tentang kamu tanpa perlu kamu cerita, karena dari dulu kamu milik aku." gumam suaminya sembari mengusap bibirnya yang masih basah.
"Dan di sini harus cuma ada aku, nggak boleh ada yang lain lagi." tangan suaminya menunjuk dadanya, kemudian berbalik badan beranjak meninggalkannya.
Tangannya saat ini memilih untuk menahan langkah suaminya dan langsung membuat suaminya menatapnya kembali.
Ia langsung mulai mencium bibir suaminya terlebih dahulu dengan lembut dan semakin menuntut.
__ADS_1
"I love you mas..forever..only you.." gumamnya lirih namun sangat mesra.
"Aku kayaknya pengin makan kamu sekarang, tapi sayang masih pakai roti, jadi kamu selamat malam ini." bisik Genta sambil menatap lekat matanya dan mulai kembali menyatukan wajah mereka.
"Banyak jalan menuju ke sana.." bisiknya di telinga Genta, saat suaminya melepaskan ciuman hangat itu.
Seringai bibir terbit di wajah suaminya dan langsung menuntunnya ke ranjang. Malam ini mereka terbebas dari rengekan Bisma, karena bayi itu saat ini tidur di kamar ayahnya.
"Kamu makin nakal ya sekarang, tapi aku suka.." gumam Genta saat ia selesai menuntaskan misinya untuk membuat suaminya bahagia.
..........
Arya
"Bapak..bapak.." Bisma berjalan ke arahnya dengan sesekali jatuh, lalu berdiri kembali hingga cucunya itu berhasil memeluk dirinya.
Cucunya yang tengah berumur 16 bulan itu terlihat semakin gempal dan sudah bisa menyebutkan beberapa kata.
Ingatannya kembali saat Genta masih balita, saat anak itu masih belajar jalan dan memanggilnya bapak.
"Eyang..eee..yangg..." gumamnya mencoba mengajari Bisma satu kata baru.
"Ba..pak..." namun balita montok, bermata bulat itu kembali memanggilnya bapak.
"Eee..yaa..aangg.." gumamnya lagi sambil terkekeh.
"Bapak..bapak.." gumam cucunya lalu mencium pipinya.
"Wajahnya mirip sama bapak ya mas Bisma?" Clara yang muncul dari dapur tampak tertawa melihat tingkahnya dan cucunya.
Ia membawa cucunya ke ruang tengah di mana semua pada berkumpul saat ini.
"Kalian kapan mau buatin Bisma adik?" tanyanya langsung ke putranya dan juga menantunya.
"Buatnya sih sering, tapi nggak pernah sampai jadi." jawab putranya asal sambil terkekeh.
"Dua bulan lagi lah, gas terus aja, jangan kasih rem. Nggak apa-apa kalau sampai jadi." sahut Ardhana sambil mengulum senyum dengan tangan menggendong bayi laki-laki berumur 6 bulan, anak dari Arsya.
"Siapp..! Titip Bisma ya eyang-eyang semua, mau ngajak ibunya honeymoon lagi." timpal Genta sambil tersenyum lebar.
"Bareng lah mas, aku juga ikutan.." ucap Arsya yang tengah muncul dari kamar.
"Kamu juga mau sekalian nggak dek?" tawar putranya ke Naras yang dua bulan lagi akan menikah.
Namun belum sempat dijawab, Genta langsung bersuara lagi.
"Honeymoon kok bareng-bareng, dikira mau sunatan massal?!" jawaban Genta membuat semua tergelak.
__ADS_1
......................