
Yogyakarta
Genta
Bibirnya tersenyum saat membuka handphone nya yang terpampang calon istrinya yang sedang menggunakan gaun putih sangat cantik.
Sudah tidak sabar rasanya ia segera mengucapkan janji perkawinan mereka di depan altar.
"Kasih itu lemah lembut, kasih itu murah hati, kasih itu memaafkan..."
"Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Setelah acara pemberkatan selesai, semua langsung menuju ke gedung untuk melakukan acara adat temu manten.
Tamu undangan dibagi menjadi dua, sekitar 500 undangan di acara adat dan sisanya untuk acara resepsi yang lebih diperuntukkan untuk kerabat dekat dan tamu-tamu VIP.
Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang hotel, karena hotel milik keluarganya digunakan untuk singgah keluarga dan kerabat dekat.
"Haduuhh...rontok nih badan..kenapa tamunya banyak banget sihhh...!!!" teriaknya frustasi yang membuat Prisha terkekeh.
"Itu baru sepertiga. Masih ada satu acara lagi lho, ehh..dua malahan sama after party.." ucap perempuan yang saat ini sudah menyandang gelar menjadi Nyonya Genta.
Tangannya merangkul pinggang istrinya yang saat ini diduk di sebelahnya. Sedangkan tangan Prisha mengelus rambutnya.
"Kalau nggak infus vitamin c kemarin, teler ini. Aku mau mandi dulu ahh.." ucap Prisha sambil berusaha beranjak berdiri, namun tangannya menahannya dengan kuat.
Prisha mengernyitkan wajah,
"Mas, minggir tangannya! Aku mau mandi.." sentak Prisha.
"Gitu sama suami?" gumamnya sambil memperlihatkan wajahnya yang dari tadi ia benamkan di kasur.
Istrinya itu menelan salivanya dan memandang wajahnya.
"Mas, aku mandi dulu..ini tangannya tolong minggir ya.." ucap Prisha dengan nada sangat lembut.
"Nggak..siapa yang nyuruh kamu mandi?" ucapnya datar.
Istrinya langsung mengerucutkan bibir,
"Emang sekarang kalau aku mau mandi, harus ada yang nyuruh dulu?"
Pertanyaan Prisha membuatnya ingin tertawa, tapi ia tahan.
Bagaimana bisa, Prisha mau mandi sendiri tanpa mengajak dirinya? Tidak akan pernah terjadi, batinnya.
"Kalau kamu mandi, ya aku ikut mandi lah. Enak aja mandi sendiri." jawabnya santai.
Mata istrinya itu langsung membulat sempurna.
"Malu ihh mas..."
Sekarang gantian dirinya yang mengernyitkan wajah,
"Ngapain malu? Ini semuanya aku udah lihat, kamu juga udah lihat semua dari aku. Terus di titik mana kamu bisa bilang malu?" selidiknya sambil menatap lekat wajah Prisha, namun masih dalam posisi berbaring miring.
Istrinya itu tampak gugup dengan menggigit bibir bawah.
"Ya bukannya gitu, aku mau mandi beneran dulu mas, ini lengket semua." jaeab Prisha sambil meringis.
"Lhah, emang maksud aku nggak mandi beneran? Emang ada mandi nggak beneran? Yang seperti apa coba?"
Namun, pertanyaannya tak dapat dijawab oleh Prisha. Istrinya itu terlihat semakin gugup, semakin membuatnya gemas.
"Hmm? Aku tanya lho ini, kok nggak dijawab?"
__ADS_1
Tangannya dengan cepat langsung meghempaskan tubuh Prisha di ranjang, lalu mengungkungnya.
"Mas, aku belum mandi lho ini. Mas mau apa?" tanya Prisha semakin gugup saat wajahnya mulai mendekat.
Ia tak ada niatan sama sekali menjawab pertanyaan istrinya dan memilih langsung menyatukan wajah mereka.
Permainan di sore itu semakin panas, bukan hanya tangannya saja yang lihai membuka semua kain yang melekat di tubuh istrinya. Namun, Prisha juga sudah berhasil membuatnya polos tanpa sehelai benangpun.
Tatapan mereka berdua sudah saling berkabut hasrat yang menggelora, bahkan ini adalah hari pertama ia menyentuh Prisha setelah kepulangannya seminggu lalu.
Lenguhan dan desahan istrinya semakin membuat dirinya memanas.
"Mas..." desis Prisha sambil sedikit menjambak rambutnya saat napas hangatnya menyapu titik sensitif istrinya.
Namun, ia memilih menghentikan semuanya, setelah istrinya mendapatkan pelepasan pertama.
"Not now..! Kita pindah tempat, sekalian mandi." bisiknya lalu menggigit kecil telinga Prisha.
Ia beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya untuk mengajak istrinya yang masih sayu dan terkulai di atas ranjang.
Istrinya berubah menjadi sangat manja saat ini, dengan tatapan menggoda Prisha mengalungkan tangan ke lehernya dan melingkarkan kedua kaki di pinggangnya, lalu menyatukan wajah mereka kembali.
................
Rendra
Sudah hampir sepuluh kali ia memencet bel kamar pengantin itu, tapi pintu itu tampaknya enggan untuk terbuka.
"Gimana? Nggak dibukain?" tanya Arya sambil terkekeh.
Dia pun menggeleng.
"Don't disturb! " ucap Arya tergelak sambil menunjuk tombol don't disturb yang tengah menyala.
"Ini namanya mereka lebih pinter daripada kita dulu..!" gelak Arya yang membuatnya juga ikut tertawa.
"Udah, telepon atau chat aja. Suruh turun nanti, makan malam sama keluarga." sahabat sekaligus besannya itu mencoba memberikan solusi terbaik.
"Di bel aja nggak dibukain, apalagi ditelepon." gerutunya setengah mendesis.
"Lagi mandi paling, nggak dengar. Lupa jaman nikah dulu ya?" Arya menggodanya sambil terkekeh.
Setelah drama buka pintu yang tak kunjung dibuka dan akhirnya ia memilih mengirim pesan kepada anak dan juga menantunya, akhirnya sepasang pengantin baru itu muncul di kamar Arya.
Ia memandang wajah kedua anak itu, rambut putrinya yang masih setengah kering begitu juga menantunya.
Matanya beradu pandang dengan Arya dan Ardhana, kemudian mereka terkekeh bersama.
"Keramas mbak?" godanya ke putrinya yang sudah terlihat tersipu malu.
"Iya, gatel habis sanggulan." jawab putrinya yang memilih duduk di sampingnya, lalu bergelayut manja di lengannya.
Anak perempuan selamanya akan selalu manja dengan ayahnya bukan?
Ya begitulah Prisha.
"Ya..ya..ya..sampai di bel bolak-balik nggak dibukain, ternyata keramas." ucapnya sambil melirik Genta yang sudah terkekeh.
"Besok masih ada acara lho, jangan gas poll dulu. Ntar sengklek tuh badan.." sambung Clara yang membuat semuanya akhirnya tergelak.
Tapi saat menatap cara jalan dan duduk Prisha, tampaknya menantunya belum melakukan hal itu.
"Genta, jadi teman-temanmu yang hari ini check in di sini berapa orang?" tanya Arya ke menantunya yang sedang menikmati anggur di atas meja.
"Bukan orang tapi kamar, 7 kamar pokoknya. Ya paling pada bawa pasangannya sendiri-sendiri."
Arya pun menganggukkan kepalanya,
__ADS_1
"Bapak kasih di lantai yang sama semua ya.." ucap Arya sambil memisah-misahkan key card kamar.
"Ayah, pijitin sini.." pinta putrinya dengan kepala sudah menunduk di atas meja, sambil menunjuk tengkuk.
Tangannya pun bergerak memijat pelan tengkuk, pundak, dan punggung putrinya.
"Makan habis ini, biar nggak sakit. Capek ini namanya..!" ucapnya sambil terus memijat putrinya.
"Belum bisa makan sekarang emang? Kasihan dari tadi bilang laper." tanya menantunya ke Arya.
"Tapi tadi udah makan roti yang aku bawa kok, nggak apa-apa. Udah lumayan ngisi." sahut putrinya.
"Udah ayo makan sekarang! Kita turun ke bawah..!" ajak Arya yang sudah terlebih dahulu berdiri.
......................
Hai kakak-kakak..!
Sehat selalu yaa...
Ada titipan undangan resepsi dari Bapak Ararya..
..."Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia” (Mathius 19:6)...
...Di hari yang bahagia ini, ijinkanlah kami menikahkan putra-putri kami:...
...Prisha Nismara Arkadewi...
...dengan...
...dr. Genta Pranadipa...
...Resepsi :...
...Sabtu, xxx Juni xxx...
...Pukul 19.00 WIB- selesai...
...Tempat:...
...Gedung Sekar Jagad...
...Jl. Palagan Tentara Pelajar no.27...
...Sariharjo - Ngaglik - Sleman...
...Kehadiran dan doa restu Bapak/Ibu/Saudara/i. Merupakan suatu kebahagiaan dan kehormatan bagi kami....
...Kami Yang Berbahagia....
...Kel. Bapak dr. Abraham Narendra...
...Ibu Asa Aurora...
...Kel. Bapak Daniel Ararya...
...Ibu Clara Audra...
......................................................
...Mohon menunjukkan undangan ini...
...sebagai akses masuk gedung....
...Dengan tanpa mengurangi rasa hormat....
...Mohon maaf kami tidak menerima...
__ADS_1
...sumbangan dalam bentuk apapun....