A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Natal Di Tempat Baru


__ADS_3

Westminster, London


Prisha


Merayakan hari Natal di negara orang sebenarnya bukan hal yang baru baginya. Sudah dua kali Natal ia merayakan di negara orang, yang pertama saat usianya masih 9 tahun di Sydney bersama keluarga besar ayahnya, yang ke-2 ia merayakan bersama keluarga mamanya di New Zealand.


Namun, ini adalah Natal pertamanya merayakan tanpa keluarganya dan hanya berdua bersama Genta.


Kemarin ia sudah pergi ke gereja, ritual yang biasa ia lakukan saat bersama Genta. Menemani Genta ke gereja terlebih dahulu, baru setelah itu gantian Genta yang menemaninya ke gereja.


Ribet? Susah?


Yahh..tergantung dari mana kalian memandangnya, namun bagi mereka itulah perjuangan untuk menghargai prinsip masing-masing.


Suasana Natal sangat terasa saat memasuki gedung KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di London. Sambutan pertama yang ia lihat adalah pohon natal yang menjulang tinggi dan hiasan-hiasan natal lainnya.


Pagi ini mereka berangkat bersama dengan Bang Rastra. Walaupun ini adalah acara Natal bersama, tetapi tidak hanya dihadiri oleh WNI yang beragama nasrani. Layaknya saat hari besar agama lainnya pun seperti itu, saling toleransi.


"Waahh..Genta..Selamat Natal...!" ucap Mbak Meila dan suaminya sambil memeluk Genta, kemudian ganti memeluk dirinya.


"Selamat Natal Prisha.."


"Makasih.." ucapnya sambil tersenyum.


Terlihat Duta Besar Indonesia untuk Britania Raya, Bapak Riko Winata yang tampak sedang menyalami beberapa tamu yang datang.


Mbak Meila menggandeng dirinya ke hadapan Pak Riko,


"Pak Riko..ini lho cucunya Pak Bima yang kemarin saya ceritakan." ucap Mbak Meila ke Pak Riko Winata. Kemudian Pak Riko menatap dirinya dari atas sampai bawah, seakan menilai apakah benar ia keturunan Eyang Bima.


"Halo.. anaknya Rendra ya? Wajahnya persis bapaknya dan eyang kakungnya ini soalnya.." ucap pria yang mungkin usianya di atas ayahnya.


Dia pun tersenyum kikuk dan menganggukkan kepala, karena jujur ia tidak tahu kalau Dubes RI itu ternyata mengenal keluarga besarnya.


"Iya Pak..perkenalkan saya Prisha." sapanya seraya menjabat tangan Pak Riko.


"Maa..mama..sini sebentar.." Pak Riko memanggil seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan anggun.


"Ini Prisha, cucunya Pak Bima, anaknya Rendra.." Pak Riko memperkenalkan dirinya ke wanita itu.

__ADS_1


"Lhahh..Pak Bima yang penerbang jamannya bapak dulu mas? Ini cucunya?" tanya istri Pak Riko sambil menatap dirinya dan juga Pak Riko secara bergantian dan Pak Riko pun mengangguk.


"Cantik sekali kamu, persis Rendra ya wajahnya. Papa mama sehat? Lama banget kita nggak ketemu sama Rendra, terakhir ketemu waktu kamu baru lahir." tanya istri Pak Riko kepadanya.


"Puji Tuhan sehat tante.." Sejujurnya ia tidak tahu kabar mama siapa yang dipertanyakan, mama Ayu ataukah mama Asa, karena mereka bertemu saat dirinya baru lahir.


"Kamu punya adik kan ya Prisha? Laki-laki kan ya?" tanya istri Pak Riko lagi.


Akhirnya ia mengerti, berarti kabar meninggal mama Ayu pasti sudah diketahui oleh keluarga Pak Riko.


"Iya tante, namanya Nendra."


"Kamu sama siapa sih ke sini? Kok ya papa kamu nggak bilang apa-apa sama kita." selidik istri Pak Riko yang membuatnya tertawa kecil.


"Rendra kebiasaan seperti itu dari dulu orangnya. Sekeluarga seperti itu. Nggak pernah kabar-kabar dulu, tiba-tiba muncul aja ke KBRI." seloroh Pak Riko sambil terkekeh yang membuatnya juga ikut tertawa.


Memang keluarga besarnya tidak pernah mau mengandalkan jabatan, koneksi, ataupun kekuasaan. Semua berjalan layaknya orang pada umumnya, padahal kalau fasilitas itu digunakan semua bisa lebih mudah dan nyaman.


"Tahu nggak ma..dia itu ke London sama siapa?" tanya Pak Riko ke istrinya, namun istrinya hanya menaikkan bahu.


"Tuhh..! Rendra itu mau besanan sama anaknya Pak Artono yang desain rumah kita di Semarang." Pak Riko menunjuk Genta yang masih berdiri di belakangnya sedang mengobrol dengan salah satu staf KBRI.


Ia pun mengangguk dan tersenyum malu, lalu Mbak Meila memanggil Genta untuk ikut bergabung bersama dirinya.


"Om..tante..selamat pagi.." sapa Genta ke Pak Riko dan istrinya.


"Selamat Natal ya Genta..Kamu ajak pacar ke sini kok nggak lapor saya? Anak Rendra kamu bawa ke sini tuh udah bilang sama papanya belum?" ucap Pak Riko sambil tertawa pelan.


"Makasih om.. Sudah dong, sudah aman terkendali." jawab Genta sambil terkekeh.


Akhirnya mereka larut dalam perbincangan yang cukup lama, kemudian terhenti karena acara Natal bersama dimulai yang kemudian dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan beberapa hiburan dari PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) dan para WNI yang tinggal di sana.


................


Dania


Ia melihat Genta sedang berbincang dengan beberapa anak PPI di ujung ruangan sambil tertawa-tawa.


Ganteng sekali, batinnya.

__ADS_1


Lalu ia melangkah berjalan menuju ke arah Genta sambil membawa dua gelas wine di tangan.


"Halo mas..selamat Natal.." sapanya sambil menyodorkan gelas wine ke depan Genta.


Genta menatapnya dan melempar senyum ke arahnya,


"Thanks Dania, Selamat Natal juga.."


Lalu tak lama, Bang Rastra menepuk pundak Genta.


"Ditunggu calon nyonya itu di sana, Mbak Meila mau ngajak lanjut ke rumahnya. Bojomu juga mau ke sana, biar nggak diajak ngamar mulu katanya." ucap Bang Rasta sambil tergelak, membuat Genta juga ikut terbahak.


Namun sangat kontras dengan ekspresi dirinya yang cukup terkejut dengan kata 'calon nyonya', 'bojomu' , dan 'ngamar'.


Berarti pacar Genta saat ini ada di sini, tapi yang mana? Ia langsung melempar pandangan ke segala penjuru dan melihat salah satu perempuan berparas cantik sedang tertawa dengan Mbak Meila.


Oh itu, pacar Genta? Tanyanya dalam hati.


Ahh, selama janur kuning belum melengkung bukankah masih bisa saja kan berusaha? Batinnya sambil memandang Prisha dari jauh.


Perempuan yang sedang dalam pikirannya itu berjalan ke arahnya, berdiri di samping Genta dan merangkul pinggang Genta.


"Ini wine? Jangan minum banyak-banyak, tadi kan udah. Nanti juga masih minum pas ngumpul." ucap Prisha sambil mengambil gelas wine yang ia berikan tadi, lalu menaruhnya di meja belakangnya.


Kemudian Prisha melirik ke arahnya dan tersenyum tipis.


"Halo, temannya mas Genta ya? Namanya siapa mbak? Kita belum kenalan, saya Prisha calon istri Mas Genta." sapa Prisha ke arahnya sambil mengulurkan tangan ke arahnya.


Mau tak mau ia menyambut tangan itu dan tersenyum kaku,


"Saya Dania.." jawabnya singkat yang membuat Prisha mengangguk dan tersenyum.


"Salam kenal ya mbak.." ucap Prisha lembut.


"Yaudah yukk yang ke rumah Mbak Meila.." ajak Prisha lembut sambil mengapit lengan Genta.


"Kita duluan ya mas..mbak.." pamit Genta ke anak-anak PPI lain dan juga dirinya, kemudian berlalu.


Matanya menatap kepergian Genta dan Prisha yang telah menjauh dari dirinya. Genta tampak acuh padanya, seperti biasanya. Tapi, itulah yang membuat dirinya penasaran dan tertantang dengan lelaki ganteng satu itu.

__ADS_1


......................


__ADS_2