
Uluwatu , Bali
Arya
"Waahh...selamat datang Bapak Ararya ! Welcome back to Bali..! Bagaimana kabar? Sudah lebih membaik?" sambut Pak Jagad yang sudah menjadi besannya dari seminggu lalu.
"Puji Tuhan..sudah sehat kembali ini pak, yahh..namanya juga kena apes..!" jawabnya sambil terkekeh dan menyambut jabat tangan besannya.
Saat ini mereka semua telah tiba dan akan singgah selama tiga malam hingga acara pernikahan Naras selesai di hotel bintang lima yang terletak di daerah Uluwatu.
Pernikahan Naras sebenarnya sudah diadakan di Yogyakarta, namun pihak keluarga Pak Jagad meminta untuk mengadakan resepsi juga di Bali.
Maklum, siapa yang tidak mengenal keluarga besar Gumilar Wasesa? Salah satu kontraktor terbesar di Bali. Besannya kali ini bukanlah keluarga yang biasa-biasa saja, melainkan berasal dari keluarga besar yang berprofesi sebagai pengusaha papan atas.
Ya, walaupun sebenarnya keluarga besarnya pun sebenarnya juga tak kalah dari keluarga Gumilar Wasesa. Namun, kehidupan keluarga besarnya cenderung jauh lebih sederhana daripada keluarga besar besannya ini.
"Berarti mas Genta baru bisa datang pas resepsi ini?" Pak Jagad menanyakan putranya yang memang tidak ikut rombongan saat ini, hanya ada Prisha yang menggendong Bisma.
"Iya pak, maklum harus selalu stand by. Jadi nanti datang ke sini sama om nya, sama-sama harus jaga soalnya. Makanya ini yang dibawa baru mantu sama cucu dulu ini " jawabnya sambil merangkul bahu Prisha.
Saat ia duduk di tepi kolam renang, sembari menikmati minumannya, matanya menangkap sesosok yang sangat tidak asing baginya. Dahinya mengernyit, seakan berpikir apakah itu benar atau tidak? Maklum sudah puluhan tahun mereka tidak saling bertemu. Sangat lama dan menyisakan kenangan serta luka yang mendalam.
Saat bibirnya hendak memanggil orang itu, tiba-tiba istrinya dan Prisha datang menghampiri dirinya.
"Itu eyang..sana sama eyang, tapi hati-hati ya perut eyang masih sakit." ucap Prisha sembari melepas Bisma yang tengah menghampiri dirinya dengan setengah berlari.
"Ee...aaa..." ketelatenannya mengajari Bisma memanggil dirinya eyang ternyata mulai membuahkan hasil.
Setelah merengkuh Bisma dalam pelukannya, ia kembali mengedarkan pandangannya menyapu ke seleuruh penjuru tempat itu.
"Cari apa sih yang?" pertanyaan Clara hanya ia jawab dengan senyuman dan gelengan kepala.
"Rendra mana?" tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Di kamar, tidur. Katanya ngantuk pak.." jawab menantunya.
__ADS_1
"Sama mama mu? Halah, berasa muda aja mereka, ngamar." gelaknya.
"Iya, nggak tahu tuh..! Tadi mama mau aku ajak ke sini aja, nggak dibolehin sama ayah." gerutu Prisha yang membuatnya semakin terkekeh.
"Kamu mau dibikinin adik lagi sama ayahmu.." godanya ke menantunya yang terlihat langsung terbahak.
"Bapak ihh...amit-amit dehh..! Anak sama cucu bisa-bisa umurnya tua cucunya.." timpal Prisha sembari mengetuk-ketukkan genggaman jari di kepala.
"Lhohh..bisa itu..! Mama mu kan belum menopause, masih subur itu." istrinya malah semakin menambah-nambahi, sontak membuat Prisha menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ibuuu aahh..jangan dong..! Prisha nggak mampu membayangkannya.." gerutu menantunya dengan bibir yang mengerucut Sontak membuat mereka semua tergelak.
................
Naras
Sore ini ia masih bergelung di bawah selimut, benar-benar definisi pengantin baru, batinnya. Suaminya seakan tidak mau membuang waktu dan mengulangi kegiatan panas mereka tadi malam. Maklum, baru tadi malam suaminya berhasil melancarkan aksi, setelah hampir seminggu lamanya harus menunggu dirinya selesai tamu bulanan.
Baru saja ia membuka mata dan menggerakkan sedikit tubuhnya, suaminya sudah kembali mencium tengkuknya.
"Selamat sore istriku.."
Setelah sempat hanyut terbawa ke permainan jari-jari suaminya, kesadarannya kembali pulih.
"Sayang ihh..udah dong..! Remuk semua nih badanku..! Besok kalau aku nggak bisa berdiri gimana..?!" protesnya kali ini malah membuat Adipati terkekeh dengan bibir masih menempel di bahunya.
Aksi protesnya sepertinya tak berujung mulus, karena suaminya justru semakin menghimpit tubuhnya dan membawanya ke pusara kenikmatan.
"Sekali lagi ya, habis itu kita makan malam.." napas hangat suaminya kembali menyapu titik sensitifnya.
Setelah selesai mandi, ia berkaca untuk menghias dirinya, namun ia malah mendesis kesal.
"Ini kenapa dibuat di sini sih..!" desisnya kesal sambil melirik tajam ke suaminya yang baru keluar dari kamar mandi dengan wajah sumringah.
"Kamu ihh, nggak tahu tempat, nggak tahu waktu..!" kesalnya yang langsung membuat wajah Adipati mengernyit.
__ADS_1
"Kenapa sihh..?" bibirnya menganga sempurna, suaminya justru seakan tak berdosa menanyakan hal itu.
"Ini merah-merah gini, kan aku malu besok kalau pakai gaun..!" gerutunya sambil menunjuk dua warna merah di sekitaran dadanya.
Adipati malah menarik bibir membuat senyuman lebar sambil menatapnya,
"Kan kecil, di situ lagi. Nggak kelihatan yang, tenang..":jawab lelaki itu dengan entengnya.
"Ya tapi kan aku malu sama periasnya, kalau pas ganti baju..!"
Suaminya malah kembali menarik tubuhnya dan melahap habis bibir tipisnya, kemudian melepaskannya sambil tersenyum penuh arti.
"Kalau ngomel lagi, kita nggak jadi makan malam. Tapi, aku yang bakal makan kamu."
Seketika bibirnya mengatup rapat, seakan menuruti ancaman suaminya yang saat ini malah tersenyum lebar.
................
Rendra
Malam ini ia dan Arya duduk di lounge hotel sambil menikmati minuman di depannya, serta mengobrol hal yang sebenarnya sama sekali tidak bermanfaat, karena mereka hanya membicarakan kenangan masa muda mereka.
Tangannya menyusut sudut matanya setelah Arya berhasil membuatnya terbahak.
"Edan ya dewe mbiyen..! (Gila ya kita dulu..!) Separah itu kita nakalnya ! Untung Genta sama Nendra nggak separah kita Ya'..!" gumamnya masih sambil tergelak.
Arya mencibir ke arahnya,
"Sebenarnya nggak yakin sih aku kalau Genta. Secara anak itu ganti pacar berapa kali, cewek-cewek juga banyak. Pasti pernah lepas kendali juga dia. Tapi, dari sekian banyak ceweknya Genta yang cantik-cantik itu, cuma Prisha yang bikin anak itu klepek-klepek..!"
Dirinya kembali tergelak,
"Karmamu kui ning aku ! (Karmamu itu di aku..!)" sentaknya sambil tertawa.
Namun seketika tawanya meredup saat matanya menangkap sosok di masa lalu yang telah mnggores luka di hatinya, selamanya tidak akan pernah hilang bekasnya.
__ADS_1
Dan di detik ini juga, luka itu kembali muncul dan terbuka. Matanya hampir tak berkedip, membuat Arya mengikuti arah pandangnya ke seseorang yang berdiri di dekat mereka.
......................