
Chelsea, London
Genta
Dua hari sudah istrinya dirawat di rumah sakit, namun masih belum ada perubahan yang terlihat, bahkan sempat memburuk karena Prisha kembali pendarahan.
Sekarang pun istrinya harus benar-benar istirahat di atas ranjang tanpa boleh bergerak sedikit pun untuk turun dari ranjang.
"Aku nanti jemput mama sebentar ya. Kamu nanti kalau aku tinggal, bisa minta tolong sama perawat ya." ucapnya sembari menyuapi makanan ke mulut Prisha.
Mama Asa memang tetap memaksa untuk berangkat ke London sendirian, walaupun Prisha sudah menolak secara halus. Dirinya sangat paham bagaimana perasaan mertuanya saat ini.
"Iya mas sayang." jawab istrinya sambil tersenyum.
"Aku kok kangen dipeluk sama mas ya.." gumam istrinya lagi dengan cukup manja yang langsung membuatnya terkekeh.
Ia merentangkan kedua tangannya dan mendekap Prisha dengan erat.
"Mas juga kangen banget, cepat membaik ya nak. Bapak udah kangen banget sama ibu." gumamnya yang malah langsung mendapatkan cubitan dari istrinya.
"Iihh..bapaknya iihhh..puasa dulu. Sabar ya.." istrinya pun mengecup bibirnya dengan cepat.
Kepalanya pun mengangguk,
"Yang penting kamu membaik dulu, tapi jangan lupa aku dibelai-belai ya kalau udah baikan." ucapnya sambil mengulum senyum dan malah membuat Prisha mengernyit, lalu terbahak.
................
Haethrow, London
Asa
"Mama...!" menantunya terlihat melambaikan tangan dan berlari ke arahnya.
"Halo ma..sehat?" tanya Genta setelah mencium tangannya.
"Puji Tuhan sehat.." jawabnya sembari mengelus punggung menantunya.
"Ke sana ya ma, mobilnya di sana." ucap menantunya saat berjalan beriringan bersama dirinya.
Menantunya bilang perjalanan akan menempuh waktu sekitar setengah jam. Selama perjalanan banyak sekali yang mereka berdua bicarakan, mumpung tidak ada putrinya saat ini.
"Ya makanya itu ma, tapi dokter yang bertanggungjawab masih memperjuangkan. Jadi ya sudah kita juga berusaha." jelas Genta sambil melajukan mobil.
"Ya nggak apa-apa, yang penting berusaha apapun itu hasilnya. Makanya kalau keadaannya seperti ini, nggak mungkin mama diam aja di sana. Kasihan kamu, masih harus jadi residen sama ngurus Prisha. Ibu kamu aja kemarin udah minta gantian, padahal mama aja baru berangkat." jelasnya dengan tenang yang membuat Genta tertawa kecil.
"Mama mau makan dulu?"
"Nanti aja. Di rumah sakit dekat tempat makan kan?" tanyanya sambil menatap Genta.
Genta pun menganggukkan kepalanya.
"Atau kita take away aja ma? Soalnya nanti Genta jaga malam."
"Boleh..boleh..terserah kamu aja mau makan apa." jawabnya sembari menyalakan handphone nya yang lupa ia nyalakan.
................
__ADS_1
Chelsea, London
Prisha
"Mama...!" ia langsung berteriak antusias saat melihat wajah mamanya sudah masuk ke dalam kamar inapnya.
Mamanya tersenyum menatapnya,
"Mama mau cuci tangan dulu sama ganti baju dulu ya mbak. Habis perjalanan jauh." ucap mamanya yang tak langsung memeluk dirinya dan memilih masuk ke dalam kamar mandi.
Suaminya menghampiri dirinya sambil membawa beberapa kantong berisi makanan.
"Aku tadi beli fish and chip, kamu mau makan sekarang apa nanti?"
"Nanti aja mas.." jawabnya lalu membalas kecupan bibir Genta.
"Ya sudah kalau gitu. Nanti mas jaga malam ya, kamu sama mama ya?"
"Iya bapak Genta.." timpalnya sembari merangkul pinggang suaminya yang masih berdiri di samping ranjangnya.
Ceklek..
"Sampirin aja dulu di kursi itu ma.." ucap suaminya saat melihat mamanya membawa baju kotor dan handuk kecil.
Mamanya pun mengangguk, kemudian berjalan ke arahnya dan mencium pipinya, lalu memeluknya.
Entah kenapa pelukan mamanya malah membuatnya meneteskan air mata.
Mamanya menunduk menatap wajahnya yang masih bersandar di pelukan mamanya.
"Namanya hidup itu nggak selalu mulus. Kadang naik, kadang turun, kadang mulus, kadang terjal. Tapi semua harus dihadapi, nggak boleh takut. Kita punya Tuhan kan, percaya dan yakin, sama tetap berusaha." sambung mamanya lagi sembari mengusap air matanya.
Kepalanya mendongak menatap mamanya dan tersenyum.
Asa
Ia mengingat masa-masa sulitnya saat hamil Kama. Di mana ia harus berjuang sendirian, hingga akhirnya bertemu dengan Rendra.
"Kamu harus bersyukur, dalam keadaan seperti ini kamu masih diberi Tuhan suami yang sangat pengertian dan mau menemani kamu." nasihatnya seraya duduk di kursi samping ranjang.
Prisha pun mengangguk dan tersenyum.
"Oh iya, kita telepon yang ada di Yogya dulu ya, kasihan nungguin. Terus nanti telepon eyang juga, biar nggak bingung nanyain kamu terus." ucap mamanya sembari memainkan layar handphone untuk tersambung pada wi-fi.
Tak lama wajah suaminya dan sahabat-sahabatnya memenuhi layar.
"Haloo anak ayah.."
"Haloo anak ibu bapak.."
"Haii mbak Prisha sayang..."
Sapaan mereka semua membuat Prisha tersenyum lebar.
"Ini aku barusan sampai rumah sakit. Jadi baru bisa kasih kabar.." jelasnya yang disambut anggukkan suaminya.
"Apa yang dirasakan saat ini mbak Prisha?" tanya Ardhana ke putrinya yang tepat ada di sampingnya, sedangkan Genta lebih memilih melihat dari samping tempat tidur.
__ADS_1
"Ya kadang kram sih om. Tapi biar pendarahannya nggak semakin banyak, ya terpaksa bed rest total." Jawaban Prisha membuat Ardhana mengerti.
"Nggak apa-apa, turutin dokter aja gimana baiknya." sambung Ardhana.
"Yang penting jangan stress, orang hamil nggak boleh stress. Nurut mama sama suami kamu bilang apa." gantian suaminya yang angkat suara.
"Mana Genta? Bapak mau bicara.."
"Iya pak?" tanya menantunya yang saat ini sudah megambil alih handphone nya.
"Jangan tambah beban pikiran istrimu ya le. Dibuat happy terus."
"Iya pak..siap..!" jawab menantunya yakin yang membuatnya tersenyum.
"Kalau minta bantuan, langsung kabarin pokoknya ya Sa..!" Clara kembali mengingatkannya.
"Iya mbak..tenang aja.." jawabnya sambil terkekeh.
"Harus gantian pokoknya..! Kasihan Rendra nanti kelamaan nggak ada yang dipeluk, bisa gelisah dia." seloroh Greesa yang membuatnya dan Genta langsung tergelak.
"Huusshh..heii kalian ini ngomong apa? Udah pada tua, masih mikir begituan terus. Ingat udah pada jadi eyang..!" gerutu suaminya sambil terkekeh.
"Emang cuma ada hot mommy, hot daddy aja? Sekarang kita ciptakan hot eyang dong! Ya nggak sayang?" ucap Arya sembari melirik Clara dan mengecup pipi Clara. Tingkah Arya langsung membuat semuanya terbahak.
Dasar besannya itu selalu bisa saja mencairkan suasana.
"Ssshhh...aduuhh...!" putrinya mendadak merintih sembari memegangi perut.
"Kenapa?" tanya suaminya cepat.
"Kram lagi kelihatannya.." jelas Genta setengah berteriak dan mengelus kepala Prisha.
"Yaudah aku matiin dulu ya, nanti aku kabarin lagi." pungkasnya sembari mematikan panggilan sepihak.
Putrinya terlihat mencengkeram tangan Genta dan merintih.
"Pegangan mama dulu ya, aku lihat dulu sebentar." ucap menantunya sembari melepaskan genggaman tangan Prisha dan berjalan mendekati kaki putrinya, lalu mencoba melihat apakah ada pendarahan lagi yang keluar.
Genta tampak menggelengkan kepala,
"Aku panggil dokter yang bertanggungjawab dulu ya."
Menantunya langsung keluar dari kamar, sedangkan putrinya menggenggam tangannya sangat kuat. Jujur keadaan putrinya saat ini membuat dadanya sesak, namun tidak ingin ia perlihatkan secara langsung.
......................
*Mohon maaf ya kakak-kakak kalau saya up nya lama, soalnya baru merawat bapak saya sakit.
Jadi, jadwal up nya amburadul begini.
Mohon maaf dan mohon pengertiannya 🙏
Terimakasih,
Salam hangat,
.chi*.
__ADS_1