
3 MINGGU KEMUDIAN
Yogyakarta
Arya
Matanya menatap seseorang pria tampan yang saat ini duduk berhadapan dengan dirinya. Ia melipat bibirnya, mencoba menahan tawa saat menatap wajah Rendra yang mencoba serius.
Kemudian ia berdehem pelan sebelum membuka pembicaraan.
"Opo Ndra? Ono opo? (Apa Ndra? Ada apa?)"
Rendra membalas tatapannya. Kemudian tawa mereka pecah bersamaan, karena sudah tidak dapat menahan tawa.
"Aaagghhh...!" Rendra tampak kesal karena belum dapat menumpahkan perasaan yang dipendam selama 3 minggu ini.
Dirinya malah semakin terkekeh, karena ia tahu apa yang akan Rendra ungkapkan.
"Koe kui ngopo? Malah bengok-bengok koyo wong waras..! (Kamu itu kenapa? Malah teriak-teriak kaya' orang sehat..!)" ucapnya sambil terkekeh.
"Sumpah demi apa, aku meh besanan karo koe? (aku mau besanan sama kamu?)" Akhirnya Rendra mengungkapkan yang telah dipendam.
Dirinya langsung terbahak bahkan hampir tak terkontrol.
"Kamu udah tahu? Dari kapan?" selidiknya masih sambil tertawa.
Sahabatnya langsung menghela napas dan meliriknya malas.
"Seharusnya aku yang tanya seperti itu, bukan kamu." protes Rendra sambil menyilangkan kaki.
Ia pun mencibir dan menaikkan kedua alis secara bersamaan,
"Uhmm..Aku udah tahu lama sih tentang mereka..Clara juga.."
"Iya, sejak kapan?" sahut Rendra cepat.
"Ya apanya dulu?" timpalnya tak kalah cepat.
"Maksudnya?" Rendra malah mengernyitkan wajah sambil menatapnya.
__ADS_1
"Ya kalau mereka jadian sih, baru dua tahun. Tapi aku tahu Genta suka sama Prisha itu udah dari jaman Genta SMA, tapi mungkin malah sebelum itu sebenarnya. Kamu tahu kan alasan Genta menjadi dokter selama ini?" selidiknya mencoba menggali sejauh mana Rendra mengetahui semuanya.
Sahabatnya menurunkan kaki dan mencondongkan badan ke arahnya.
"Emang apa?"
Wah..ternyata sahabat tampannya itu memang tidak tahu apa-apa, entah kadar kepekaannya mulai menurun seiring umur yang menua atau memang terlalu sibuk hingga kurang peka?
"Ya karena anak kamu yang bernama Prisha itu." jawabnya santai, kemudian menyeruput kopi di depannya.
Rendra tampak terperanjat dan membulatkan mata.
"Haa? Kok bisa? Bentar..bentar..gimana sih maksudnya?"
Ia pun menghela napasnya, rasanya saat ini ia ingin menjitak kepala sahabatnya saat itu juga.
"Tunggu...tunggu.." imbuh Rendra lagi sambil mengacungkan jari telunjuk ke arahnya.
"Karena Prisha pernah terluka robek di perut itu? Waktu jaman di rumah Ardhana? Pantes Genta nekat banget ikut ke rumah sakit saat itu." ucap Rendra sambil menyisir rambut dengan kasar.
Dirinya kembali terkekeh pelan dan menaik turunkan alisnya.
Rendra tampak mendengus pelan,
"Terus gimana ini?" tanya Rendra sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
"Sumpah Ya', aku nggak pernah kepikiran membahas masalah seperti ini sama kamu. Padahal dari dulu Asa selalu bilang, gimana coba kalau ternyata besok pas anak udah gede kita ternyata jadi besan. Dan sekarang kenyataan, wah..gila..." gumam Rendra semakin membuatnya tertawa.
"Gimana? Katanya biar dapat warisan gede. Aku juga bahagia lah, dapat warisan pom bensin." timpalnya membuat Rendra tergelak.
"Edaaaann..! Pembahasan besan macam apa ini?!" gumam Rendra sambil terkekeh.
"Kata Prisha, setelah Genta pulang dari Boston. Dia mau ke London, soalnya Genta nggak bisa pulang, udah setahun lebih mereka nggak ketemu." sambung Rendra mencoba membahas sesuatu lebih serius.
Dia pun mengangguk,
"Kemarin sebenernya udah aku tawarin ke Prisha, buat ikut ke Boston. Tapi ternyata dia ujian. Terusa dia cerita ke Clara katanya penginnya ke London. Cuma kenapa nggak sekalian pas Naras ke sana kemarin?"
"Pas Naras ke sana, dia kan ada lomba paduan suara ke Italy. Aku suruh sambung ke London sekalian saat itu. Tapi dia bilangnya nggak mau, capek, ribet bawa kostum. Yaudah.." cerita Rendra kali ini.
__ADS_1
"Kita pernah muda kan? Mana mau di sana ada Naras, Arsya, sama Arletta. Rame-rame gitu. Lama nggak ketemu pacar, ya penginnya berdua aja." sambungnya sambil mengulum senyum, langsung membuat wajah Rendra menegang.
"Please Ya', kasih tahu Genta berusaha tahan dulu, sampai waktunya. Pening nih kepala aku kalau mikirin itu." pinta Rendra memelas, sontak membuatnya tergelak.
"Uhmm..gitu? Kalau udah dekat waktu nikah, tinggal berapa minggu boleh nggak?" godanya ke sahabatnya yang sudah terlihat mulai gelisah.
"Kalau bisa jangan dulu deh Ya'. Nakalnya kita dulu jangan kamu ajarin ke Genta lah. Masalahnya di sini ada anak gadis aku, bisa gila aku bayangin itu." Rendra sudah tampak frustasi membayangkan sesuatu yang tidak-tidak.
Dia pun kembali terkekeh,
"Tenang, aku udah nasehati Genta selama ini. Setahu aku sih nggak aneh-aneh anaknya. Tapi kalau sama Prisha ya nggak tahu ya, apalagi kalau udah dapat lampu hijau gini. Atau udah ketok palu penentuan tanggal nikah."
"Iya. iya di depan kita. Tapi, ya gimana lagi pak, enak ternyata.." ia semakin menggoda Rendra.
Rendra tampak memijat pangkal hidung mancung itu.
"Udah lah percaya sama anak kita, toh kita sebagai orangtua kan cuma bisa menasehati dan memberi kepercayaan, sama menanamkan tanggungjawab. Kalau sampai Genta macam-macam, kamu masih ingat rumah aku kan? Masih ingat nama aku siapa kan? Masih ingat kantor aku kan?"
"Aku nggak bakalan kemana-mana, kalau Genta lari dari tanggungjawab. Aku sendiri yang bakal nyeret dia ke depan kamu. 20 tahun lebih kan kamu udah tahu aku sama Clara seperti apa?!" terangnya panjang lebar meyakinkan Rendra.
"Cuma satu Ndra, aku tetap nggak ngijinin Genta atau Prisha pindah, cuma gara-gara cinta. Maaf nih sebelumnya ya. Aku sama Clara nggak bisa. Kalau memang mau tetap lanjut, ya jalan sendiri-sendiri, saling toleransi dan saling mengerti. Walaupun lebih berat pastinya ada dua nahkoda." imbuhnya lagi.
Rendra langsung menunjuknya,
"Itu, aku juga mikir sama persis seperti kamu. Masalah siapa yang jadi nahkoda utama, biar mereka yang memutuskan."
"Oke ...sipp kalau gitu! Kita sebagai orangtua, selama masih hidup dan bisa memantau rumah tangga mereka nantinya, kita harus ekstra mengingatkan buat selalu menghargai, jangan pernah lelah." pungkasnya yang disambut anggukkam oleh Rendra.
Mereka berpandangan dan saling melempar tawa.
"Jadi deal nih, Ararya dan Narendra bersatu?" tanya Rendra sambil terkekeh.
Mereka pun saling beradu kepalan tangan.
"Deal..! Dua tahun lagi, kita sebar undangan bersama! Kita buatin mereka after party yang gila, atau kalau perlu buatin pesta bujang di malam pertama biar melatih kesabaran dulu?" gelak mereka berdua mengingat masa muda mereka, hingga menyusut air mata yang keluar karena tertawa tiada henti.
Dasar duo daddy gesrek! Perbincangan besan macam apa ini? Seandainya anak-anak mereka tahu, pasti anak-anak mereka akan menggelengkan kepala melihat tingkah mereka.
Bagaimana readers, Kerajaan Ararya dan Narendra akan bersatu ini? Kawal sampai halal nggak nih?
__ADS_1
......................