
3 TAHUN KEMUDIAN..
Renon, Denpasar
Clara
Seharian ia hanya bertemu anak sulungnya saat sarapan dan makan siang, selebihnya Genta berada di kamar, sudah dua hari putranya seperti itu.
"Yang.." panggilnya ke suaminya yang sedang sibuk menatap laptop di ruang tengah yang berhadapan langsung dengan kolam renang.
"Iya..apa?" Arya pun menanggapi tanpa menatap ke arahnya.
"Anakmu itu, dua hari keluar kamar cuma buat makan aja. Selebihnya ngamar terus, perasaan dulu aku nggak begitu-begitu amat pas mau tes masuk kuliah." ucapnya sembari duduk di samping suaminya.
Arya pun akhirnya melirik ke arahnya,
"Ya nggak apa-apa kan? Masalahnya di mana? Anaknya baik-baik di rumah belajar, kok bingung."
Dirinya pun menghela napasnya,
"Ya bukannya bingung, tapi takut aja kalau terlalu keras belajar. Dia malah jadi stres apa sakit." jelasnya dengan wajah cemberut.
Lalu dirinya memutar badannya menghadap ke suaminya, sambil memangku bantal sofa.
"Tahu nggak sih yang? Gara-gara masalah kuliah aja, Genta sampai putus sama pacarnya lho. Sama si Adel itu. Padahal mereka kan udah pacaran dua tahun, dari awal mereka masuk SMA." sambungnya lagi sambil menatap suaminya yang masih sibuk menatap laptop.
"Ya biarin aja lah, masih muda, biarin berkelana dulu dia. Biarin meraih mimpinya dulu, baru ngurusin masalah cewek. Paling juga kalau kuliah, Genta juga udah ganti pacar, kalau dia sekaramg masih sama Adel." jawab suaminya santai, masih tanpa menatap dirinya.
Bibirnya langsung manyun seketika,
"Like father like son!" ucapnya sambil terkekeh yang langsung membuat Arya pun tergelak.
"Ya lagian kamu, anaknya baik-baik belajar di rumah, ribut. Anaknya nongkrong, pacaran terus, juga ribut. Udah sih, biarin aja, Genta itu laki-laki ya harus berkelana dan berpetualang sejauh mungkin. Lagian, aku yakin dia juga nggak macem-macem." jelas Arya sambil membawanya ke pelukan suaminya itu.
"Anak itu kan mimpinya bukan sama kayak kita, kalau bukan dirinya sendiri yang berusaha, ya siapa lagi. Aku mana tahu kalau ditanyain tentang anatomi tubuh, kecuali tubuh wanita sih ya." tambah suaminya sambil tergelak yang membuatnya mendaratkan cubitan di perut suaminya.
__ADS_1
"Aku juga bingung kenapa sih dia pengin jadi dokter? Bapak ibunya, eyangnya, om nya aja semua orang teknik, bisa-bisanya dia masuk kesehatan. Aneh.." gumam Arya sambil menyingkirkan laptop ke arah samping yang masih sangat kosong.
Ia menggigit bibir bawahnya sambil mencoba memikirkan sesuatu jawaban,
"Ya om nya kan ada yang jadi dokter juga, tuh dua manusia tampan. Kamu lupa? Kelihatannya gara-gara mas Ardhana deh, lihat aja kalau keterima, dan nantinya ambil spesialis pasti dia ambil bedah. Yakin aku.." jelasnya kembali.
"Ya mau jadi apa aja terserah dia, yang penting berguna dan bertanggungjawab sama pilihannya. Jaman kita aja udah nggak mau dipaksa-paksa, apalagi sekarang." ucap suaminya sambil merengkuh jemari tangannya.
"Terus gimana? Kita mau pindah, balik ke Yogya lagi atau gimana?" tanya suaminya sambil menatap matanya.
Ia kembali menggigit bibir bawahnya, lalu menghela napasnya.
"Aku sayang sama rumah ini, tapi aku juga pengin balik ke Yogya lagi. Kalau rumah ini nggak kita tempatin, mau dipakai apa dong yang?"
Arya pun tampak tersenyum sambil menatap kolam renang di depan mereka. Bagaimanapun, rumah ini sangat bersejarah dalam perjalanan hidup mereka.
Merancang bersama semua dari nol saat mereka masih pacaran, lalu menjalani hidup bersama dari awal setelah menikah di rumah ini, hingga usia pernikahan mereka ke-17.
Sudah banyak kisah lika-liku kehidupan, pasang surut rumah tangga mereka, senyuman, air mata, bercinta, dan pertengkaran pun mereka lewatkan di rumah ini. Dan tak terasa putra sulung mereka akan menginjak ke bangku kuliah.
"Ya kita buat villa aja, disewain. Jadi kalau kita liburan ke sini, ya nggak kita sewain, kita pakai sendiri. Lagian masih ada Ajik Dewa sama anaknya yang bisa dipercaya. Aku kan juga bakal masih mondar-mandir Bali, kantor kan bakal tetep masih jalan." jawab suaminya sambil tersenyum.
Bibirnya pun tersenyum,
"Nggak usah beli rumah, pakai aja tanah yang dulu aku pakai butik, di sebelah kos. Mangkrak tuh nggak kepakai. Jadi sementara, kita tidur di rumah bapak aku apa bapak kamu, sambil konsep ulang tuh bangunan." jawabnya.
Suaminya pun tampal mengangguk-anggukkan kepala.
"Jadi ingat, jaman mau nikah kita berantem di sana. Eh lha kok terus malah ada yang minta bercinta di sana. Katanya, nggak mau lagi, nunggu habis nikah dulu. Sini udah berusaha mengontrol, malah ada yang minta lebih. Ya gaasss lah..!" gumam suaminya sambil mengulum senyum, sontak membuatnya tergelak mengingat saat itu.
Memang benar apa kata Arya, saat itu dirinya malah yang hilang kendali.
"Berusaha mengontrol apaan? Udah setengah jalan, malah tiga perempat jalan itu, nggak enaklah berhenti kayak gitu. Ya gas aja lah..ya kan? Tapi enak kan? Uluh-uluh.. sekarang udah tua tapi kita.." selorohnya sambil membelai dagu suaminya.
Arya langsung menautkan alis dan menampakkan tidak setuju.
__ADS_1
"Tua? Nggak ah, masih pantas disebut sugar daddy gini aku mahh. Kalau orang bilang, tua itu kepastian. Aku malah kebalikannya.." ucap Arya yang membuatnya bergantian menautkan alisnya.
"Tua itu pilihan, tapi selalu hot itu keharusan !" sambung Arya dengan lantang. Dirinya pun langsung tergelak mendengarnya.
"Ya iya dong! Kalau aku nggak mau dibilang tua untuk saat ini lah. Masih gagah gini, baru juga kepala empat. Kita akan selalu berjiwa muda dong! Bikinin adek buat Genta aja masih sanggup kok dibilang tua.." sambung Arya, lalu mencibir.
"Iya masih sanggup, tapi pabriknya yang udah disegel." sahutnya sambil beranjak dari posisinya, lalu berdiri beranjak meninggalkan suaminya.
"Disegel nggak masalah, yang penting masih bisa dipakai." sahut suaminya sambil sedikit berteriak lalu tertawa.
................
Genta
Dua hari ini, ia belajar ekstra keras hanya demi meraih mimpinya menjadi dokter. Baginya tidak mudah, namun juga tidak sulit untuk mengenal secara dekat profesi yang akan menjadi mimpinya itu.
Pasalnya kedua om nya adalah dokter dan spesialis salah satu dari mereka adalah mimpi utamanya selama ini.
Sejak ia melihat ibunya keguguran dan dioperasi untuk mengangkat tumor di rahim ibunya, serta kejadian Prisha yang mengalami trauma abdomen. Kemudian juga kejadian adiknya yang mengalami luka sobek yang cukup dalam di leher karena sayatan benang layang-layang. Membuat dirinya semakin mantap untuk masuk kedokteran.
tiingg..tiinnggg..
tiingg..tiinggg..
Adelia ❤
Selamat belajar ya, kamu pasti bisa ! I still love you, sorry.
Bibirnya langsung melengkung ke atas, tersenyum tipis. Walaupun, baru seminggu yang lalu ia putus karena pacarnya akan melanjutkan studi ke Canberra.
Itu adalah murni alasan mereka mengakhiri hubungan yang sudah berjalan dua tahun, karena ia atapun Adel tidak mau dipusingkan untuk masalah pacaran jarak jauh yang menguras emosi jiwa dan raga mereka, karena tujuan utama mereka adalah mimpi mereka.
Jari-jarinya pun mengetik huruf demi huruf,
Iya, makasih ya..! It's okay, semuanya butuh waktu, jangan dipaksa. I love you too, gud nite.
__ADS_1
Pesan itu ia kirimkan untuk perempuan cantik dan pintar yang sekarang telah berubah statusnya menjadi mantan pacarnya.
......................