A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Menggemaskan


__ADS_3

Yogyakarta


Asa


Pagi ini seperti biasanya, ia sedang menyiapkan sarapan untuk putrinya.


"Besok ke Jakarta, flight jam 10 pagi?" tanyanya ke putrinya yang akan berencana pergi ke Jakarta dengan Genta, untuk membeli beberapa barang seserahan yang hanya ada di kota besar.


"Iya ma, cuma tiga hari aja kok ma.." jawab putrinya sambil memakan sandwich buatannya.


"Jangan macam-macam dulu lho mbak, dijaga dulu..tinggal 6 bulan.." giliran suaminya yang berkomentar.


Namun putrinya itu malah tampak jahil,


"Macam-macam itu apa ayah? Nggak macam-macam kok, cuma satu macam aja.." ucap putrinya sambil mengedipkan satu mata.


Suaminya langsung mendelik dan menggelengkan kepala ke arah putrinya yang tampak terkekeh. Ia pun ikut tertawa pelan, mengingat ulah Rendra saat mereka belum menikah.


Setelah sarapan, ia dan suaminya masuk ke dalam kamar menyiapkan baju kerja suaminya.


"Aku takut kalau mereka kebablasan.." gumam Rendra sambil melihat layar handphone yang daritadi tergeletak di nakas.


Tangannya menaruh kemeja dan celana kerja Rendra di atas ranjang. Kakinya melangkah berjalan mendekat ke arah suaminya, kemudian mengelus lembut punggung suaminya dan memeluk tubuh tegap suaminya dari belakang.


"Jangan gitu, percaya sama mereka. Kalau niatnya mau begituan, nggak usah nunggu pas mereka berdua pergi jauh tanpa kita. Di sini aja, kalau pas lagi nggak ada kita, juga bisa aja."


"Kita sebagai orangtua kan cuma bisa memberitahu dan percaya sama mereka, nggak mungkin kan 24 jam sama mereka." ucapnya mencoba menenangkan suaminya.


Rendra memutar badan berhadapan dengan dirinya dengan senyuman tipis, sedangkan tangannya masih enggan untuk lepas dari pinggang Rendra.


Bibirnya tersenyum,


"Ingat dulu bapaknya pada ngapain aja jaman mudanya. Ingat dulu sebelum nikah, ngapain aja. Ingat nggak? Jangan pura-pura lupa dehh.." ledeknya sambil mengerlingkan mata, sontak membuat Rendra terkekeh.


"Tapi perasaan aku nggak pernah sampai bikin tanda merah di leher sama dada gitu di kamu."


Ternyata suaminya juga tahu tentang merah yang menempel di leher dan dada putrinya itu, karena memang tanda yang dibuat oleh Genta tidak mampu ditutupi apapun. Walaupun kecil, tapi sangat jelas terlihat.


Ya,pasti feeling seorang ayah yang memiliki masa lalu lebih berpengalaman akan lebih tajam untuk hal seperti itu.


Contohnya, sepulang dari London, Rendra selalu memperhatikan cara jalan Prisha begitu putrinya mendarat di Yogyakarta. Lalu meneliti setiap jengkal tubuh putrinya yang dapat ia lihat dari luar.


Bahkan, sampai sebulan setelah kepulangan Prisha dari London, suaminya itu terus memperhatikan gestur putrinya.


Dirinya pun memutar bola matanya,


"Ya emang nggak pernah kalau masalah tanda, tapi kalau yang lainnya jangan ditanya. Tancap gas terus." ucapnya dengan sedikit bersungut-sungut, mengingat tingkah Rendra yang selalu ada-ada saja meminta ini itu.


"Palingan Genta seperti itu juga karena ada alasannya." sambungnya yang membuat Rendra mencebik.


"Cemburu..! Yakin, pasti Genta lagi cemburu sama seseorang.." jelas suaminya yang membuatnya mengerutkan dahi.


"Bapaknya dulu gitu soalnya, tiap kali cemburu sama orang, istrinya ditandain. Like father, like son." sambung Rendra yang membuatnya kembali tertawa.


"No, lebih tepatnya like father, like father in law, like son!" ralatnya yang langsung membuat Rendra terbahak.


"Mandi bareng yukk..lama nggak mandi bareng. Masih ada waktu 2 jam sebelum ngajar." ajak suaminya seraya mengerlingkan mata.


................


Jakarta

__ADS_1


Genta


Mereka sudah sampai di bagunan tinggi menjulang di kawasan Senayan.


"Tidur dulu aja yang, nanti sore baru jalan ya." ucapnya sambil mengecup tengkuk Prisha yang terekspos karena rambut lurus itu digulung ke atas.


Prisha yang masih berdiri di depan meja langsung meliriknya tajam karena tingkahnya barusan, namun ia hanya terkekeh.


Kekasihnya itu menatap dirinya yang dengan santainya berganti baju tanpa sedikitpun rasa malu.


"Kenapa dilihatin terus? Kangen?" tanyanya tanpa dosa, langsung membuat Prisha mendelik ke arahnya.


Kemudian kekasihnya itu berjalan ke dekat koper dan mengambil baju ganti, lalu membawa baju itu ke kamar mandi.


Prisha


Saat kakinya melangkah menuju kamar mandi, tangan Genta mencekal lengannya dengan sangat cepat dan kuat.


"Kamu mau kemana?" tanya kekasih gantengnya itu dengan santainya.


"Aku mau ganti baju.." pintanya sambil mencoba melepaskan tangan Genta.


"Kenapa sih kalau ganti di sini aja? Kan cuma ada aku, nggak ada orang lain." Genta menepikan badannya dan mengunci dirinya di tembok.


Wajahnya langsung merona yang dapat ia lihat dari pantulan cermin di depannya.


"Aku malu mas.."


Mulut Genta menganga dan mengernyitkan dahi.


"Malu buat apa? Aku lho, udah pernah lihat semuanya. Bedanya pakai bikini sama b ra dan ce lana dalam itu apa? Bentuknya juga sama, bahkan tanpa pakai apapun aku juga pernah lihat."


Kata-kata vulgar Genta langsung membuat wajahnya kembali merah. Mana mungkin dirinya mau berganti dalam keadaan sadar.


"Ya nggak gitu mas, aku takut aja sama kamu. Kamu kan hobinya nyosor. Aku pakai baju lengkap lengan panjang aja disosor, apalagi aku cuma pakai dalaman. Kan katanya kita mau tidur, jadi aku nggak mau dikira mancing-mancing." jelasnya gamblang tanpa malu, membuat Genta tergelak.


"Udahh ahh, aku mau ganti baju!" ucapnya seraya mendorong badan Genta yang masih terkekeh.


Genta


Ternyata matanya terpejam cukup lama, sekitar 3 jam. Prisha masih terlelap di bawah ketiaknya. Jari-jarinya mulai jahil membangunkan Prisha, pertama memainkan jari di telinga, hidung, bulu mata, dan terakhir bibir Prisha.


"Mas...iihhh.." Prisha langsung protes saat bangun dan mendapati dirinya terkekeh.


"Ayo bangun, katanya mau belanja. Jadi nggak? Atau besok aja belanjanya, mau di sini aja seharian?" tawarnya sambil menunjuk ranjang.


Prisha langsung bangkit duduk di sampingnya dan menatapnya.


"Kita mau belanja apa aja sih sebenarnya?" tanya perempuan itu dengan polos.


Ia malah mengernyitkan wajahnya,


"Lhah, aku nggak tahu apa yang kamu butuhin buat seserahan. Kok malah tanya aku?!"


Prisha malah mengangguk-anggukkan kepala, sambil menghitung jari-jari lentik itu.


"Dompet udah kan, mas yang beliin kemarin di London. Perhiasan udah dari ibu Ara. Sandal aku udah pesan di pengrajin. Sepatu high heels juga."


Matanya hanya mampu memandang gadis kecilnya yang selalu menggemaskan itu.


"Aku tau..!" seketika lamunannya buyar dengan teriakan Prisha.

__ADS_1


"Tas, make up, parfum buat kita berdua..terus apa lagi?" tanya Prisha dengan wajah menggemaskan sambil menatapnya.


Ia langsung menarik tangan Prisha ke ranjang dan mengungkung tubuh ramping itu. Prisha langsung membulatkan mata.


"Maaaasss...iihhh...! Lepasin dong ah..!" rengek Prisha dengan sedikit meronta.


"Jawab dulu pertanyaanku. Kamu bingung kan apalagi yang mau dibeli? Aku tahu..tapi tebak dulu..."


Prisha langsung mengernyitkan dahi dan berusaha berpikir keras.


"Pokoknya satu jawaban salah, berarti satu ciuman. Ayo tebak.." ucapnya sambil menaik turun alisnya.


"Sepatu flat? "


Satu kecupan mendarat di pipi Prisha.


"Sepatu olah raga?"


Satu kecupan lagi mendarat di pipi Prisha.


"Alat masak?!" jawab Prisha penuh keyakinan.


Satu kecupan di bibir Prisha.


"Baju kan mas?" tanya Prisha sambil memohon agar jawaban itu benar.


Bibirnya sudah menelusuri leher jenjang Prisha.


"Nyerah nggak?" bisiknya menyapu telinga kekasihnya yang sudah sedikit menggeliat.


"Mas, jangan aneh-aneh deh.." Namun Prisha kembali sadar dan melancarkan protes.


"Yaudah kalau nggak mau nyerah, jawab aja sampai ciumanku mendarat di mana aja.." gumamnya santai dengan bibir menempel di ceruk leher Prisha.


"Manis..wangi..sensual.." imbuhnya saat mencium aroma tubuh Prisha yang telah disemprotkan parfum.


Prisha sudah tampak memejamkan mata dan pasrah dengan jawaban pertanyaan itu.


"Udah nyerah?" desisnya lagi.


Kekasihnya itu pun akhirnya mengangguk.


"Nanti aku kasih tahu, tapi janji kamu harus beli lebih dari lima. Aku suka warna merah." bisiknya dan langsung membawa mereka ke pusara kenikmatan yang masih menegakkan batas.


......................


*Hai kakak-kakak pembaca..!


Maap ya kalau telat up, soalnya anak habis sakit dan sekarang jadi ikutan tumbang deh..!


Tapi saya usahakan up kok..


Mohon pengertiannya..


Sehat selalu ya buat kita semua...


Terimakasih..


Salam sayang dari,


Mas Genta atau bapak-bapaknya nih?

__ADS_1


🤣😘💋*


__ADS_2