
Pemimpin yang mulia dan luar bia
Battersea, London
Genta
"Masuk pak, bu..ya ini apartemen kami yang mungil.." ucapnya sembari menarik koper bapak ibunya.
"Maaf ya bu..pak..berantakan.." tangan Prisha merapikan beberapa barang yang ada di meja, sedangkan orangtuanya melihat-lihat ruangan mereka sambil tersenyum.
Bapaknya kemudian duduk sambil menatap jendela yang menyuguhkan pemandangan jalanan luar dengan tatapan menerawang.
"Jadi ingat jaman dulu ya yang..." gumam bapaknya sambil menatap ibunya yang juga tampak tersenyum.
"Dulu bapak juga kamarnya seperti ini, tapi di daerah Lambeth. So yesteryears..! Makanya tadi bapak nggak mau dijemput, pilih naik kereta. Nostalgia..!" Bapaknya memang terlihat mengenang masa lalu di London semasa menempuh pendidikan Magister dan lanjut bekerja di kota ini.
"Nostalgia masa muda ya pak? Jaman jauh-jauhan sama ibu?" seloroh istrinya sambil tertawa kecil.
Bapak dan ibunya malah tergelak,
"Belum..itu belum sama ibu. Bapakmu ini masih nggak jelas saat itu." jawab ibunya sambil terkekeh dan melirik bapaknya.
"Nggak jelas, tapi akhirnya sempat disamperin ke sini, setelah 3 tahun merantau. Yang nggak jelas itu bukan bapak, tapi ibu. Bapak udah jelas banget suka sama ibu dari dulu, tapi ibu aja yang masih galau." cibir bapaknya dengan lirikan dan senyuman maut ke arah ibunya, mereka pun tertawa melihat ekspresi itu.
"Tapi ibu dulu tidurnya nggak berani sekamar pas ke sini. Lha wong masih sahabatan, belum dianggap lebih dari itu."
Akhirnya ia tergelak mendengar cerita jujur ibunya tentang masa lalu kisah cinta orangtuanya yang cukup berliku.
"Dan saat itu pas ayah lagi dekatin ibu? Iya pak?" seloroh Prisha sambil terkekeh yang langsung membuat bapak dan ibunya terperanjat.
"Lhah, tahu kamu soal itu? Waahh..mulutnya Rendra perlu ditatar.." sahut bapaknya dengan tertawa.
Istrinya pun mengangguk dan terkekeh,
"Secara tidak langsung sih, pas dengar bapak sama mama cerita-cerita jaman muda."
"Tak kusangka, ibu diperebutkan dua sahabat sendiri saat itu." sahutnya yang membuat ibunya mencebik.
"Ibu cantik sih mas, umur kepala 5 aja cantiknya masih begini. Gimana jaman masih muda, kembang kampus lah pasti.." Istrinya tampak memeluk ibunya dengan manja.
"Bener kamu mbak, saingannya banyak banget. Susah payah bapak dapatin ibu, ehh lha kok ayahmu mau ikutan jadi pesaing. Ya mohon maaf, urut antrian dulu.." gelak bapaknya yang sontak membuat semuanya tergelak.
"Rival jadi besan dong berarti? Luar biasaaa.." sahutnya sambil menaik turunkan alisnya.
Ia pun seperti Prisha yang sedikit banyak tahu tentang kisah cinta masa lalu orangtua mereka, masa muda orangtua mereka yang penuh liku dan kegilaan.
Tapi, sebagai manusia dewasa, ia pun bisa memilih mana yang perlu diserap dan mana yang tidak perlu ia ambil. Masa lalu orangtua yang berliku bukan berarti akan menghasilkan anak yang berliku juga.
__ADS_1
Buktinya? Dirinya dan Prisha yang masih berjalan sesuai norma, yahh walaupun tidak lurus-lurus juga, tapi lumayan lah.
Namun, orangtua mereka mengajarkan hal yang terpenting adalah cara mengekspresikan cinta. Itu lah yang harus mereka serap hingga saat ini, bahkan selamanya.
................
Chelsea, London
Prisha
"Udah sana..kamu praktek dulu. Biar ibu sama bapak yang jagain Prisha, percaya sama kita." titah mertuanya ke suaminya yang terlihat sedang duduk di sampingnya sambil melahap pastry.
Dirinya besok pagi akan melakukan operasi caesar dan mulai siang ini ia sudah harus mulai rawat inap. Ia harus melahirkan dengan jalan caesar karena sekaligus harus mengangkat tumor yang ada di rahimnya itu.
"Aku kerja dulu ya, nanti selesai operasi sama visite aku ke sini. Kalau nggak ada panggilan lagi. Makan dulu yang banyak, nanti malam mulai puasa." gumam suaminya yang kini sudah memakai pakaian scrub berwarna biru, lalu mengecup keningnya
"Iya, aku mau habisin makanan kiriman anak-anak tadi." gumamnya sambil cekikikan.
Saat suaminya hendak berbalik badan, ia kembali memanggil suaminya.
"Maasss.." ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya, kemudian Genta kembali menghampiri dirinya dan memeluknya. Mertuanya pun tampak menggelengkan kepala dan mengulum senyum.
"Bawaan bayi kelihatannya bu, semenjak hamil minta dipeluk terus, ditinggal ke kamar mandi aja mesti dipeluk dulu." jelas suaminya.
Mertuanya langsung tergelak mendengar penjelasan Genta.
"Ehh..biarin..malah bagus mbak. Biar Genta nggak macam-macam di luar sana, gelendotin aja terus kalau perlu."
Ia malah langsung terbahak mendengar ide ibu mertuanya itu.
"Hiissshh..gelendotin terus malah tambah bikin pening. Sini aja udah puasa berbulan-bulan, nggak tahu buka puasanya kapan." gerutunya dengan wajah sudah tertekuk.
Buugggg..!
Bapak mertuanya melempar bantal sofa ke arah suaminya,
"Sabar..baru nahan gitu aja udah uring-uringan."
"Halah..berasa situ nggak aja! Cermin mana cermin?! Like father like son.." cibir ibu mertuanya sambil mengerucutkan bibir.
"Also.. like father in law and like uncle.. Dangerous man..!" sambung bapak Arya dengan santainya yang membuat mereka semua tergelak.
Perbincangan absurd seperti ini sudah sering mereka lakukan di setiap momen kumpul bersama.
Genta
Tangannya menyusut air matanya sebelum kembi masuk ke kamar inap istrinya. Namun, ternyata bapakmya memergoki dirinya menangis di luar kamar.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya bapaknya sembari menepuk pundaknya.
Ia menghela napasnya kembali dengan tatapan sendu,
"Barusan diskusi sama dokter obgyn sama dokter bedah untuk membahas setiap kemungkinan yang terjadi dan pastinya akan ada pilihan yang diambil kalau keadaan darurat terjadi."
"Apapun itu, pilih istrimu..! Walaupun pasti berat untuk memilih salah satu, tapi bapak ingatkan ke kamu, pilih yang terbaik untuk istrimu apapun yang terjadi..!" pesan bapaknya sambil dengan nada tegas dan tatapan tajam ke arahnya.
Kepalanya pun mengangguk, saat hendak memutar handle pintu, bapaknya kembali berucap.
"Genta, berdoa. Bawa nama Tuhan di setiap langkahmu. Berusaha dan percaya."
Bibirnya tersenyum dan kembali menganggukkan kepalanya.
Waktu sudah menunjukkan jam 8 pagi, artinya waktu operasi istrinya akan segera dilaksanakan. Ia diberi kesempatan untuk mendampingi secara langsung operasi kelahiran anaknya hingga pengangkatan tumor dari rahim Prisha.
Bibirnya mengecup kening Prisha.
"Dalam nama Tuha Yesus ya sayang, semua akan berjalan lancar. I love u.." matanya sudah mulai berkaca-kaca, namun sekuat mungkin ia tahan agar tidak menetes. Istrinya pun tampak tersenyum tipis.
"I love you mas.."
Operasi kelahiran anak mereka berjalan dengan lancar.
Bisma Manggala Daniswara, itulah nama yang mereka pilih untuk putra pertamanya yang terlahir dengan sehat dan selamat tampak sedang mencecap sumber kehidupan dari sang ibu.
Tak henti-hentinya ia mengucapkan syukur sambil memeluk istri dan anaknya.
"Selamat sayang, sudah menjadi ibu. Terimakasih sudah membuatku menjadi seorang bapak." gumamnya lirih.
Tak lama Bisma pun kembali diambil oleh perawat untuk dibersihkan. Waktu yang ditunggu untuk mengambil miom pun akan dilakukan.
"Aku pindah ke sana dulu ya. I'll do our best..!" ucapnya kemudian mengecup kembali kening istrinya.
Prisha akan dibius total, mengingat miom yang ada berukuran hampir sama dengan bayi mereka. Kemungkinan terburuk pun sudah ada di depan mata apabila pendarahan hebat terjadi, entah terpaksa mengangkat rahim bahkan hingga kehilangan nyawa istrinya.
Sudah lebih dari 20 kali ia mengikuti operasi, namun kali ini terasa berbeda, sangat berbeda. Kakinya seakan harus dipaksa kuat berdiri untuk membuka lapis demi lapis perut istrinya.
Di dalam hatinya berjanji, setelah operasi ini selesai, ia berusaha untuk tidak akan membuat istrinya kecewa ataupun sakit hati. Terlalu besar pengorbanan istrinya demi kebahagiaan keluarga kecilnya.
Ia menarik napasnya dalam dan menghembuskannya pelan. Kepalanya mendongak sebentar agar air matanya tidak menetes.
"Are you okay Genta? Ready? In the name of Jesus, do our best!"
Ia pun hanya menjawab dengan anggukkan dengan tangan yang sudah terbuka, siap menerima alat-alat operasi.
......................
__ADS_1