
Battersea, London
Prisha
Setiap malam, Bisma selalu bersama dengannya, selebihnya dari pagi hingga sore dia dan juga mertuanya bergantian mengurus bayi menggemaskan itu. Cucu pertama dari keluarga Ararya dan juga Narendra, pastinya akan diperebutkan oleh para eyang.
Malam ini suaminya sedang jaga malam, berarti ia harus begadang sendirian malam ini. Namun, putranya kali ini tampak tidak bersahabat dengan dirinya.
Bisma hanya mau tidur terlelap dalam gendongannya.
Tingg..tingg..
Mas Sayang ❤
Kalau lapar, tadi kue-kue nya dimakan. Bikin minuman hangat. Semangat sayang. 😘
Bibirnya tersenyum saat membaca pesan dari Genta. Suaminya itu memang sangat perhatian, bahkan rela menemani begadang, padahal besok pagi masih harus praktek.
Apakah memang semua dokter itu kuat untuk masalah begadang? Buktinya ayahnya sendiri pun seperti itu, begadang bukanlah sesuatu hal pantas untuk dipermasalahkan.
Genta
Saat memasuki apartemen mungilnya, ia melihat istrinya duduk dengan mata terpejam dengan Bisma yang ada dalam dekapannya yang juga tampak tertidur pulas.
Ia memilih langsung menuju kamar mandi dulu, baru memegang kedua orang yang sangat ia sayangi.
Ceklek..
"Mas udah lama sampainya? Maaf ya aku nggak dengar." sapa Prisha yang ternyata sudah terbangun dan menghampiri dirinya.
Tangannya masih sibuk dengan handuk untuk mengeringkan rambutnya.
"Nggak apa-apa, barusan kok aku sampai. Capek banget ya sayang?" tanyanya kemudian mengecup kening lalu bibir istrinya.
Prisha pun tampak mengangguk dengan wajah yang cukup lelah. Ia berjalan menghampiri putranya yang sedang tertidur dengan bibir sedikit terbuka yang membuatnya terkekeh.
"Selamat pagi anak bapak. Mas tadi malam minta digendong ibu terus ya? Nanti habis ini sama eyang dulu ya, biar ibu tidur sebentar." gumamnya ke bayi yang pipinya mulai berisi itu.
Wajah Bisma lebih banyak ke Prisha, hanya bibirnya saja yang seperti dirinya. Namun pada dasarnya hidung dan matanya pun sama seperti bentuk milik Prisha.
"Titip ya bu..pak.." tangannya menyerahkan Bisma ke orangtuanya dengan beberapa botol asi beku.
"Iya, udah sana istirahat dulu." bapaknya sudah mengambil alih Bisma dari tangannya dan mencium pipi bayi itu dengan gemas.
Istrinya sudah berbaring di ranjang, tangannya memeluk istrinya seperti biasanya. Mereka selalu menidurkan Bisma di box bayi yang terletak tepat di samping istrinya.
"Kangen..." gumamnya sambil menenggelamkan wajah di lekuk bahu putih Prisha.
Wajah istrinya sudah berubah merona,
"Sabar, masih seminggu lagi." ucap istrinya sambil memutar badan menghadap dirinya.
"Aku berasa nahan seperti jaman pacaran dulu. Udah mau bablas, rem lagi. Udah enak-enaknya, mesti rem lagi."
"Kasihan..tapi mas kuat lho, luar biasa..!" puji istrinya dengan mengulum senyum dan suara setengah mengejek.
"Ya kuat lah, tapi kalau nanti udah buka puasa ya jangan ditanya. Tolong rajin-rajin olahraga dulu ya ibu cantik.." kerlingnya sambil membawa Prisha ke dalam dekapannya dengan gemas.
__ADS_1
"Mas, bapak ibu di sini sebulan lebih nggak apa-apa itu? Bapak nggak kerja?"
Pertanyaan istrinya membuatnya tergelak,
"Siapa bilang bapak nggak kerja? Bapak kerja terus selama di sini. Ya cuma nggambar aja sama memantau kantor, sama meeting juga pakai online."
Bapaknya bukan termasuk orang kantoran yang setiap hari harus ke kantor dan libur di hari weekend. Sejak kecil ia hampir selalu bisa menghabiskan waktu bersama bapaknya setiap hari.
Mau di rumah seharian, seminggu ataupun sebulan lebih, bapaknya selalu bisa berkerja di manapun. Buktinya kepindahan mereka ke Yogya tidak berpengaruh apapun dengan kantor mereka yang ada di Bali. Kantor itu masih berdiri hingga sekarang, bahkan semakin berkembang pesat.
Istrinya pun menganggukkan kepala di dalam dekapannya,
"Pengusaha bisa kerja di mana aja ya, macam aku ini. Cuma bedanya aku ini hanya remahan biskuit, sedangkan mertua saya mah crazy rich Yogya. Mau berbulan-bulan di London, uangnya juga ngalir terus."
Gumaman Prisha membuatnya semakin terbahak.
"Crazy rich apaan, kalau crazy rich mah kamu nggak bakal aku ajak tinggal di apartemen sekecil ini." timpalnya sambil mencubit gemas hidung istrinya.
"Mas itu bukannya nggak bisa ngajak tinggal aku di apartemen yang lebih gede. Tapi ngapain juga habis-habisin uang cuma buat tinggal sementara. Mending buat beli rumah di Indonesia lah."
Dahinya mengernyit,
"Emang kamu mau beli rumah di mana?"
"Lhah, mas itu besok rencana mau praktek di mana kalau pas pulang? Mau di Yogya atau di mana?"
"Penginku sih tetap di Yogya, tapi aku nggak mau di rumah sakit ayah. Kalau tempat Om Ardhana sih oke, masih nggak masalah. Tapi kalau tempat ayah aku nggak mau." jelasnya yang membuat Prisha tersenyum.
Beberapa hari lalu, ayahnya sudah menawarkan dirinya untuk bergabung ke rumah sakit itu saat ia pulang. Namun ia masih belum memberi jawaban apapun. Sejujurnya ia paling tidak bisa berdiri dengan nama orang di belakangnya, walaupun itu adalah hal yang sangat menguntungkan dirinya sebagai dokter.
Punya mertua dokter dan bapak yang juga memiliki link di berbagai penjuru, serta om yang juga berprofesi sama adalah hal mulus untuk profesinya. Namun bagiamanpun ia selalu berusaha sendiri dengan kemampuannya, bukankah ia juga bisa melewati semuanya dari awal dengan berusaha sendiri?
Ucapan Prisha membuatnya mengulum senyum dan melirik penuh arti,
"Anak-anak? Ibu cantik ini emang mau punya berapa anak?"
"Terserah bapaknya maunya berapa.." bisik Prisha di telinganya yang membuat dirinya menerbitkan senyum penuh arti ke istri cantiknya itu.
Seminggu Kemudian..
Clara
"Kalian nggak pengin pergi berdua atau ngapain kek berduaan gitu?" tanyanya ke putranya dan juga menantunya yang tengah lahap menikmati masakan buatannya.
Mereka langsung menatap dirinya sambil mengernyitkan dahi.
"Emang kenapa bu?" tanya menantunya dengan tatapan bingung.
Sedetik kemudian ia malah terkekeh menatap ekspresi anak-anaknya,
"Ya kalian itu, nggak pengin berduaan? Mumpung bapak ibu masih di sini. Pergi berdua sana, kencan gitu."
"Kencan, habis itu ngapain cari yang enak-enak." imbuh suaminya sambil mengedipkan salah satu mata ke putranya.
Genta
Sepulang dari jalan dan makan di luar, mereka langsung menuju apartemen.
__ADS_1
"Mas, kita nggak ambil Bisma dulu aja?" tanya istrinya sembari mengikuti langkahnya masuk ke apartemen mereka.
"Kita ambil Bisma, tapi setelah urusan kita berdua selesai." gumamnya dengan tangan yang telah melingkar di pinggang istrinya dan mengecup tengkuk istrinya.
Prisha memutar badan menatapnya dan mengalungkan tangan ke lehernya.
"Tapi aku mau pompa asi dulu, udah rembes ini. Mas mandi dulu ya.." ucap istrinya lembut kemudian mengecup bibirnya.
"Pakai warna merah ya.." bisiknya ke telinga Prisha sebelum masuk ke kamar mandi.
Saat ini istrinya sudah berada di dalam pelukannya dan sudah sesuai dengan apa yang ia minta.
"Cantiknya ibu satu ini.."
"Ihh mas, tapi perut aku udah makin nggak mulus lho mas, jahitannya udah numpuk-numpuk.." gumam istrinya sambil bersandar pada dadanya.
Bagaimana akan mulus? Bekas jahitan Prisha semasa remaja, ditambah luka saat kecelakaan dulu, lalu sayatan melahirkan. Lengkap bukan?
"Dua kali aku yang jahit luka kamu, nggak perlu kamu kasih tahu pun aku udah lihat sendiri. Mau mulus apa nggak,itu nggak penting. Bagi mas, kamu udah bisa selamat itu udah luar biasa."
Seandainya wanita itu tahu betapa lemas kakinya saat dia disuruh memilih Prisha atau Bisma? Dan ternyata masih berlanjut saat dia disuruh memilih nyawa atau angkat rahim?
Pilihan-pilihan tergila baginya selama hidupnya. Biasanya ia yang memberi pilihan, namun waktu itu seakan dunia memutar balikkan semuanya dalam hitungan detik.
"Makasih ya mas buat semuanya." Prisha menatap matanya dan mengecup bibirnya.
"Tapi jangan dijadiin ya. Aku nggak pakai KB." gumam istrinya lagi sambil terkekeh yang sontak membuatnya ikut tertawa.
"Tenang, aku nggak mau resiko. Tolong ya nanti.." ia mulai menyatukan wajah mereka dan memberikan pengaman itu ke dalam genggaman istrinya.
Istrinya sudah melenguh dan mendesah yang membuatnya semakin memanas. Kobaran hasrat yang tertahan selama istrinya hamil akhirnya tersampaikan.
Sore ini tampak bukan hanya dirinya yang menyimpan gelora itu, istrinya pun tampak memanas dengan gairah yang memuncak.
"Maaassss....."
"Aaghhh...."
Badannya langsung ambruk di atas istrinya, peluh sudah membasahi tubuh mereka. Bibirnya masih menyapu leher mulus istrinya. Kemudian ia bangkit dan menarik selimut.
"Makasih sayang..kamu luar biasa.." bibirnya tersenyum lalu mengecup kening istrinya yang masih berkeringat.
Entah sudah lama tidak melakukannya atau memang hari ini isttinya memberikan yang di luar pemikirannya? Entahlah, yang hanya ia rasakan Prisha memberikan sesuatu hal yang jauh dari apa yang ia bayangkan.
"Mas suka?"
"Suka dong. Udah jangan mancing gitu mukanya, kalau lanjut lagi, ambil Bisma besok pagi lho ini." timpalnya yang membuat istrinya tergelak.
Setelah melewati sore hingga menjelang malam yang luar biasa bersama istrinya, mereka sudah berdiri di depan pintu kamar orangtuanya.
Ceklek..
Pintu itu terbuka, namun mereka berdua langsung mengernyitkan dahi saat melihat siapa yang membuka pintu.
Matanya kembali menatap nomor apartemen yang tertempel di tembok. Tidak ada yang salah, ini benar kamar orangtuanya. Tapi dia siapa?
Matanya kembali beradu pandang dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal.
__ADS_1
"Kamu siapa?"
......................